Terima Pengaduan Warga Desa Fatuoin, Kajari TTU Terbitkan Sprinlid | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Terima Pengaduan Warga Desa Fatuoin, Kajari TTU Terbitkan Sprinlid


DIALOG. Warga Desa Fatuoin, Kecamatan Insana saat berdialog dengan Kajari TTU, Roberth Jimy Lambila (kedua kiri) di aula Kantor Kajari TTU, Selasa (2/3). Kajari didampingi Kasi Intel, Benfrid C. Foeh. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Terima Pengaduan Warga Desa Fatuoin, Kajari TTU Terbitkan Sprinlid


Terkait Dugaan Korupsi Program Berarti di Kecamatan Insana

KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Puluhan warga Desa Fatuoin, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Timor Tengah Utara (Kejari TTU). Mereka melaporkan adanya dugaan korupsi pelaksanaan program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (Berarti) di Desa setempat.

Kedatangan warga masyarakat itu disambut langsung Kepala Kejari TTU, Roberth Jimy Lambila didampingi Kasi Intel, Benfrid C. Foeh. Warga ini diterima di aula Kajari TTU, Selasa (2/3).

Sesuai data yang dihimpun Timor Express, terdapat sebanyak 112 unit bantuan rumah stimulan dari program Berarti di Desa Fatuoin, Kecamatan Insana. Dari jumlah tersebut, 111 Rumah dibangun di wilayah desa setempat sedangkan satu unit rumah lainnya dibangun di wilayah Desa Nunmafo, Kecamatan Insana.

Dalam pertemuan tersebut, Yulius Beli, warga Desa Fatuoin, Kecamatan Insana menyampaikan pihaknya mengalami Kekurangan bahan bangunan untuk menyelesaikan pembangunan rumah secara stimulan melalui program Berarti.

Kekurangan tersebut terdapat pada jenis bahan bangunan yang ditanggulangi melalui anggaran yang disediakan oleh Pemkab melalui APBD TTU tahun anggaran 2020. Sedangkan untuk bahan swadaya dari sasaran penerima telah lengkap digunakan.

“Saya punya Kekurangan itu, Semen 10 zak dan paku 7cm sebanuak 1Kg. Karena semen yang saya usulkan itu 115 Sak namun yang didatangkan hanya 100 Sak saja,” ungkap Yulius.

Yulius menambahkan, kekurangan bahan bangunan tersebut mengakibatkan dirinya kesulitan merampungkan bangunan rumah miliknya yang telah dikerjakan.

Untuk itu, Yulius bersama masyarakat Desa Fatuoin mendatangi kantor Kejari TTU guna mengadukan persoalan ini dengan harapan dapat ditindaklanjuti secara hukum.

“Kekurangan bahan bangunan ini hampir seluruh rumah bantuan di Desa Fatuoin. Semua mengalami hal yang sama sehingga kami kesulitan untuk mengerjakan rumah ini sampai selesai. Karena itu, kami melaporkan persoalan ini kepada Kejaksaan untuk ditindaklanjuti secara hukum,” ungkapnya.

Yulius menyebutkan, pihaknya telah berulang kali mendatangi pemerintah desa dan ketua kelompok untuk mempertanyakan kekurangan bahan bangunan tersebut, namun tak kunjung mendapat jawaban.

Bahkan, ketika ditanya berulangkali jawabannya bahan bangunan telah habis terpakai dan tidak ada sisa. Sehingga untuk kekurangan itu ditanggulangi oleh masing-masing penerimaan manfaat. “Saat tanya ke Pemerintah Desa mereka jawab material sisa sudah habis,” jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan Nikolaus Un, warga Desa Fatuoin. Ia menilai, pelaksanaan program Berarti di Desa Fatuoin, Kecamatan Insana syarat korupsi.

Pasalnya, proyek yang dilaksanakan tahun 2018 lalu hingga kini belum rampung. Padahal, sesuai laporan Pemerintah Desa, pelaksanaan program Berarti sudah diserahterimakan dari pihak ketiga ke pihak Pemerintah Desa.

“Fisik pekerjaan belum selesai tapi sudah serah terima. Padahal, ini kegiatan dari tahun 2018 yang sampai dengan sekarang belum rampung dikerjakan,” ujarnya.

Sementara, Kajari TTU, Roberth Jimy Lambila mengatakan, pihaknya telah menerima laporan pengaduan masyarakat Desa Fatuoin, dan akan menindaklanjuti laporan pengaduan tersebut.

Roberth mengaku akan melakukan penyelidikan awal guna memastikan apakah ada peristiwa tindak pidana dalam kegiatan tersebut atau tidak. “Kita sudah terima laporan dari masyarakat. Kita akan lakukan telaah untuk lakukan penyelidikan awal apakah adanya indikasi dugaan tindak pidana ataukah tidak,” ungkap Roberth.

Roberth menambahkan, pihaknya telah menerbitkan surat perintah penyelidikan (Sprinlid) untuk menyelidiki apakah ada dugaan tindak pidana korupsi pelaksanaan program Berarti di Desa Fatuoin.

Untuk itu, kata Roberth, pihaknya telah menjadwalkan untuk melakukan pemanggilan terhadap para pihak yang memiliki keterlibatan dan peranan penting dalam kegiatan tersebut. “Saya sudah teken sprinlid. Minggu depan kita sudah panggil para pihak untuk mintai keterangan,” jelasnya. (mg26)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top