Indonesia Masih Berkutat pada BBM EURO 2 Sejak Tahun 2000 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Indonesia Masih Berkutat pada BBM EURO 2 Sejak Tahun 2000


ILUSTRASI. Sebuah SPBU di SoE, TTS. Konsumsi BBM dengan RON terrendah 88, yakni Premium masih menjadi buruan para konsumen di Indonesia, salah satunya di NTT. (FOTO: MARTHEN BANA/TIMEX)

BISNIS

Indonesia Masih Berkutat pada BBM EURO 2 Sejak Tahun 2000


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Bahan bakar minyak (BBM) berkualitas tidak hanya berpengaruh pada performa kendaraan. Tetapi juga punya dampak positif terhadap lingkungan. Ada dua cara untuk menentukan apakah BBM itu berkualitas atau tidak. Berpegang pada angka Research Octane Number (RON) untuk bahan bakar gasoline atau bensin dan Cetane Number (CN) untuk gasoil atau disel.

Cara yang kedua, dengan melihat kandungan sulfur dalam emisi gas buang yang dihasilkan dari BBM saat dipakai oleh kendaraan. Di Indonesia, problem BBM berkualitas ada pada produk dengan angka RON atau CN rendah. Itu berarti, tidak sesuai dengan standar EURO.

“Tetangga kita Myanmar, hanya ada tiga produk BBM dengan RON terendah 91. Vietnam hanya dua produk BBM dengan RON terendah 92. Sedangkan di Indonesia, ada enam produk dengan RON terendah 88 yakni Premium,” ujar Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa dalam keterangan persnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, selain terlalu banyak, standar RON di Indonesia juga tidak sesuai standar EURO 4 yang menyatakan minimal RON 91. Selain itu, produk yang banyak juga memunculkan variasi harga yang signifikan, sehingga tanpa edukasi yang tepat dan berkelanjutan, masyarakat akan lebih memilih produk dengan harga yang paling murah.

“Masyarakat hanya melihat harga saat ini. Padahal masyarakat perlu melihat menggunakan BBM yang sesuai spesifikasi mesin, dapat mengefektifkan kerja mesin sehingga menjadi lebih hemat. Belum lagi, mesin akan terawat dan terhindar dari kerusakan yang akhirnya menjadi biaya atau harga yang mungkin lebih mahal di kemudian hari,” tambahnya.

Manfaat lain menggunakan BBM berkualitas adalah ramah lingkungan. Masih mengacu pada standar EURO 4 yang berlaku, BBM ramah lingkungan adalah BBM yang memiliki kandungan sulfur maksimal sebesar 50 parts per million (ppm) dalam emisi gas buangnya.

Direktur Pengendalian dan Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, Dasrul Chaniago mengatakan, kualitas BBM ini sangat berpengaruh terhadap kualitas udara di kota-kota besar di Indonesia.

“Sekitar 70 persen sampai 75 persen sumber pencemaran udara di kota besar, kita ambil Jakarta, bersumber dari sektor transportasi. Yakni dari emisi gas buang yang dihasilkan. Coba kita mundur kembali pada awal pandemi Covid-19, terlihat kualitas udara Jakarta membaik, langitnya biru, itu disebabkan oleh berkurangnya mobilitas masyarakat yang menggunakan kendaraan,” kata Dasrul.

Sama seperti RON, kandungan sulfur BBM yang ada di Indonesia saat ini masih belum memenuhi standar EURO 4, hanya Pertamax Turbo (RON 98) yang setara standar tersebut. Produk seperti Premium dengan kualitas terendah lanjut Dasrul, mungkin hanya memenuhi standar EURO 2 dengan kandungan sulfur berada di 500 ppm.

“Lagi-lagi, kita tertinggal dari negara tetangga. Filipina, Vietnam, dan Thailand sudah menggunakan produk setara EURO 4, bahkan Thailand pada 2023 akan mulai mengarah ke EURO 5. Di Asia Tenggara Singapura sudah paling maju sejak tahun 2017 sudah sesuai dengan standar EURO 6, sama seperti negara-negara maju di Eropa. Indonesia, sejak 2000 masih berkutat rata-rata di EURO 2,” jelas Dasril.

Setuju dengan Fabby, Dasrul juga mendukung sinergi antara pemerintah, instansi, dan Pertamina sebagai BUMN untuk mendorong penggunaan BBM berkualitas yang ramah lingkungan. Menurutnya, edukasi harus dilakukan berkelanjutan sekaligus memastikan ketersediaan produk dan kekuatan ekonomi masyarakat agar produk BBM berkualitas yang ramah lingkungan ini dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.

“Kita harus mulai beralih, melakukan lompatan besar untuk menggunakan BBM berkualitas, butuh waktu, tapi harus dimulai. Harus mulai juga kita pikirkan ‘biaya’ besar yang harus dibayar, misalkan penyakit ISPA karena kualitas udara yang buruk, biaya perawatan mesin itu semua harus dipikirkan. Saya rasa jika berkomitmen, bersama-sama kita bisa melakukan ini sekaligus berkontribusi terhadap cita-cita Indonesia dalam Paris Protocol di tahun 2015, yakni mengurangi emisi karbon hingga 29% pada tahun 2030,” pungkas Dasrul.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), Putut Andriatno mengatakan bahwa Pertamina saat ini terus mengedukasi penggunaan BBM berkualitas kepada masyarakat dan turut berkontribusi untuk mengurangi pencemaran udara melalui Program Langit Biru (PLB).

“Jadi, PLB ini adalah edukasi melalui promosi, penawaran Pertalite dengan harga khusus bagi segmen tertentu. Harapannya, pengguna Premium akan merasakan sendiri dan mendapatkan pengalaman langsung manfaat menggunakan BBM berkualitas sehingga menumbuhkan kesadaran di masyarakat untuk beralih,” imbuh Putut. (jpc/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top