Banjir Terjang 4 Desa Dalam Sehari, Kerugian Capai Miliaran Rupiah | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Banjir Terjang 4 Desa Dalam Sehari, Kerugian Capai Miliaran Rupiah


JEBOL. Tanggul Embung Busaleten, di Desa Helebeik yang rusak atau jobol karena tak mampu menampung debit air yang banyak akibat curah hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari lalu. (FOTO: Istimewa)

PERISTIWA/CRIME

Banjir Terjang 4 Desa Dalam Sehari, Kerugian Capai Miliaran Rupiah


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Empat desa di Kecamatan Lobalain, diterjang banjir dalam sehari, pada Rabu (9/3). Selain merusak lahan pertanian yang siap panen, juga merusak infrastruktur pertanian, dan infrastruktur lainnya. Kerugian akibat bencana ini ditaksasi mencapai miliaran rupiah.

Banjir yang melanda empat desa itu akibat tingginya curah hujan yang terjadi selama dua hari berturut-turut, pada Selasa (8/3) hingga Rabu (9/3). Empat desa yang diterjang banjir yakni, Desa Suelain, Helebeik, Kuli, dan Kuli Aisele.

Sarana pertanian dan lahan sawah rusak, sehingga padi yang siap dipanen petani pun ikut rusak akibat terendam banjir. Begitu pula infrastruktur jalan, dan rumah-rumah warga juga terdampak bencana tersebut.

“Kami sudah ke semua lokasi kejadian untuk mendata kerusakan yang terjadi. Hasil kajian yang diperoleh juga telah dilaporkan,” kata Diksel Haning, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rote Ndao, saat dikonfirmasi TIMEX, Jumat (12/3).

Diksel  mengatakan, hal itu dilakukan pihaknya setelah menerima laporan masyarakat. Kerusakan yang didata pihaknya, lanjut Diksel, adalah dampak setelah hujan. Yang menurutnya, dari intensitas hujan yang tinggi selama dua hari berturut-turut, sehingga menimbulkan luapan air ke daerah-daerah yang lebih rendah.

Adapun daerah aliran air, kata Diksel, melalui kali-kali kecil, yang bermuara langsung pada infrastruktur pertanian, yakni embung Busalaten, Dusun Oeteas 3, Desa Helebeik. Karena tak mampu menampung debit air yang sangat banyak, embung tersebut akhirnya jebol.

Bahkan, sarana infrastruktur seperti tembok penahan tanah (TPT) yang terbangun di dekat daerah aliran, patah akibat longsor. Patahan bangunan ini terjadi di Desa Suelain, dengan kerusakan sepanjang 21 meter, dan tinggi 10 meter. Akibatnya, material berupa sedimen tanah dan batu, menumpuk di dalam sawah milik petani.

“Dampaknya sangat banyak, mulai dari embung yang jebol, longsor pada TPT, banjir juga merendam lahan pertanian warga dan merusak satu rumah warga di Desa Kuli Aisele,” ungkap Diksel.

Terkait jebolnya embung, Diksel mengatakan, infrastruktur tersebut dibangun tahun 2017 silam melalui APBD Rote Ndao. Embung itu digunakan petani untuk mengairi sawahnya di kompleks persawahan Desa Helebeik.

BACA JUGA: Lagi, Banjir Rendam Sawah di Rote Ndao, Petani Rugi Ratusan Juta Rupiah

Diksel, kemudian merinci data dan jumlah kerusakan yang telah dikantongi pihaknya. Data tersebut menurutnya, merupakan data hasil kaji cepat yang dilakuknya untuk mersepon setiap kejadian yang terjadi. Khusus untuk keempat desa yang terdampak banjir, Desa Kuli Aisele merupakan daerah paling banyak terkena dampak, khususnya 51 warga setempat. Dari jumlah ini, sebanyak 43 pemilik sawah tak bisa memanen hasil pertaniannya akibat tanamannya tergenang banjir. Selain itu ada 2 pemilik kebun, dan 6 unit rumah warga ikut terendam banjir.

Kerusakan rumah, kata Diksel, hanya berupa perabot, dan satu diantaranya, pada bagian tembok rumah berukuran 5 x 10 roboh. Rumah tersebut milik Gerson Huan, warga Dusun Gaya Baru, Desa Kuli Aisele.

Selanjutnya, di Desa Kuli, BPBD mendata 42 petani bakal mengalami gagal panen akibat banjir merusak lahan pertanianya. Jumlah ini terdiri dari 35 petani sawah di kompleks persawahan Tualae, dan 6 orang petani di kompleks Limbadae, serta satu pekebun.

Di Desa Suelain, kerusakan berupa ambruknya TPT pada ruas jalan Lekunik-Limbalain. Kerusakan yang didata sepanjang 20 meter, dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter. Ambruknya TPT ini mengakibatkan penumpukan material berupa batu dan sedimen tanah di dua lahan sawah dalam kompleks persawahan Mbaioen.

Sedangkan kerusakan Embung Busaleten, terjadi pada bagian tanggul, sepanjang 25 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 13 meter. Kondisi ini langsung menghalangi area tangkapan untuk masuk di embung tersebut.

Dari kejadian tersebut, melalui hasil kaji cepat yang dilakukan oleh BPBD, diperkirakan nilai kerugian mencapai Rp 3.030.100.000. Rinciannya mulai dari biaya perbaikan infrastruktur tanggul Embung Busalaten, Rp 350.000.000, TPT Lekunik-Limbalain Rp 35.000.000, bahu jalan Kuli-Kuli Asele Rp 10.000.000, dan biaya normalisasi aliran kali Kuli Rp. 2.500.000.000.

Untuk kerusakan pada lahan pertanian, secara keseluruhan kerugian yang dilami petani ditaksir sebesar Rp 130.100.000. Sedangkan Rp 5.000.000, kerugian dialami oleh pemilik rumah roboh.

“Kami sudah mendata semua kerusakan, dan selanjutnya akan dilakukan pengkajian oleh tim teknis dari Dinas Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Rote Ndao untuk menghitung kembali kerugian yang terjadi,” ungkapnya. (mg32)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top