Langgar Pasal Ini dalam UU Tipikor, 3 Tersangka Terancam 20 Tahun Penjara | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Langgar Pasal Ini dalam UU Tipikor, 3 Tersangka Terancam 20 Tahun Penjara


MENUJU TAHANAN. Tiga tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan Alkes di RSUD Kefamenanu tahun 2015 saat digiring penyidik Kejari TTU menuju mobil tahanan untuk ditahan di sel Tahanan Mapolres TTU, Senin (15/3) malam. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Langgar Pasal Ini dalam UU Tipikor, 3 Tersangka Terancam 20 Tahun Penjara


Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes di RSUD Kefamenanu

KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Timor Tengah Utara (TTU) telah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) proyek pengadaan alat kesehatan (Alkes) di RSUD Kefamenanu tahun anggaran 2015.

Ketiga tersangka tersebut, yakni Yoksan M. D. E Bureni selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Meiqiel E. Selan sebagai Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP), Direktur CV Berkat Ilahi, Ongky J. Manafe.

Penyidik Kejari TTU menetapkan status tersangka kepada tiga orang tersebut karena disangka melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam pasal 2 dan 3 Undang Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana yang diubah dalam Undang Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Ancaman hukuman untuk pasal 2 minimal 4 tahun, dan maksimal 20 tahun penjara. Sementara untuk pasal 3 minimal 1 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

“Untuk tiga tersangka yang sudah dilakukan penahanan oleh tim penyidik Kejari TTU itu dijerat pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 ayat 1 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun,” ungkap Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) TTU, Roberth Jimmy Lambila saat dikonfirmasi Timor Express, Selasa (16/3).

Roberth menjelaskan, pada 2015, RSUD Kefamenanu melaksanakan kegiatan pengadaan alat kesehatan. Tujuh paket yang dilelang dalam pelaksanaan tersebut dimenangkan oleh tiga perusahaan/kontraktor. Salah satu paketnya adalah pengadaan alat-alat kesehatan non e-katalog dengan nilai kontrak Rp 1.462.000.000, yang dimenangkan CV. Berkat Mandiri milik Ongky J. Manafe.

Dari nilai paket kontrak tersebut, kata Roberth, ada item kegiatan yang tidak dilaksanakan, yaitu pengadaan dua unit Blood Bank Refrigerator dengan total nilai kontrak untuk dua item barang tersebut sebesar Rp 425.000.000.

Menurut Roberth, hal tersebut sangat menggangu pelayanan kesehatan di RSUD Kefamenanu sejak tahun 2015. Dengan tidak diadakannya barang tersebut, sementara uang sudah diambil, membuat pelayanan di RSUD Kefamenanu berjalan tidak sesuai harapan.

BACA JUGA: Tiga Pekan Bertugas, Kajari TTU Tetapkan 3 Tersangka

Untuk itu, lanjut Roberth, saat ini tim penyidik Kejari TTU tengah merampungkan berkas perkara bagi ketiga tersangka yang telah ditahan itu untuk dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Kupang sehingga bisa segera disidangkan.

“Ketiga tersangka dititipkan di tahanan Polres TTU. Penahanan dilakukan untuk 20 hari mendatang. Saya bersama tim penyidik merencanakan sebelum bulan April atau dalam bulan ini kami akan melimpahkan perkara tersebut ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Kupang,” ungkap Roberth.

Sebelumnya, Kajari TTU, Roberth Jimmy Lambila kepada Timor Express, Senin (15/3) mengatakan, tim penyidik Kejari TTU telah merampungkan penyidikan atas kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan Alkes di RSUD Kefamenanu tahun 2015 lalu.

Dari hasil penyidikan tersebut, tim penyidik menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Mereka diduga kuat memiliki peranan penting dalam proyek pengadaan Alkes yang diduga merugikan negara miliaran rupiah.

“Ketiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka ini langsung diikuti dengan penahanan dengan dititipkan di sel tahanan Mapolres TTU,” kata Roberth.

Roberth menyebutkan, pada 2015 lalu, RSUD Kefamenanu melaksanakan kegiatan pengadaan Alkes sebanyak dua unit dengan total nilai kontrak Rp 400,425 juta.

Sayangnya, pengadaan dua unit alkes jenis Blood Bank Refrigerator tersebut tidak sesuai perencanaan sehingga tidak digunakan sama sekali oleh pihak RSUD Kefamenanu. Hal inilah yang menjadi pemicu adanya kerugian negara dalam kegiatan pengadaan itu. (mg26)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top