Terhitung Hari Ini, Suku Bunga Kredit Bank NTT Turun Fantastis | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Terhitung Hari Ini, Suku Bunga Kredit Bank NTT Turun Fantastis


BERI KETERANGAN. Dirut Bank NTT, Harry Alex Riwu Kaho (kedua kanan), saat memberi keterangan pers, didampingi Direktur Umum Yohanis Umbu Praing, Direktur Kepatuhan Hilarius Minggu dan Direktur Pemasaran Kredit P. Stefen Messakh (kanan).

Advetorial

Terhitung Hari Ini, Suku Bunga Kredit Bank NTT Turun Fantastis


Dirut Alex: Apresiasi Yang Tinggi Kepada Para ASN dan yang Sudah Jalani Masa Kredit 50 persen, Bisa Nikmati Penurunan Bunga Kredit

RABU 17 Maret 2021 hari ini, Bank NTT yang adalah bank kebanggaan masyarakat NTT, kembali mengambil sebuah langkah strategis dan spektakuler untuk meringankan beban masyarakat. Bagaimana tidak, dalam rapat ALCO (Asset, Liabily, Committee) yang berlangsung di lantai 4 kantor pusat Bank NTT, 9 Maret lalu, manajemen memutuskan untuk menurunkan suku bunga kredit.

Tak mau berlama-lama, beberapa saat seusai rapat, Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho, memimpin seluruh direksi dan pimpinan divisi untuk menggelar pertemuan dengan pers. Satu tujuannya, agar kabar gembira ini harus segera tiba di masyarakat. Hadir Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu, Direktur Pemasaran Kredit, Paulus Stefen Messakh, serta Direktur Umum, Johanis Umbu Praing.

“Sesuai hasil rapat ALCO, kami memutuskan penurunan suku bunga kredit Bank NTT terhitung 17 Maret. Saya rincikan, suku bunga kredit konsumsi turun dari 14 persen menjadi 10 persen. Ini berlaku untuk ekspansi debitur baru dan debitur existing yang baki debet kurang dari 50 persen serta debitur existing yang jangka waktu kreditnya sudah berjalan separuh waktu atau 50 persen jangka waktu pinjaman,”tegas Harry Alexander Riwu Kaho saat konferensi pers.

Untuk diketahui bahwa di masa pandemi Covid ini kebijakan-kebijakan dari regulator dan pengawas muncul dan sebagai respon cepat guna memulihkan stabilitas perekonomian negara dan mengembalikan semangat usaha para pelaku usaha Bank Indonesia mengambil langkah menurunkan BI Repo Rate. Usaha BI menurunkan BI Repo Rate sebesar (BI-7DRRR) 25 bps menjadi 3,50 persen dinilai baik untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dalam dunia usaha. Masih dalam release Bank NTT yang dibagikan kepada media mitra, disebutkan bahwa Bank Pembangunan Daerah (Bank NTT) yang juga sebagai kas daerah dan motor penggerak ekonomi di daerahnya juga berupaya dan menguatkan perekonomian daerah dengan merangsang para pelaku usaha baik dari sektor industry berskala besar, kecil maupun mikro dengan menurunkan suku bunga dasar kredit untuk segala segmen.

“Terkait penurunan suku bunga kredit ini, kami harapkan rekan-rekan media untuk menyebarluaskannya ke seluruh masyarakat untuk silahkan memanfaatkan kesempatan ini,”ujar Alex sembari memberi apresiasi yang tinggi kepada para ASN, karena kinerja keuangan Bank NTT ditopang oleh ASN. Sehingga sebagai bukti atas apresiasi itu, maka Bank NTT menyiapkan fasilitas kredit untuk mengantisipasi kebutuhan investasi SDM oleh ASN terhadap anak-anak dan keluarganya. Agar anak-anak ASN bisa mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Sehingga penurunan bunga sebesar 400 basis poin dari 14 persen menjadi 10 persen ini, salah satu bentuk penghormatan tertinggi bagi Bank NTT kepada para ASN. Terutama kepada ASN-ASN yang belum bergabung dengan Bank NTT , atau ASN yang sudah menjalani masa kredit 50 persen, sudah bisa mengikuti program ini. Tidak hanya itu, melainkan untuk mendorong, memberikan kemudahan akses dan literasi yang baik dengan pengguna jasa maka Bank NTT pun memberikan diskon beberapa biaya.”

Dirut Alex merincikan beberapa biaya, yang sebelumnya ada namun akhirnya digratiskan. Seperti biaya cetak rekening koran dari pemerintah serta para agen Bank NTT dimana saja yakni member Di@ BISA, tidak dikenakan biaya. Biaya hanya dikenakan kepada badan hukum dan swasta, yakni hanya sebesar Rp 3.000 saja.

Sementara terkait dengan diberlakukannya undang-undang untuk biaya materai rekening koran, maka bagi pemerintah, agen Bank NTT serta badan hukum dan swasta yang mempunyai saldo akhir kurang dari Rp 5 juta, tidak dikenakan biaya rekening, atau gratis. Sedangkan pungutan senilai Rp 10.000 baru akan ditarik dari nasabah baik itu agen Bank NTT serta badan hukum dan swasta jika saldo akhir rekeningnya sama atau diatas Rp 5 juta.

Sedangkan untuk biaya buku cek/bilyet giro (baru/hilang/rusak) tidak dikenakan kepada rekening pemerintah, sedangkan kepada badan hukum dan swasta dikenakan sebesar Rp 50.000. “Ini dikenakan biaya, namun jika dilihat dari kompetitor, maka masih tergolong rendah. Inilah langkah-langkah strategis yang diambil oleh Bank NTT. Sehingga diharapkan dengan kebijakan ini, peran dan kontribusi Bank NTT dalam membangun ekonomi masyarakat NTT tercinta lebih nyata. Juga menjawab tuntutan masyarakat terhadap dampak Pandemi Covid,”tegas Alex.

Dengan adanya penurunan suku bunga kredit ini, tentu banyak pihak bertanya-tanya. Apakah Bank NTT tidak mempertimbangkan aspek lain, misalnya keberlangsungan operasionalnya, karena penurunannya sangat jauh. Menjawab pertanyaan itu, Dirut Alex menegaskan bahwa “Dari data-data kinerja keuangan, di kala kondisi berbanding terbalik dengan kondisi di beberapa daerah maupun nasional. Dari angka pertumbuhan nasional, kontraksinya negatif.

Tetapi tingkat penyaluran kredit di NTT itu bertumbuh positif, 5,4 %. Pertumbuhan Rp 600-700 M itu terjadi di kala situasi yang terbatas, dan sulit. Kami pertama targetnya, hanya maksimum 4 % tetapi dengan beberapa potensi yang kami kembangkan,”ujar Alex. Tak hanya itu, melainkan ada catatan penting dari berbagai kemitraan yang dibangun termasuk dana PEN (Pemulihan Ekonomi Negara) yang disediakan oleh pemerintah, Bank NTT dipercaya menyalurkan Rp 100 M, dan ternyata realisasinya, 200 %.

“Bahkan mencapai Rp 211 M, dengan total debitur kurang lebih 1700 debitur. Nah, mencermati keadaan ini, dan juga pergerakan-pergerakan stabilitas ekonomi yang terjadi di NTT dimana tidak sebanding beberapa provinsi, maka setelah menjalani triwulan pertama dengan kinerja keuangan, di awal Maret, sudah terkumpul Rp 74 miliar. Dengan beberapa potensi yang sudah kita maping. Kita belajar dari berbagai proses, termasuk komunikasi dengan OJK dan berbagai pihak.” Diperjelas Alex bahwa, Bank NTT menyalurkan kredit by name, by adress, by plafond, by sector. Karena data ini sudah dimiliki, maka dengan mudah mereka memetakan potensi mana yang akan digarap.

“Namun untuk merangsang pertumbuhan ini membaik, maka kita harus punya beberapa strategi sebagai stimulus. Keringanan-keringanannya. Oleh karena itu dengan menurunkan suku bunga kredit, juga menyesuaikan indikator suku bunga acuan oleh BI, maka sebagai apresiasi atas loyalitas semua nasabah di Bank NTT yang didominasi oleh ASN, maka dengan melihat potensi yang ada, kita menurunkan bunga kredit, 400 basis point. 14 persen menjadi 10 persen. Kiranya ini menjadi satu langkah baik. Tentu ini mitigasi resikonya juga menjadi bagian dari kajian-kajian yang kita lakukan dan optimisme bahwa dengan menurunkan ini akan mampu merangsang ekonomi di NTT menjadi kekuatan tersendiri.” Alex menegaskan, dalam kesempatan penurunan suku bunga ini, ada satu Pemda yang akan menikmatinya. Yakni Pemerintah Kabupaten Ende. Suku bunga pinjaman untuk Pemkab Ende turun sebesar 7.50 %. “Kita berharap agar dengan penurunan suku bunga ini, maka penawaran kita yang diajukan oleh Pak Dirpem Kredit ke sejumlah Pemda segera direspon. Mudah-mudahan ini menjadi titik masuk Bank NTT ke beberapa daerah, termasuk sembilan daerah yang memiliki pemimpin baru,”tambah Alex.

Hal senada ditambahkan oleh Direktur Pemasaran Kredit, Paulus Stefen Messakh. Dalam kesempatan itu, Stefen menegaskan bahwa “Terkait optimisme, saya katakan bahwa kita sangatlah optimis dengan menurunkan suku bunga kredit. Sehingga tadi disampaikan Pak Dirut, bahwa kita ambil keputusan setelah melalui berbagai kajian. Kami mencatat, bahwa yang menyebabkan tingginya pertumbuhan pada sektor ekonomi adalah sektor konsumsi. Ada belanja pemerintah, investasi, eksport impor t dan sebagainya namun yang dominan adalah sektor konsumsi. Nah kita melihat pangsa pasar ini, sehingga ketika kita rapat ALCO, dengan melihat adanya kebijakan BI, maka Bank NTT ikut mensupport pertumbuhan ekonomi di NTT.”

Masih dikatakan Stefen, dengan kebijakan makroprudensial itu, Bank NTT memberikan stimulus penurunan suku bunga 400 basis point dengan sikap optimis. Karena bagi dia, dengan penurunan ini, menjadi sebuah hal yang luar biasa bagi pembangunan di NTT. “Juga terkait kerjasama dengan Pemda, tentu kami berharap bahwa pinjaman daerah ini dapat memberikan akselerasi pembangunan di NTT. Semua daerah kita sudah bersurat dan menawarkan pinjaman daerah kepada mereka. Kita berharap, surat kita direspon secara baik.”

Sementara Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu, melihat bahwa kebijakan ini akan berdampak besar pada tingginya animo masyarakat ke bank. “Dengan penurunan suku bunga ini, nasabah yang datang tentunya akan semakin banyak. Saya sebagai Direktur Kepatuhan, dengan staf saya, tetap akan memberikan masukan-masukan, mitigasi-mitigasi sehingga tidak tekesan kita obral kredit melainkan terus melakukan  proteksi. Saya punya staf di seluruh cabang dan akan kami maksimalkan kelayakan tiap pinjaman.” Hal senada dipertegas Direktur Umum, Johanis Umbu Praing. “Kebijakan ini kami harapkan memberi keuntungan bagi masyarakat khususnya ASN.” (boy)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya Advetorial

To Top