Pemkab Matim Minta Bantuan BWS Atasi Longsor yang Tutup Saluran Irigasi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemkab Matim Minta Bantuan BWS Atasi Longsor yang Tutup Saluran Irigasi


TINJAU. Wabup Stef Jaghur didampingi Kadis PUPR Yos Marto dan para Kabid di Dinas PUPR Matim, saat meninjau lokasi longsor di saluran irigas Wae Laku, Senin (22/3). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pemkab Matim Minta Bantuan BWS Atasi Longsor yang Tutup Saluran Irigasi


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Material longsor yang menutup saluran induk Wae Laku di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), belum diatasi hingga kini. Karena sulit dan membutuhkan banyak biaya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Matim meminta pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) II NTT untuk membantu membereskan masalah itu.

“Ini butuh dana besar di atas Rp 5 miliar dan alat berat juga harus banyak. Sementara kemampuan kita di daerah Matim, sangat terbatas. Sehingga kita harus koordinasi dengan pihak BWS II NTT,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Matim, Stef Jaghur, saat meninjau lokasi longsor di saluran induk Wae Laku, Senin (22/3) siang.

Lokasi bencana longsor itu ada di wilayah administrasi Desa Compang Kantar, Kecamatan Rana Mese. Dimana jarak dari Bendungan Wae Laku sekira ratusan meter. Peristiwa longsor susulan itu terjadi tiga pekan lalu. Saluran induk irigasi Wae Laku tersebut, untuk mengairi ribuan hektar sawah di tiga desa, yakni Desa Golo Kantar, Bangka Kantar, dan Nanga Labang.

Saat ini, kata Wabup Jaghur, ada satu alat berat berupa ekskavator dari Dinas PUPR Matim dikerahkan untuk mengevakuasi material longsor yang menutup dan menyumbat saluran irigasi. Namun tidak cukup dan sangat sulit. Salah satu kendalanya, selain volume tumpukan materialnya banyak, juga ada banyak material batu berukuran besar.

Wabup Stef Jaghur mengatakan, pekerjaan ini membutuhkan biaya besar. Pasalnya tidak hanya mengevakuasi material longsor, tapi juga perlu membangun tanggul atau beronjong pada sisi aliran sungai Kali Wae Laku. Bahu penopang dari bangunan saluran irigasi, yang sekaligus difungsikan sebagai jalan menuju bendungan juga sudah tergerus banjir Kali Wae Laku.

“Jalan menuju bendungan ini sekarang kondisinya sangat sempit karena sebagianya rusak terkikis banjir dan air hujan. Kalau ini tidak ditangani, pasti kikisan banjir dan air hujan melebar, yang mengancam kerusakan bangunan irigasi. Peristiwa ini benar-benar murni karena bencana alam,” jelas Wabup Stef Jaghur.

BACA JUGA: Jaringan Induk Irigasi Wae Laku Tertimbun Longsor, Warga Minta Perhatian Pemerintah

Dikatakan, dirinya telah meminta pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas PUPR Matim untuk sesegara mungkin berkoordinasi dengan pihak BMKG. Tentu dengan membuatkan surat pernyataan bencana alam yang nantinya dikeluarkan oleh Bupati Matim untuk diiberikan kepada Pemprov NTT. Tujuannya agar masalah yang terjadi segera diatasi.

Warga setempat, Kanis Jempia, Herman, dan Kristoforus, yang ditemui di lokasi sangat berharap kepada pemerintah, khususnya pihak BWS II NTT, untuk bisa merespon dan segera menangani masalah longsor yang menutup saluran irigasi induk tersebut. Pasalnya, masalah itu membawa dampak besar bagi petani sawah pemanfaat air dari saluran irigasi Wae Laku.

“Kami sangat berharap pihak pemerintah segera menangani masalah longsor di saluran irigasi ini. Sudah berapa minggu tanaman sawah tidak mendapat suplai air. Tanaman padi pun terancam kering dan puso. Petani lain pun tidak bisa kelola lahan sawah karena saluran air di irigasi tersumbat dengan material longsor,” ujar Kanis diamini warga lainnya yang ditemui bersama, yakni Herman dan Kristoforus.

Menurut Kanis, selama ini air yang mengalir di saluran irigasi, bukan hanya untuk kebutuhan mengairi sawah semata. Tapi sangat dibutuhkan untuk keperluan lain oleh warga tiga desa. Termasuk untuk keperluan mandi dan cuci. Bahakan sebagian warga memanfaatkan untuk keperluan masak dan minum. Warga telah berupaya membersihkan secara manual, namun amat sulit.

“Kondisi yang ada sangat tidak bisa untuk dikerjakan secara manual. Ada pun alat berat dari Dinas PUPR Matim, tapi tidak cukup. Bahkan agak sulit karena ada banyak material batu berukuran besar. Sehingga sulit dievakuasi. Harus dibantu juga dengan alat pemecah batu. Juga harus dibangun tanggul atau beronjong di pinggir aliran sungai kali Wae Laku,” katanya.

Menurutnya, bendungan dan saluran irigasi Wae Laku itu dibangun pemerintah pusat melalui BWS II tahun 2017 dengan anggaran sekira Rp 40 miliar lebih. Bangunan itu dikerjakan kontraktor PT Floresco, dan saluran irigasai tersebut mengairi sekira puluhan ribu hektare sawah di tiga desa di Kecamatan Borong. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top