Resmi Ditahan KPK Setelah 5 Tahun Jadi Tersangka, RJ Lino: Saya Senang Sekali | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Resmi Ditahan KPK Setelah 5 Tahun Jadi Tersangka, RJ Lino: Saya Senang Sekali


PAKAI ROMPI ORANYE. Mantan Dirut PT. Pelindo II, Ricard Joost (RJ) Lino resmi ditahan KPK, Jumat (26/3). (FOTO: Istimewa/JawaPos.com)

PERISTIWA/CRIME

Resmi Ditahan KPK Setelah 5 Tahun Jadi Tersangka, RJ Lino: Saya Senang Sekali


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara resmi menahan mantan Direktur Utama (Dirut) PT. Pelindo II, Ricard Joost (RJ) Lino dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan tiga unit quay container crane (QCC) di Pelindo II tahun 2010. Penahanan terhadap mantan petinggi Pelindo II itu dilakukan setelah lima tahun menyandang status tersangka, sejak Desember 2015.

RJ Lino yang terlihat memakai rompi oranye keluar gedung merah putih KPK. Dia merasa lega mengenai status hukumnya yang kini sudah menjadi tahanan KPK.

“Saya senang sekali setelah lima tahun menunggu ya. Dimana saya diperiksa tiga kali, sebenarnya nggak ada artinya apa-apa pemeriksaan itu. Hari ini saya ditahan. Jadi supaya jelas statusnya ya,” kata RJ Lino usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (26/3).

Lino merasa heran dirinya dinilai merugikan keuangan negara senilai USD 22,828,94. Dia mengklaim, tidak mengetahui soal urusan pemeliharaan crane yang disangkakan KPK.

“Kemudian tadi kalian dengan BPK kasih kerugian negara USD 22 ribu untuk pemeliharaan, saya mau tanya ya. Apa Dirut urusannya maintenance, enggak lah. Perusahaan itu perusahaan gede, prosedural bukan Dirut USD 22 ribu, itu Rp 300 juta dibagi 6 tahun, 50 juta setahun, dibagi tiga crane, 16 juta 1 crane dibagi 365 hari, Rp 40 ribu perhari. Alat itu kalau kalian ke lapangan sudah 10 tahun, availabelity itu 95 persen ini istimewa sekali,” cetus Lino.

Dia juga mengklaim, pembelian tiga unit crane oleh PT. Pelindo II pada masa jabatannya merupakan yang paling terendah. “Itu crane yang saya beli, crane yang paling murah selama negeri ini berdiri. Pelindo I hanya bisa beli satu crane harganya USD 12,2 juta, saya beli USD 5,5 juta,” tegas Lino.

KPK Beber Alasan Tahan RJ Lino

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menyampaikan, pihaknya secara resmi menahan RJ Lino untuk 20 hari ke depan. Penahanan terhadap RJ Lino dilakukan demi kebutuhan proses penyidikan.

“Untuk kepentingan penyidikan, KPK menahan tersangka selama 20 hari, terhitung sejak 26 Maret 2021 sampai dengan 13 April 2021 di Rumah Tahanan Negara Klas I Cabang Komisi Pemberantasan Korupsi,” ujar Alex.

Alex menyebut, untuk menyelesaikan berkas penyidikan RJ Lino, penyidik KPK telah memeriksa 74 orang saksi dan penyitaan barang bukti dokumen yang terkait dengan perkara ini.

Alex juga menyampaikan alasan mengapa KPK baru menahan RJ Lino, setelah lima tahun menyandang status sebagai tersangka.

“Selalu kita sampaikan bahwa kendalanya memang dari perhitungan kerugian negara, di mana BPK itu meminta agar ada dokumen atau harga pembanding terhadap alat tersebut, dan itu sudah kami upayakan, baik melalui kedutaan Tiongkok,” kata Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (26/3).

Alex mengakui, pimpinan KPK periode sebelumnya sempat hendak bertemu dengan pihak inspektorat dari Tiongkok. Hal ini dilakukan untuk menanyakan harga QCC yang dibeli Pelindo dari HuaDong Heavy Machinery Co.Ltd.

“Bahkan, Pak Laode dan Pak Agus Rahardjo ke China dan dijanjikan bisa bertemu Menteri atau Jaksa Agung, tapi pada saat terakhir ketika mau bertemu dibatalkan,” ujar Alex.

Hal ini karena BPK meminta dokumen atau data terkait harga QCC yang dijual HDHM. Itu dilakukan untuk melakukan penghitungan kerugian negara dari pengadaan ketiga QCC ini.

“Di sisi lain penyidik kesulitan mendapatkan harga QCC atau setidaknya harga pembanding. Misalnya HDHM menjual ke negara lain itu bisa dibandingkan sehingga itu bisa menjadi dasar perhitungan negara,” beber Alex.

Alex mengakui, BPK tidak bisa menghitung kerugian negara tersebut. Karena kendala ketiadaan dokumen atau data pembanding. Sehingga, KPK memutuskan menggunakan ahli dari ITB untuk mengitung harga pokok produksi QCC untuk merekonstruksi alat QCC dan menghitung total harga pokok produksi.

“Memang dalam menghitung kerugian dalam akuntasi itu ada yang disebut histories cost. Itu biasanya didukung dengan data dan dokumen berapa biaya yang dikeluarkan untuk membelikan alat tersebut, temasuk harga pembanding. Ada juga metode lain yaitu menghitung replacement cost. Kira-kira berapa biaya yang dikeluarkan kalau alat itu diproduksi sendiri, kami menggunakan metode itu dengan meminta bantuan dari ahli ITB utk merekonstruksi alat QCC itu seandainya dibuat, harga pokoknya berapa,” tegas Alex.

KPK menduga, Lino dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan tiga unit quay container crane (QCC) di Pelindo II tahun 2010 merugikan keuangan negara sebesar USD 22,828,94.

Hal ini setelah memeroleh data dari ahli ITB bahwa Harga Pokok Produksi (HPP) hanya sebesar USD 2.996.123 untuk QCC Palembang, USD 3.356.742 untuk QCC Panjang, dan USD 3.314.520 untuk QCC Pontianak.

RJ Lino disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (jpc/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top