Minta Pemerintah Tinjau Kebijakan Impor Garam, Abraham Liyanto: Ambil Garam di NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Minta Pemerintah Tinjau Kebijakan Impor Garam, Abraham Liyanto: Ambil Garam di NTT


Anggota DPD RI asal NTT, Ir. Abraham Paul Liyanto. (FOTO: ISTIMEWA)

BISNIS

Minta Pemerintah Tinjau Kebijakan Impor Garam, Abraham Liyanto: Ambil Garam di NTT


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Abraham Paul Liyanto meminta pemerintah meninjau kembali kebijakan impor garam. Pasalnya, hasil garam di NTT sangat berlimpah, bahkan dibuang percuma karena tidak ada yang membeli.

“Pemerintah pusat perlu tinjau kembali kebijakan itu. Ambil garam-garam di NTT kalau masih kurang untuk kebutuhan nasional. Garam di NTT sangat banyak dan tidak tahu harus dibawa ke mana lagi,” kata Abraham dalam keterangan resminya, Minggu (28/3).

Abraham menyatakan ini menyikapi adanya rencana pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang akan mengimpor garam tahun ini sebanyak 3 juta ton.

Abraham mengaku tak bisa menerima begitu saja alasan pemerintah yang menyatakan adanya kekurangan produksi dalam negeri sehingga tak bisa memenuhi kebutuhan garam nasional.

Abraham dengan tegas menyatakan bahwa kebijakan impor merupakan cerminan malas bekerja dan malas berusaha. “Kebijakan itu juga hanya langkah instan untuk mengatasi persoalan yang ada,” tegasnya.

Abraham mempertanyakan upaya pemerintah, apakah sudah menggali semua potensi garam yang ada di seluruh tanah air?

Politikus yang juga Ketua KADIN NTT ini curiga pemerintah tidak serius menggali potensi yang ada. Buktinya di NTT, garam berlimpah dan tidak terserap.

“Bapak Presiden Jokowi harus monitor betul kerjaan bawahannya. Mereka sudah cari semua belum garam di seluruh republik ini? Kenapa di NTT tidak terserap? Kenapa tidak ambil dari NTT dulu sebelum mengimpor? Jangan-jangan ada mafia impor garam yang mau ambil untung dari kebijakan itu,” tandas Abraham.

Abraham mengaku kasihan dengan petani garam di NTT yang sudah bekerja keras memproduksi garam, namun hasilnya tak terserap. Bahkan produksinya dibuang percuma. Contohnya di Kabupaten Sabu Raijua saat ini, ada 40 ton garam industri di gudang penampungan yang membeku.

“Lebih baik pemeritah menaruh investasi pabrik pengolahan garam di NTT supaya bisa mengolah garam untuk kebutuhan dalam dalam negeri. Kasihan para petani garam dengan kebijakan impor garam yang dilakukan,” tutur Abaraham.

Sebelumnya, Wakil Gubernur (Wagub) NTT Josef Nae Soi meminta dukungan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti agar pemerintah membatalkan impor garam. Alasannya, garam di NTT sangat banyak dan tidak terserap.

“Terus terang kami minta dukungan kepada DPD RI menyampaikan kepada pemerintah agar jangan impor garam, tapi bantu serap garam kami di NTT,” kata Josef saat menerima La Nyalla di Kantor Gubernur NTT, Kupang, Rabu (24/3).

Josef menyebutkan, NTT merupakan provinsi penghasil garam. Hingga sekarang, banyak garam produksi NTT tidak terserap. Provinsi ini punya potensi untuk menghasilkan 1 juta ton garam. Hasil itu bisa ditingkatkan lagi bila pemerintah pusat membantu penyerapan.

Pekan lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pemerintah memutuskan mengimpor garam. Keputusan itu telah diambil dalam rapat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian beberapa waktu lalu.

Wahyu mengungkapkan, produksi garam dalam negeri diperkirakan mencapai 2,1 juta ton pada 2021. Sementara kebutuhan garam nasional tahun ini sebanyak 4,6 juta ton. Artinya, ada selisih 2,5 juta ton untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. (aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top