Tanggul Kali Naikoten Jebol, Air Rendam Asrama Tentara Kuanino | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Tanggul Kali Naikoten Jebol, Air Rendam Asrama Tentara Kuanino


ASTEN TERENDAM BANJIR. Permukiman warga di Kompleks Asten Kuanino ikut tergenang air akibat luapan kali Naikoten II lantaran jebolnya tanggul penahan. Gambar diabadikan Sabtu (3/4). (FOTO: IMRAN LIARIAN/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Tanggul Kali Naikoten Jebol, Air Rendam Asrama Tentara Kuanino


BMKG Sebut Bibit Siklon Tropis 99S Muncul di Selatan Laut Sawu

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Kota Kupang dan sekitarnya sejak Jumat (2/4) hingga Sabtu (3/4) menimbulkan bencana banjir di mana-mana. Jalan umum hingga permukiman warga tak luput dari terjangan banjir.

Terpantau media ini, di Kelurahan Kuanino, akibat tanggul penahan kali yang membentang di wilayah Kelurahan Naikoten hingga Oebobo dan Kuanino jebol, air meluap dan menggenangi perumahan di asrama TNI-AD Kuanino, Sabtu (3/4).

Lurah Kuanino, Estherfina Banik ketika dikonfirmasi media ini, Sabtu (3/4), membenarkan adanya rumah warga yang tergenang air akibat luapan kali Naikoten II. Genangan paling parah terjadi di kawasan asrama TNI-AD (Asten) Kuanino.

“Saya baru dari lokasi banjir, air meluap dari kali karena tembok penahan kali jebol sehingga air masuk ke rumah warga,” ungkap Estherfina.

Ketua RW 6, Kelurahan Kuanino, Agapito menjelaskan bahwa sejumlah rumah warga di wilayah Asten tergenang banjir. Hal ini disebabkan air meluap dari kali hingga masuk ke rumah warga. “Saya pantau sekitar 20 rumah warga yang air masuk sampai ke dalam rumah,” katanya.

Sementara Lurah Naikoten II, Cristo Vorando Amalo, menjelaskan bahwa rumah warga yang terdampak banjir akibat luapan kali yang melintas di wilayah itu yakni wilayah RT 01, RT 02, RT 11, dan RT 13.

“Yang paling parah terdampak banjir itu ada di RT 01, RT 02 dan RT 13. Saya sudah turun langsung ke lokasi banjir untuk data pasti berapa rumah yang terdampak banjir. Saya masih minta data di Ketua RT. Berdasarkan pantauan sekitar 30 rumah yang terdampak banjir,” jelasnya.

Camat Oebobo, Max Maahuri ketika dikonfirmasi media ini membenarkan adanya peristiwa banjir yang disebabkan luapan dari kali hingga masuk ke badan jalan dari wilayah Kelurahan Oebobo hingga Oetete.

BACA JUGA: BMKG Ingatkan Waspadai Banjir Pesisir di NTT Hingga 5 April

BACA JUGA: Banyak Rumah Warga Terendam Banjir, BPBD Kota Siapkan Bantuan Logistik

“Saya turun langsung pantau ke sejumlah rumah warga yang terendam banjir itu di Kelurahan Oetete. Selain itu saya juga pantau rumah warga yang terdampak banjir di Kelurahan Oebufu,” ungkapnya.

Menyikapi bencana ini, Max mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem yang masih terjadi saat ini. Jika ada hal-hal yang terjadi segera melaporkan sehingga dari pemerintah kelurahan atau pemerintah kecamatan bisa berkoordinasi dengan pihak terkait dalam hal ini BPBD dan lainnya guna mengambil langkah cepat dan tepat untuk penanganan.

Siklon Tropis

Kordinator Bidang Observasi dan Informasi, Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kupang, Fera Adrianita, M.Si, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi sejak kemarin dan bahkan sebelumnya didahului dengan hujan dan angin yang cukup kencang di beberapa wilayah di NTT dipengaruhi oleh posisi MJO (Madden Julian Oscillation) yang berada di kuadran 4. Dan hari ini terpantau di kuadran 5 (Maritime Continent) sehingga berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian Timur. Kejadian ini juga dipicu pula oleh adanya sirkulasi Eddy atau sirkulasi tertutup yang awalnya berada di Laut Banda kemudian bergeser ke wilayah NTT.

“Sirkulasi Eddy adalah sirkulasi di atmosfer berupa pusaran angin dengan durasi harian. Biasanya jika suatu daerah terdapat Eddy, maka cenderung akan turun banyak hujan,” kata Fera.

Fera melanjutkan, berdasarkan hasil analisis angin gradien sejak semalam (2/4), terpantau adanya daerah tekanan rendah di Laut Sawu bagian selatan yang membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di sekitar wilayah NTT.

“Daerah tekanan rendah tersebut oleh pusat Meteorologi Public dinamai bibit siklon tropis 99S. Hal ini menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan di daerah sekitar bibit siklon tropis dan di sepanjang daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin tersebut turut diperkuat pula dengan adanya fenomena atmosfer lainnya yang aktif yaitu gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin,” urai Fera.

Terkait kondisi cuaca ini, Fera mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem. Misalnya hujan lebat-sangat lebat yang dapat disertai kilat/petir, angin kencang, dan gelombang tinggi serta dampak terhadap bencana hidrometeorologi yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, pohon tumbang, dan lain-lain. (Mg22)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top