Warga Pesisir Pantai Kupang Mengungsi ke Sejumlah Rumah Ibadah | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Warga Pesisir Pantai Kupang Mengungsi ke Sejumlah Rumah Ibadah


MENGUNGSI. Ratusan warga Kelurahan Oesapa Barat menempati sementara Gedung PPA Gereja Betlehem Oesapa Barat, Minggu (4/4). Warga ini mengungsi sementara karena permukiman mereka terancam gelombang pasang. (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Warga Pesisir Pantai Kupang Mengungsi ke Sejumlah Rumah Ibadah


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Cuaca ekstrem yang melanda Kota Kupang dan sekitarnya beberapa hari terakhir, mengakibatkan terjadinya gelombang pasang. Sehingga warga yang mendiami area pesisir pantai terpaksa harus mengungsi. Seperti di Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, warga RT 01 dan RT 07 terpaksa mengungsi ke rumah ibadah karena terdampak gelombang pasang.

“Sekitar 300 jiwa dari 80 Kepala Kelurga (KK) untuk sementara menempati Gedung Pusat Pengembangan Anak Gereja Betlehem Oesapa Barat,” jelas Christian E. Chandra, Lurah Oesapa Barat, ketika dikonfirmasi TIMEX, Minggu (4/4).

Cuaca ekstrem yang masih terjadi ini belum memungkinkan untuk warga kembali ke rumah mereka. Oleh sebab itu, untuk sementara waktu menempati gedung gereja.” Kami sampaikan terima kasih kepada pihak gereja yang sudah memberikan tempat bagi warga,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Lurah Oesapa, Kiai Kia. Menurutnya, sejumlah warga yang tinggal sepanjang area pesisir pantai mengungsi di beberapa titik, yakni di Masjid Al- Fitrah, Masjid Al-Hidayah, Gereja Bethel Oesapa, dan Gereja Nazareth. Upaya ini dilakukan sebagai antisipasi dampak adanya gelombang pasang.

“Ada juga warga yang mengungsi tinggal di rumah keluarga. Untuk jumlah pasti warga saya belum tahu. Prinsipnya hampir semua warga sepanjang pesisir pantai mengungsi,” jelasnya.

Dewa, seorang warga pesisir pantai RT 33, Kelurahan Oesapa yang kesehariannya sebagai nelayan mengaku sejak cuaca ekstrem, dirinya tidak melaut. Dampak dari cuaca ekstrem ini terjadi karena gelombang pasang.

“Air naik sampai ke rumah warga dan sudah mengungsi,” jelasnya seraya menambahkan bahwa sebanyak 13 perahu nelayan juga ikut tenggelam. “Saya punya tiga perahu yang tenggelam,” katanya.

Dewa menyebutkan, kejadian seperti ini terjadi setiap tahun. Sayangnya tidak adanya perhatian dari pemerintah agar bisa membuatkan tembok pemecah gelombang supaya perahu nelayan bisa berlindung dari terjangan ombak. Selain itu, rumah warga juga aman dari hantaman gelombang ketika masuk musim penghujan seperti sekarang ini.

“Dari tahun ke tahun selalu saja perahu nelayan warga Oesapa hancur. Kami sangat harapkan perhatian pemerintah untuk membantu kami para nelayan ini,” harap Dewa. (Mg22)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top