Separo NTT Porak-Poranda, Puluhan Orang Masih Tertimbun Longsor, Banyak Desa Terisolasi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Separo NTT Porak-Poranda, Puluhan Orang Masih Tertimbun Longsor, Banyak Desa Terisolasi


RATA TANAH. Seorang pria paruh baya di Kabupaten Rote Ndao berdiri di depan rumahnya yang sudah roboh dan rata dengan tanah akibat hantaman Badai Siklon Tropis Seroja yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah NTT, khususnya di Rote Ndao, Senin (5/4). (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Separo NTT Porak-Poranda, Puluhan Orang Masih Tertimbun Longsor, Banyak Desa Terisolasi


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Bencana alam memorak-porandakan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 10 kabupaten dan 1 kota di antara 21 kabupaten/kota di provinsi itu dilanda hujan deras, angin kencang, banjir, hingga tanah longsor.

Pada saat bersamaan, bencana hidrometeorologis juga terjadi di tiga kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB). Yakni, Kabupaten Bima, Dompu, dan Lombok Utara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi keberadaan potensi bibit siklon 98S berupa pusat tekanan rendah (low pressure area) di perairan selatan NTT sejak 2 April lalu. Pada Sabtu (3/4), BMKG merilis peringatan semakin kuatnya pusat tekanan rendah itu sehingga tumbuh menjadi bibit siklon tropis 98S.

Pada Minggu (4/4) menjelang tengah malam, BMKG mengumumkan bahwa 98S bisa berubah menjadi siklon tropis dalam waktu 2 hingga 3 jam ke depan atau Senin dini hari pukul 01.00 WIB (pukul 02.00 Wita). ”Karena ini masih dalam yurisdiksi TCWC (tropical cyclone warning system) Jakarta, siklon tropis ini diberi nama Seroja, sesuai dengan urutan penamaan siklon tropis,” jelas Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pada Minggu menjelang tengah malam (4/4).

Saat itu pusat sistem Seroja berada di perairan Kepulauan Rote, sekitar 24 km arah barat daya Kupang, NTT. Bergerak ke barat daya dengan kecepatan 3 knot atau sekitar 6 kilometer per jam menjauhi wilayah Indonesia.

Dwikorita menjelaskan, kecepatan maksimum di sekitar sistem Seroja adalah 30 hingga 35 knot atau 55 kilometer per jam. Tekanan di pusat siklon mencapai 996 hektopaskal dengan tendensi semakin kuat. Pada Senin malam (5/4), Dwikorita melaporkan bahwa pusaran Seroja semakin kuat. ’’Kecepatan angin sudah mencapai 45 knot atau 85 kilometer per jam,” jelasnya.

Seroja diperkirakan memiliki kekuatan yang kurang lebih sama dengan Siklon Tropis Cempaka yang terbentuk di Sebelah Selatan Jawa pada 2017 lalu. Meski demikian, menurut Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachry Radjab, dampak Seroja bisa lebih parah.

“Karena posisinya yang relatif dekat dengan daratan dan kecepatan perpindahannya yang terhitung lambat,” jelas Fachry.

Meski demikian, sejauh ini belum ada prakiraan bahwa dampak Seroja akan sampai ke Jawa dan Bali. Peta dari TCWC menunjukkan Seroja bergerak menjauhi wilayah Indonesia ke arah Barat Daya menuju perairan Australia Barat.

Dampak Seroja masih akan terus dirasakan setidaknya pada 6 April (hari ini) hingga (besok) 7 April. Namun, karena posisinya yang bergerak menjauh, dampak yang dirasakan juga akan terus melemah. BMKG memperkirakan siklon akan punah di lautan Australia pada besok sore.

Dampak amukan Seroja baru terlihat jelas pada Senin (5/4) pagi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, 10 kabupaten menerima paparan cuaca ekstrem dengan dampak yang bervariasi. Mulai hujan deras, banjir bandang, angin kencang, hingga tanah longsor.

Sehari sebelumnya, Kabupaten Malaka dan Kabupaten Flores Timur juga melaporkan kejadian banjir bandang yang menelan puluhan korban jiwa dan menghanyutkan puluhan rumah. Dengan sebaran dampak itu, praktis separo Provinsi NTT yang memiliki 21 kabupaten dan 1 kota terdampak siklon tropis Seroja. Selain NTT, beberapa daerah di Kabupaten Bima (NTB) mengalami banjir bandang.

Sampai Senin malam, data tentang korban jiwa maupun kerusakan fisik masih simpang siur dan terus bergerak. Pada konferensi pers pukul 20.00 WIB tadi malam, Kepala BNPB Doni Monardo menyebut sudah 84 orang meninggal dan 71 dilaporkan hilang. Para korban yang hilang diperkirakan tertimbun longsor dan reruntuhan bangunan. Beberapa saat kemudian, Menteri Sosial Tri Rismaharini yang berada di Bima mengatakan, ada dua orang lagi yang meninggal di Bima. Dengan demikian, korban jiwa hingga berita ini ditulis mencapai 86 orang.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi mengungkapkan, dampak meteorologis siklon tropis Seroja dirasakan hampir di seluruh wilayah NTT. ”Eskalasinya ringan, sedang, hingga berat,” jelasnya kemarin (5/4).

Josef mengatakan, delapan kabupaten masuk kategori terdampak berat. Yakni, Flores Timur, Lembata, Kota Kupang, Sabu Raijua, Sumba Timur, Alor, Malaka, dan Ngada. ’’Korban jiwa yang tertimbun masih dalam pencarian,” ujar Josef.

Tim penolong yang membawa bantuan maupun alat berat belum bisa mencapai titik-titik bencana karena cuaca buruk. Rombongan kepala BNPB hanya bisa terbang hingga Maumere dan melanjutkan perjalanan ke Larantuka lewat jalur darat.

Doni juga menyebutkan bahwa transportasi laut belum bisa berlayar karena tingginya gelombang. Akibatnya, bantuan belum bisa mencapai Pulau Adonara. ’’Ekskavator sudah disiapkan PUPR. Ada delapan unit yang sudah siap. Tapi, masih terkendala angkutan kapal yang bisa menuju lokasi,” jelas Doni.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur mengkhawatirkan krisis BBM. Sebab, tidak ada angkutan BBM melalui kapal karena pelayaran belum diizinkan syahbandar. Sementara itu, masih ada delapan desa di Lembata yang terisolasi karena akses tertutup longsor. ’’Kami butuh BBM untuk alat berat agar bisa menggali korban-korban tertimbun longsor. Alat beratnya juga belum bisa digunakan untuk membuka jalur yang tertutup longsor sehingga kami masih terisolasi,” jelasnya.

Dia juga menyebutkan bahwa di Lembata sudah 67 orang yang dinyatakan meninggal. Jumlah itu diperkirakan terus bertambah. Wakil Gubernur Josef menambahkan, 6 desa di Kabupaten Malaka terisolasi karena jembatan putus, 6 desa di Florest Timur dan Adonara juga terisolasi karena longsor, serta 6 kecamatan di Sabu Raijua mengalami jalan putus.

Doni memerintahkan dilakukan pencarian terhadap jenazah korban dan evakuasi korban luka-luka. ”Yang banyak kami terima laporannya korban patah tulang. Di Adonara tidak ada RS. Ada upaya evakuasi ke RS di Larantuka,” katanya.

Doni juga tengah memobilisasi tenaga kesehatan menuju RS di Lembata. Dari BNPB telah tiba 1 helikopter dan akan ada tambahan 2 unit lagi. ”Kita prioritaskan warga yang butuh evakuasi. Mereka yang cedera kita selamatkan dulu,” jelasnya.

Doni mengatakan, kelompok-kelompok rentan membutuhkan perawatan. Akses transportasi terus diupayakan. Beberapa unit dump truck dan ekskavator di Pulau Flores akan dikirim ke Lembata dan Adonara. Doni meminta bantuan siapa pun yang memiliki kapal untuk bisa mengantarkan alat berat ke lokasi-lokasi yang membutuhkan. Untuk distribusi logistik, akan dikerahkan pesawat kargo.

Dwikorita memperkirakan, cuaca ekstrem berlangsung hingga 6 dan 7 April. ’’Tanggal 7 siang sampai sore karena siklonnya semakin jauh sehingga akan semakin lemah dampaknya,” katanya. Meski demikian, di beberapa wilayah daratan, saat ini kecepatan angin masih sekitar 30 km per jam. (tau/lyn/mia/deb/wan/lum/c7/oni/ttg/JPG)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top