KPK: Ada 33 Kepala Daerah Belum Serahkan LHKPN, Satu Orang Gubernur | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

KPK: Ada 33 Kepala Daerah Belum Serahkan LHKPN, Satu Orang Gubernur


Plt. Juru Bicara KPK Bidang Pencegahan, Ipi Maryati. (FOTO: Muhammad Ridwan/JawaPos.com)

NASIONAL

KPK: Ada 33 Kepala Daerah Belum Serahkan LHKPN, Satu Orang Gubernur


28 Bupati dan 4 Wali Kota Diminta Segera Serahkan LHKPN

JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan, sebanyak 33 kepala daerah belum menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) periodik untuk tahun pelaporan 2020. Padahal lembaga antirasuah selalu mengingatkan untuk menyerahkan LHKPN secara periodik.

“KPK mencatat dari total 515 kepala daerah meliputi gubernur, bupati, dan walikota, terdapat 33 kepala daerah yang belum menyampaikan laporan kekayaannya,” kata Pelaksana tugas (Plt) Juru Bicara KPK Bidang Pencegahan, Ipi Maryati saat dikonfirmasi, Rabu (7/4).

Ipi menyampaikan, 33 kepala daerah yang belum menyerahkan LHKPN itu meliputi satu gubernur, 28 bupati, dan empat wali kota. Tetapi KPK tidak menjelaskan secara rinci siapa sosok kepala daerah yang belum menyerahkan LHKPN itu. “33 kepala daerah itu terdiri atas satu gubernur, 28 bupati dan empat wali kota,” ucap Ipi.

Menurut Ipi, hingga batas akhir penyampaian LHKPN periodik tahun pelaporan 2020, yaitu 31 Maret 2021, masih terdapat 21.939 wajib lapor atau Penyelenggara Negara (PN) yang belum menyampaikan laporan kekayaannya. Secara nasional, KPK telah menerima 356.133 LHKPN atau 94,20 persen.

Ipi memastikan, KPK secara bertahap melakukan verifikasi atas laporan kekayaan yang disampaikan tersebut. Jika hasil verifikasi dinyatakan tidak lengkap, maka penyelenggara negara wajib menyampaikan kelengkapannya maksimal 30 hari sejak diterimanya pemberitahuan.

“Jika hingga batas waktu kelengkapan tidak dipenuhi, maka KPK akan mengembalikan laporan tersebut dan PN dianggap tidak menyampaikan LHKPN. Laporan kekayaan yang tidak lengkap akan mempengaruhi tingkat kepatuhan baik pada instansinya maupun secara nasional,” kata Ipi.

Ipi memastikan, KPK tetap menerima LHKPN yang disampaikan setelah batas waktu, namun LHKPN tersebut tercatat dengan status pelaporan terlambat lapor.

“Sebagai salah satu instrumen penting dalam pencegahan korupsi, KPK meminta PN untuk mengisi LHKPN secara jujur, benar dan lengkap,” pinta Ipi.

Ipi menegaskan, pelaporan harta kekayaan merupakan kewajiban bagi setiap penyelenggara negara sesuai ketentuan pasal 5 ayat 2 dan 3 Undang-undang No 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Undang-Undang mewajibkan PN bersedia untuk diperiksa kekayaannya sebelum, selama, dan setelah menjabat. “PN juga wajib melaporkan dan mengumumkan kekayaannya sebelum dan setelah menjabat,” pungkas Ipi. (jpc/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top