Naikkan Harga Jual BBR Dua Kali Lipat, Polda NTT Ringkus 3 Pengusaha Ini | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Naikkan Harga Jual BBR Dua Kali Lipat, Polda NTT Ringkus 3 Pengusaha Ini


AKIBAT MAU UNTUNG BESAR. Para pengusaha yang diamankan aparat Polda NTT saat diperiksa di ruang pemeriksaan Subdit I Indegsi Ditkrimsus Polda NTT, Rabu (7/4). (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Naikkan Harga Jual BBR Dua Kali Lipat, Polda NTT Ringkus 3 Pengusaha Ini


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Aparat Polda NTT berhasil mengamankan sebanyak tiga orang pelaku usaha di Kota Kupang yang nekad menaikan harga bahan bangunan rumah (BBR) di tengah bencana alam yang sedang melanda NTT.

Ketiga pelaku usaha tersebut diamankan di tempat usahanya yang berbeda, masing-masing di wilayah Kelurahan Oebobo, Kuanino, dan Liliba. Mereka diamankan sekira pukul 14:00 Wita, Rabu (7/4).

“Diamankan tiga pelaku usaha yg diduga menaikkan harga bahan bangunan di Kota Kupang,” ujar Direktur Kriminal Khusus (Dir Krimsus) Polda NTT, Kombes Pol Johanes Bangun.

Dijelaskan pelaku usaha yang berhasil diamankan yakni berinisial MM beralamat di Jalan Lalamentik No. 47, Oebobo, dan di Jalan. H. R. Koro, Kelurahan Oepura (UD. SJL). “Pelaku menjual paku payung yang harga normalnya Rp. 27.000 per kilogram, dinaikkan menjadi Rp 45.000 per kilogram,” beber Kombes. Jo Bangun.

Selain itu salah satu pelaku berinisial NA alamat Jalan Fetor Foenay, RT 15/RW 05, Kelurahan Maulafa, pemilik UD. DP yang menjual Seng 0,20mm gajah duduk yang harga normalnya Rp 53.000 per lembar dinaikan menjadi Rp 68.000 per lembar, Seng 0,30mm Calisco harga normal Rp 70.000 per lembar, naik menjadi Rp 90.000 per lembar, dan paku payung harga awal Rp 27.000 per kilogram, naik menjadi Rp 40.000 per kilogram.

Pelaku lainnya, berinisial AK RB beralamat di Jl. Surdiman, Kelurahan Kuanino, pemilik UD. KS. Pelaku menjual Triplex 6mm, yang harga normalnya Rp 78.000 per lembar menjadi Rp 100.000 per lembar.

BACA JUGA: Kapolda NTT Perintahkan Tangkap dan Tindak Tegas Spekulan Harga Bahan Bangunan

Menurut mantan Kabid Humas Polda NTT dan Kapolres Kupang Kota itu bahwa para terduga pelaku dikenakan pasal berlapis dengan ancaman hukuman paling maksimal 2 tahun dan denda maksimal Rp 25 miliar.

Dua pasal yakni Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, dengan ancaman hukuman 5 bulan penjara atau denda minimal 5 miliar, dan maksimal Rp 25 miliar. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, Pasal 8 dan 9 tentang dilarang menaikkan harga sebelum melakukan obral dengan ancaman 2 tahun dan denda Rp 500 juta.

“Untuk sementara status mereka masih terperiksa. Kita periksa dan akan tetapkan status mereka jika benar terbukti. Saat ini kita masih periksa jadi belum tentukan status mereka,” katanya.

Kombes Jo Bangun meminta kepada seluruh pengusaha di Kota Kupang dan NTT pada umumnya untuk tidak memanfaatkan kondisi bencana ini untuk meraup keuntungan yang berlebihan karena akan merugikan diri sendiri.

“Pihaknya juga tidak segan-segan menindak tegas para lelaku karena situasi seperti ini tidak bisa ditolelir, apalagi perintah Kapolda sudah tegas bahwa harus tindak tegas agar memberikan efek jera kepada pelaku usaha lainnya,” tandasnya.

Sebelumnya, Kapolda NTT, Irjen Pol. Lotharia Latif yang tengah memantau korban bencana banjir bandang di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, meminta jajarannya untuk memantau dan menindak tegas siapa saja yang menjual bahan bangunan rumah dengan harga tak wajar.

Kapolda Latif meminta para pengusaha untuk tidak memanfaatkan situasi bencana untuk meraup keuntungan secara tak wajar. Irjen Latif mengingatkan bahwa masyarakat sedang mengalami musibah, sehingga jangan ada pihak-pihak tertentu yang ingin mencari keuntungan dengan menaikan harga barang secara sepihak. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top