Yayasan Cahaya Nusantara Bantu 600 Lebih Warga Oebufu yang Mengungsi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Yayasan Cahaya Nusantara Bantu 600 Lebih Warga Oebufu yang Mengungsi


BAWA BANTUAN. Tim Yayasan Cahaya Nusantara NTT bekerja sama dengan Persekutuan Eden membawa bantuan untuk masyarakat Kelurahan Oebufu terdampak bencana badai Seroja yang sementara mengungsi di PPA IO 497 GMIT Benyamin Oebufu, Jumat (9/4). (FOTO: FENTI ANIN/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Yayasan Cahaya Nusantara Bantu 600 Lebih Warga Oebufu yang Mengungsi


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Yayasan Cahaya Nusantara NTT bekerjasama dengan Persekutuan Eden, memberikan bantuan untuk warga Kelurahan Oebufu terdampak bencana Siklon Tropis Seroja di Kota Kupang, yang sementara mengungsi di PPA IO 497 GMIT Benyamin Oebufu.

Rombongan Yayasan Cahaya Nusantara yang didampingi Pdt. Yandi Manobe menyerahkan bantuan itu, Jumat (9/4).

Sejumlah warga Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak total dan tidak bisa ditempati lagi. Jumlah warga yang mengungsi sebanyak 446 orang, dimana sebanyak 246 orang masih berstatus anak-anak.

Perwakilan Yayasan Cahaya Nusantara, Aristotales Cherlin menjelaskan, mereka menyalurkan bantuan dengan beberapa skema. Salah satunya bantuan susulan, yaitu berupa bantuan yang diberikan sesuai data yang diterima dengan melihat kebutuhan apa yang paling urgen di masyarakat.

“Bisa juga bantuan pengobatan. Misalnya kemarin saat bencana ada yang terkena musibah seng rumahnya diterbangkan angin dan lainnya, jadi bisa segera ditangani,” ujarnya.

Sementara kebutuhan urgen, kata Aristotales, berupa air bersih, makanan, dan minuman, tempat untuk tidur, peralatan mandi dan lainnya, serta kebutuhan primer lainnya.

Aristotales menjelaskan, yayasan ini bergerak di bidang kerohanian dan sosial. Oleh karena itu dalam bencana ini, Yayasan Cahaya Nusantara mengambil bagian untuk membantu masyarakat terdampak.

“Di balik musibah ini tidak mungkin kita hanya berpangku tangan. Kita harus bisa saling menolong, terutama mereka yang sangat membutuhkan. Kita diberikan kecukupan untuk bisa memberikan mereka yang tidak berkecukupan,” ujarnya.

Masih menurut Aristotales, saat ini, yang paling penting adalah data agar bantuan yang dibutuhkan benar-benar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Karena itu, sore ini (9/4) juga yayasan mulai mendistribusikan bantuan untuk kebutuhan primer.

“Kemarin kami sudah bantu di Bello, berupa seng, dan gereja-gereja. Di Kabupaten Malaka kita sudah bantu sembako dan tikar. Kita belum bisa distribusi bantuan bahan bangunan karena masih banjir, hal ini juga kami terapkan di sini, kami prioritaskan bantuan primer,” katanya.

Dia berharap, bisa membantu secara keseluruhan, tentunya Yayasan akan mencari donatur lagi. Diharapkan kebutuhan yang diperlukan sesuai dengan data yang diterima bisa dibantu semuanya, misalnya batu bata, seng, dan lainnya.

“Jadi kita berharap masyarakat juga bahu-membahu, kita semua masih diberikan kesehatan dan keselamatan, artinya kita harus bisa memberikan bantuan bagi sesama,” katanya.

Aristotales mengaku akan berkoordinasi dengan Gubernur NTT untuk bagaimana melihat dan memberikan relokasi yang tepat bagi masyarakat yang rumahnya sudah tidak bisa ditempati ataupun dibangun lagi.

Ketua Majelis Jemaat GMIT Benyamin Oebufu, Pdt. Oksi Pandie didampingi Tressa Rondo Nuban sebagai Koordinator PPA IO 497, mengatakan, jemaat Benyamin terus bersyukur kepada Tuhan, karena sampai saat ini, jemaat semua dalam keadaan sehat.

“Di Jemaat Benyamin Oebufu, dari rayon 1 sampai rayon 16, semuanya terdampak. Dan Kami dari gereja prioritaskan bagi mereka yang rumahnya benar-benar tidak bisa ditempati lagi, dan kami tampung di PPA maupun di gereja,” ujarnya.

Pdt. Oksi menyebutkan, di jemaat GMIT Benyamin Oebufu, ada 23 rumah rusak berat, dan memang tidak bisa ditempati lagi. Barang-barang juga tidak bisa diselamatkan lagi.

“Ada jemaat lain yang terdampak tetapi masih dalam kategori sedang dan ringan, atap rumah tidak ada, tetapi masih bisa diperbaiki dan masih bisa ditempati,” ujarnya.

Pdt. Oksi mengaku, pihaknya juga mengusulkan dan berkoordinasi dengan pemerintah agar masyarakat bisa diberikan bantuan.

Sementara Pdt. Yandi Manobe menjelaskan, yang paling penting adalah bagaimana menaruh rasa prihatin kepada mereka yang terdampak. “Kita semua mempunyai kemampuan untuk membantu, melalui relasi dan jaringan kita masing-masing. Kita koordinasi dan hari ini kita datang, kita percaya bahwa Tuhan yang membuka jalan,” katanya.

Pdt. Yandi menjelaskan, yang terpenting sekarang adalah data yang jelas agar mereka yang memberikan bantuan bisa segera mendistribusikan bantuan yang dibutuhkan. “Gereja harus menjadi bagian yang paling pertama berurusan dengan jemaat dan masyarakat terdampak. Berbicara tentang menjadi berkat, berbicara tentang kemanusiaan, kita tidak bisa terkurung dengan pemikiran yang sektoral saja,” ujarnya.

Yunus Taefa, jemaat Rayon I, GMIT Benyamin Oebufu, terdampak karena bencana kemarin, yang paling dibutuhkan sekarang adalah tempat tinggal. Karena rumah warga hampir semuanya tidak bisa ditempati lagi.

Jemaat lainnya, Imanuel Fai juga mengatakan hal yang sama. “Tempat atau rumah kami tidak bisa ditempati, karena itu kami harapkan bantuan, baik dari pemerintah maupun organisasi lainnya. Kami sangat bersyukur dengan adanya perhatian dari berbagai pihak. Termasuk memberikan bantuan obat-obatan, karena banyak warga yang saat ini sementara sakit,” ujarnya.

Usai menyerahkan bantuan, tim Yayasan Cahaya Nusantara bersama Ketua Majelis Jemaat Benyamin Oebufu dan Koordinator PPA meninjau ke lokasi bencana.

Tampak rumah-rumah warga yang sudah tenggelam dibawa longsor dan dalam keadaan rusak berat. Sebagian besar warga setempat sudah mengungsi dan rumah mereka dibiarkan kosong.

Banyak rumah warga yang sudah jebol dengan kondisi sangat memprihatinkan, tampak daerah tersebut sudah kosong ditinggalkan mengantisipasi adanya bencana susulan. (mg25)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top