Prof. Edvin Aldrian: Siklon Tropis Seroja di NTT Bukti Dampak Perubahan Iklim | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Prof. Edvin Aldrian: Siklon Tropis Seroja di NTT Bukti Dampak Perubahan Iklim


TANAH LONGSOR. Beberapa rumah warga di Kelurahan Oebufu yang bergeser akibat tanah longsor efek dari Siklon Tropis Seroja yang melanda Kota Kupang akhir pekan lalu. Para pakar menyebutkan siklon ini anomalinya aneh. (FOTO: FENTI ANIN/TIMEX)

NASIONAL

Prof. Edvin Aldrian: Siklon Tropis Seroja di NTT Bukti Dampak Perubahan Iklim


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Siklon Tropis Seroja yang melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama tiga hari, pada Jumat (2/4) hingga Senin (5/4) telah membawa banyak kerugian. Baik itu korban jiwa maupun harta benda.

Menyikapi ini, sejumlah pakar menyatakan siklon yang terbentuk di NTT merupakan sebuah fenomena aneh. Pasalnya, tidak semestinya badai ini terbentuk dan pusatnya berputar-putar di daratan.

Terhadap fenomena ini, peneliti meteorologi dan klimatologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Prof. Edvin Aldrian mengungkapkan, siklon tropis Seroja di NTT adalah bukti dampak perubahan iklim.

Pasalnya, menurut Prof. Edvin, siklon itu terjadi di area yang tidak semestinya. Seharusnya, kata dia, siklon tropis terjadi di daerah di atas 10 derajat lintang utara dan 10 derajat lintang selatan. Sementara NTT tidak berada di titik tersebut. ”NTT terletak di garis 8 derajat lintang selatan,” ujarnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi keberadaan potensi bibit siklon 98S berupa pusat tekanan rendah (low pressure area) di perairan selatan NTT sejak 2 April lalu. Pada Sabtu (3/4), BMKG merilis peringatan semakin kuatnya pusat tekanan rendah itu sehingga tumbuh menjadi bibit siklon tropis 98S.

Pada Minggu (4/4) menjelang tengah malam, BMKG mengumumkan bahwa 98S bisa berubah menjadi siklon tropis dalam waktu 2 hingga 3 jam ke depan atau Senin dini hari pukul 01.00 WIB (pukul 02.00 Wita).

”Karena ini masih dalam yurisdiksi TCWC (tropical cyclone warning system) Jakarta, siklon tropis ini diberi nama Seroja, sesuai dengan urutan penamaan siklon tropis,” jelas Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pada Minggu menjelang tengah malam (4/4).

Saat itu pusat sistem Seroja berada di perairan Kepulauan Rote, sekitar 24Km arah barat daya Kupang, NTT. Bergerak ke barat daya dengan kecepatan 3 knot atau sekitar 6 kilometer per jam menjauhi wilayah Indonesia.

Dwikorita menjelaskan, kecepatan maksimum di sekitar sistem Seroja adalah 30 hingga 35 knot atau 55 kilometer per jam. Tekanan di pusat siklon mencapai 996 hektopaskal dengan tendensi semakin kuat. Pada Senin malam (5/4), Dwikorita melaporkan bahwa pusaran Seroja semakin kuat. ’’Kecepatan angin sudah mencapai 45 knot atau 85 kilometer per jam,” jelasnya.

Seroja diperkirakan memiliki kekuatan yang kurang lebih sama dengan Siklon Tropis Cempaka yang terbentuk di Sebelah Selatan Jawa pada 2017 lalu. Meski demikian, menurut Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachry Radjab, dampak Seroja bisa lebih parah. “Karena posisinya yang relatif dekat dengan daratan dan kecepatan perpindahannya yang terhitung lambat,” jelas Fachry. (jpc/jpg)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top