Terdampak Parah Siklon Tropis Seroja, Sabu Raijua “Sepi” Perhatian | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Terdampak Parah Siklon Tropis Seroja, Sabu Raijua “Sepi” Perhatian


BUTUH PENANGANAN. Salah satu jalur transportasi di Pulau Sabu yang terputus akibat terjangan banjir efek Siklon Tropis Seroja, akhir pekan lalu. (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Terdampak Parah Siklon Tropis Seroja, Sabu Raijua “Sepi” Perhatian


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Kabupaten Sabu Raijua merupakan salah satu wilayah di NTT yang terdampak parah akibat bencana Siklon Tropis Seroja berupa angin topan dan banjir banding. Sayangnya, badai yang meluluhlantakkan wilayah itu hingga saat ini belum dilirik sehingga terkesan sepi perhatian dari negara dan bantuan berbagai pihak. Padahal pulau tersebut adalah pulau yang terisolir.

Hal tersebut dikemukakan Wakil Ketua Posko dan Tim Tanggap Bencana Siklon Tropis Seroja Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) , Pdt. Paoina Ngefak Bara Pa kepada media ini Sabtu (10/4). Pdt. Paoina mengatakan ini menyikapi fakta yang terjadi di Sabu Raijua berkaitan dengan bencana Siklon Tropis Seroja sejak Jumat (2/4) hingga Senin (5/4).
Pdt. Paoina mengemukakan, hasil komunikasi pihaknya dengan Ketua Majelis Klasis Sabu Barat-Raijua, Pdt. Heri Herewila terungkap jiga hingga H+5 bencana Siklon Tropis Seroja, belum ada perhatian serius dari negara dalam hal ini pemerintah.

Menurut Pdt. Ina –sapaan Pdt. Paoina– mengutip apa yang disampaikan Pdt. Heri dimana ia mempertanyakan apakah Pulau Sabu terluar ‎jadi dilupakan negara dalam hal ini pemerintah.

Pdt. Ina menambahkan, hasil pembicaraan pihaknya dgn Pdt. Heri, korban jiwa di Sabu sedikit tetapi korban harta benda sangat luar biasa besarnya. Diperkirakan 12 ribu rumah penduduk rusak parah, satu orang meninggal dunia, dan telah dikuburkan, dua sampai tiga orang anak buah kapal diduga hilang hingga saat ini karena kapal karam. Listrik padam total, jaringan telepon dan internet belum normal, akses jalan lumpuh total karena tiang listrik dan pohon yang tumbang membentang di jalanan.

Lebih lanjut Pdt. Ina menjelaskan, masyarakat telah bergotong-royong membersihkan dan memotong pohon tetapi karena jumlah yang terlalu banyak tetap membutuhkan gergaji mesin atau sensor. Karena itu, mereka membutuhkan sensor dan bahan bakar minyak.
Diuraikannya, berdasarkan penjelasan Pdt. Heri, badai siklon tropis Seroja telah menyebabkan banjir bandang yang membawa dan menghancurkan tanaman di kebun dan sawah serta hewan ternak peliharaan masyarakat.

Dengan demikian, lanjutnya, warga akan mengalami rawan pangan dalam beberapa hari ke depan. Mereka juga, ujar Pdt. Ina membutuhkan material bangunan, seng, paku karena semua material tersebut di Sabu Raijua sudah habis. Selain itu, kebutuhan akan terpal untuk menutup atap rumah yang bolong.

Selanjutnya Pdt. Ina mengatakan, warga enggan mengungsi karena lambannya penanganan pemerintah. Gereja-gereja menyiapkan posko posko tetapi kesulitan bahan makanan. Warga dalam segala keterbatasannya berinisiatif memperbaiki rumahnya sendiri yang digerus angin dan diterjang banjir bandang dengan cara mereka masing-masing.
Pdt. Ina memaparkan hasil komunikasinya dengan Pdt. Heri, kondisi gedung gereja di Klasis Sabu Raijua rusak berat, dua gedung gereja rata tanah sembilan gedung gereja atapnya diterbangkan angin, kantor klasis atapnya diterangkan angin, sisanya rusak sedang dan ringan.

Negara Harus Hadir

Pdt. Ina menegaskan, dalam pendekatan HAM bukan soal jumlah orang yang meninggal dunia, satu warga negara yang menjadi korban pun, negara dalam hal ini pemerintah harus hadir di sana untuk memberikan perhatian.

Apalagi katanya, Sabu Raijua itu terisolir, diguncang dua kali angin dan banjir bandang. Kehadiran Negara untuk memberi rasa tenang kepada masyarakat bahwa mereka tidak sendiri dalam bencana ini.

“Tolong pemerintah beri perhatian juga pada Sabu Raijua, pemerataan perhatian karena hampir seluruh NTT terdampak dan distribusi bantuan merata,” tegasnya.

Media ini mendapat laporan dari warga masyarakat di Sabu Raijua dengan sambungan telepon yang terbatas bahwa mereka sama sekali belum tersentuh perhatian berupa bantuan negara. Beberapa hari ke depan mereka pasti akan kelaparan, karena sawah, ladang dan kebun serta ternak yang dipelihara hanyut terbawa banjir bandang.
Dari foto foto yang diposting masyarakat di media sosial saat jaringan internet ada, kondisi sangat menyedihkan. Bangunan porak poranda disapu angin.

Bergerak Cepat

Aktivis HAM, Dr. Dominggus Elcid Li merespon beberapa daerah terisolir yang belum mendapat perhatian kepada media ini saat dihubungi Sabtu (10/4) mengatakan, perlu bergerak lebih cepat. “Kita perlu bergerak cepat untuk masuk ke daerah terdampak seperti Sabu Raijua dan pedalaman Timor yang miskin pemberitaan,” katanya.

Menurut dia, ini fase krusial, sehingga yang harus diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya dan cara sebaiknya, agar tidak perlu jatuh korban baru dan bencana baru pasca Siklon Tropis Seroja. (non/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top