Sudah Terimbas Covid-19, Kini Pertumbuhan Ekonomi NTT Tertahan Badai Seroja, Ini Penjelasan Kepala BI NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sudah Terimbas Covid-19, Kini Pertumbuhan Ekonomi NTT Tertahan Badai Seroja, Ini Penjelasan Kepala BI NTT


Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja (tengah) didampingi dua Deputi Kepala Perwakilan, Hery Catur Wibowo dan Daniel Agus Prasetyo dalam press conference di Lantai II Kedai Kopi Petir, Senin (12/4) siang. (FOTO: BORGIAS KOLLO/TIMEX)

BISNIS

Sudah Terimbas Covid-19, Kini Pertumbuhan Ekonomi NTT Tertahan Badai Seroja, Ini Penjelasan Kepala BI NTT


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Bencana alam Siklon Tropis Seroja yang melanda sebagian besar wilayah Provinsi NTT pada Jumat (2/4) hingga Senin (5/4) lalu berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi. Bahkan hingga sampai hari ini (12/4), belum dapat dipastikan besarnya potensi penghambat pertumbuhan ekonomi di 22 kabupaten/kota di NTT.

“Berapa besarnya potensi faktor penahanan pertumbuhan ekonomi NTT, sampai hari ini kami belum bisa pastikan. Sebab kami masih harus melakukan asesmen lebih mendalam terutama dengan Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk mengetahui besarnya dampak bencana badai Siklon Tropis Seroja terhadap perekenomian di NTT,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat menggelar press confrence di Kedai Kopi Petir, Senin (12/4) siang.

Menurut Ariawan Atmaja, besarnya potensi faktor penahan pertumbuhan ekonomi NTT baru bisa diketahui setelah ada data dan informasi antara lain luas lahan panen, peternakan, dan infrastruktur yang yang rusak akibat bencana hidrometeorologi di sebagian besar wilayah NTT ini.

“Yang sudah pasti pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, berdampak pada terbatasnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur,” tegas Nyoman Ariawan yang saat itu didampingi Deputi Kepala Perwakilan (Tim Perumusan dan Implementasi KEKDA), Hery Catur Wibowo dan Deputi Kepala Perwakilan (Tim Implementasi SP, PUR dan MI), Daniel Agus Prasetyo.

Ariawan menyebutkan, secara keseluruhan perekonomian NTT pada tahun 2020 mengalami kontraksi 0,83 persen (ctc), lebih rendah dibandingkan tahun 2019 yang tumbuh 5,24 persen(cto).

Ariawan menjelaskan, terhambatnya pertumbuhan perekonomian NTT tahun lalu karena pandemi Covid-19 yang berdampak pada melambatnya permintaan domestik seiring kebijakan physical distancing dan pembatasan aktivitas masyarakat NTT untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Kendati demikian, Nyoman kembali menyatakan optimismenya bahwa perekonomian NTT tahun 2021 diperkirakan mengalami perbaikan. Hal ini didorong oleh vaksinasi yang sudah dilaksanakan sejak awal tahun 2021 yang diharapkan mampu memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat. “Dari sisi lapangan usaha (LU), perbaikan diprakirakan didorong oleh LU pertanian, kehutanan, dan perikanan seiring meningkatnya target produksi komoditas unggulan di NTT seperti padi, jagung, mete, kopi, dan peternakan,” jelas Nyoman.

Hal lain yang ikut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT tahun ini, lanjut Araiwan, adalah meningkatnya anggaran pemerintah, baik yang bersumber dari APBN dan APBD di NTT serta pembangunan proyek strategis nasional (PSN) yang berlanjut di tahun 2021. Hal diprakirakan akan mendorong LU administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, serta LU konstruksi.

“Pada Triwulan I-2021, kinerja perekonomian Provinsi NTT diprakirakan membaik seiring berlanjutnya tatanan normal baru. Dari sisi pengeluaran, perbaikan permintaan domestik diprakirakan terus berlanjut, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang didukung oleh perpanjangan stimulus pemerintah dan juga perbaikan investas seiring berlanyutnya pembangunan PSN serta meningkatnya confidence pelaku usaha berpotensi mendorong perbaikan kinerja investasi,” pungkasnya. (ogi)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top