Derita Nelayan di Pelabuhan Perikanan; Kapal Hancur Berantakan, Butuh Uluran Pemerintah | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Derita Nelayan di Pelabuhan Perikanan; Kapal Hancur Berantakan, Butuh Uluran Pemerintah


TERSISA PUING. Yeskiel, seorang nelayan di Kota Kupang yang selama ini mengais hidup di Pelabuhan Perikanan Tenau hanya bisa menatap puing-puing perahu yang hancur lebur akibat terjangan Badai Siklon Seroja yang melanda Kota Kupang akhir pekan lalu. Perahu miliknya juga turut menjadi korban keganasan Seroja. (FOTO: YOPPY/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Derita Nelayan di Pelabuhan Perikanan; Kapal Hancur Berantakan, Butuh Uluran Pemerintah


Badai Siklon Seroja yang melanda Provinsi NTT pada 4 – 5 April 2021 lalu membawa duka bagi banyak orang. Badai yang tak disangka-sangka ini telah meluluhlantakkan sejumlah fasilitas umum muapun property pribadi milik masyarakat. Salah satu yang paling terdampak musibah ini adalah nelayan.

————

Siklon Tropis Seroja telah menimbulkan hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang yang berujung banjir, tanah longsor, dan banjir pesisir atau banjir rob akibat gelombang pasang. Sejumlah nelayan yang selama ini bersandar di Pelabuhan Perikanan Tenau-Kupang ikut menderit akibat serangan badai Seroja itu.

Tak kurang 150 perahu nelayan, bertonase antara 3 – 26 GT hancur berantakan. Mesin-mesin perahu, peralatan tangkap seperti lampara tenggelam di dasar laut pelabuhan perikanan yang dalamnya sekitar 4-6 meter.

Rabu, 14 April 2021, TIMEXKUPANG.com mencoba melihat dari dekat kondisi pelabuhan perikanan yang terletak di Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Pelabuhan Perikanan Tenau diapit oleh Pelabuhan Peti Kemas dan Pelabuhan Pertamina. Di atas areal dermaga, berdiri satu bangunan besar dan ada beberapa bangunan kecil.

Terdapat satu dermaga besar, satu jembatan yang menghubungkan dermaga dengan satu dermaga kecil. Jembatan penghubung antara daratan dengan dermaga kini sudah roboh akibat terjangan Seroja pekan lalu.

Sejumlah nelayan terlihat sedang duduk di sebuah bangunan yang terdapat di tempat itu. Ada juga yang berada di sekitaran tempat tambatan perahu sambil memandang ke arah puing-puing perahu yang hancur dan masih berada di dalam air.

Sedangkan seorang nelayan, Yeskiel, warga Kelurahan Naioni sedang mengemas sebuah coolbox berisi ikan tongkol ukuran sedang. “Oh ini untuk umpan saja sebentar malam. Sudah satu minggu tidak melaut karena perahu hancur semua. Ini sebentar malam baru turun,” kata Yeskiel ketika ditanya.

Ada sekitar 150 nelayan yang selama ini menjadikan Pelabuhan Perikanan Tenau-Kota Kupang sebagai tempat berlabuh. Ketika badai datang melanda pekan lalu, perahu dan alat tangkap milik para nelayan tidak bisa diselamatkan.

Perahu yang terbuat dari bahan kayu dan fiber hancur berantakan. Puing-puingnya kini berserakan di sekitar areal pelabuhan dan sebagiannya masih di dalam pelabuhan. Tak Cuma itu, mesin-mesin kapal, genzet, lampara serta peralatan lainnya tenggelam di areal pelabunan tambat perahu. Bahkan sebagian lamparan terbawa arus.

“Hancur semua pak. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi,” ujar Yeskiel lirih. Sudah seminggu kami tidak melaut,” ujarnya lagi.

Nelayan lainnya, Stefan Boger, warga Kelurahan Alak, Kecamatan Alak mengakui hal yang sama. “Masih ada sekitar 100 mesin kapal di dalam laut. Belum lagi lampara, genzet. Tiap hari kita menyelam untuk mengangkut apa yang bisa kita angkut. Kalau hanya andalkan tenaga manusia pasti sonde bisa. Kami ada minta bantuan ekskavator lewat serikat pekerja tapi sampai sekarang belum ada kabar,” ungkap Stefan yang perahunya berkekuatan 10 GT turut hancur.

Setiap hari, para nelayan korban Seroja hanya diisi dengan duduk-duduk di sekitar areal pelabuhan. Ada juga yang membantu nelayan lain yang kebetulan perahunya masih utuh dan sempat melaut. “Tiap pagi kita bantu teman yang melaut. Dari pada merenungi nasib mendingan kita bantu-bantu kawan saa…,” ujarnya.

Baik Yeskiel maupun Stefan Boger, harapan mereka kini hanyalah uluran tangan pemerintah dengan memberikan bantuan alat tangkap maupun perahu sehingga mereka bisa melanjutkan pekerjaan sebagai penangkap ikan.

Diakui Stefan bahwa beberapa hari sebelumnya sudah ada pendataan dari Dinas Perikanan Kota Kupang, sementara bantuan pun belum kunjung datang. “Bantuan yang sangat mendesak buat kami dan teman-teman adalah perahu. Bagi kami, perahu ini ibarat piring nasi kami. Sekarang kan perahu kami sudah hancur. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kami berharap bantuan perahu dan alat tangkap dari pemerintah. Apalagi sebagian besar teman-teman mempunyai kredit di koperasi dan bank, ” ujarnya lagi.

Stefan kembali menekankan bahwa selain bantuan perahu untuk mereka, yang paling mendesak adalah bagaimana mengangkat mesin kapal dan lampara yang masih berada di dasar laut pelabuhan yang dalamnya sekira 4-6 meter.

“Kami butuh ekskavator untuk pakai angkat. Selama beberapa hari ini menyelam pakai kompresor sebagai alat bantu pernapasan,” demikian katanya. Hanya bisa angkat yang kecil-kecil saja,” katanya dibenarkan sesama nelayan yang berada di pelabuhan itu.

Yehezkiel menambahkan bahwa perahu miliknya dibeli dengan sistem kredit. Ia bingung bagaimana membayar cicilan jika tidak lagi melaut akibat perahu miliknya diterjang badai. Tak hanya perahu, lampara miliknya juga turut tenggelam terbawa arus pada malam kejadian itu.

“Saya hanya punya satu perahu dan sudah hancur. Lampara juga sudah hanyut. Kita harap ada bantuan dari pemerintah bagi kami untuk bisa melanjutkan pekerjaan sebagai nelayan,” katanya.

Pantauan di Pelabuhan Perikanan Tenau, Rabu (14/4), sejumlah nelayan terlihat hanya duduk-duduk saja di sebuah bangunan yang ada. Puing-puing perahu baik dari kayu dan fiber berserakan di sekitar pelabuhan. Puing-puing itu merupakan bagian dari perahu yang hancur.

Sementara di tempat penambatan perahu, terdapat beberapa perahu yang tidak bisa difungsikan lagi. Bahkan ada perahu yang tinggal sebagiannya saja dibiarkan mengapung. Nampak pula peralatan seperti lampara yang mengapung.

Terlihat kondisi pelabuhan juga yang rusak di sejumlah bagian. Demikian pula sebuah jembatan perikanan yang menghubungkan dengan dermaga perikanan juga roboh diterjang badai siklon Seroja serta sebuah stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan juga roboh. (aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top