Banyak Korban Bencana Butuh Perhatian, PMI NTT Malah Biarkan Stok Bantuan Kadaluwarsa | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Banyak Korban Bencana Butuh Perhatian, PMI NTT Malah Biarkan Stok Bantuan Kadaluwarsa


BANTUAN PMI. Sejumlah bantuan dalam kontainer PMI ini belum tersalurkan ke masyarakat yang berhak menerima. Bahkan ada sebagian yang sudah kadaluwarsa. (FOTO: ISTIMEWA)

KABAR FLOBAMORATA

Banyak Korban Bencana Butuh Perhatian, PMI NTT Malah Biarkan Stok Bantuan Kadaluwarsa


Ketua PMI: Jangan Berandai-andai, DPRD: Kalau Kepala Tidak Mampu, Sebaiknya Mundur

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Bantuan tanggap darurat berupa paket kebutuhan keluarga (family kit) milik Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang NTT diduga tak tersalurkan karena sudah kedaluwarsa.

Sesuai hasil penelusuran Timor Express, Selasa (13/4), bantuan tersebut nampak disimpan digudang yang beralamat di Jalan Soeharto, tepat di belakang Gereja Paulus Naikoten dan kontainer di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI NTT.

Sumber terpercaya Timor Express yang sangat mengetahui kondisi ini mengaku, paket family kit tersebut disediakan untuk tanggap darurat ketika adanya bencana paling lambat 6 jam setelah kejadian.

Merujuk tugas pokok PMI, kata sang narasumber, yang pertama adalah penanganan atau penanggulangan bencana. Penanganan bencana diberikan dengan memberikan pertolongan dan bantuan kepada korban karena bencana alam. Penanganannya seperti mengevakuasi korban bencana, melakukan pertolongan pertama, mendirikan penampungan darurat dan dapur umum, dan menyediakan akses air bersih dan sanitasi, maka secara otomatis harus sediakan bahan tanggap darurat tersebut.

Ia menyebutkan, bantuan tersebut dikirim dari PMI Pusat untuk menyalurkan kepada masyarakat saat dilanda bencana alam. Namun bantuan tersebut sudah disimpan sejak lama sehingga tidak bisa menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada warga, tidak saja korban bencana Seroja tetapi juga bencana lainnya di NTT.

Sumber anonim ini melanjutkan, disaat bencana Seroja pun PMI NTT juga tidak melakukan aksi tanggap darurat dan hanya menunggu bantuan dari PMI Pusat. “Family kit yang disiapkan berupa paket yang berisi alat kebersihan, pakaian serta perabot darurat. Sesuai standar bantuan untuk korban bencana,” katanya.

Masih menurut sang narasumber, bantuan yang tersimpan di gudang di belakang gereja Paulus model lama yang dikemas di ember. Ada pula terpal dan alat untuk dapur umum namun tidak tersalurkan sehingga sudah rapuh. Sedangkan family kit di dalam kontainer dikemas di kotak/karton.

Disebutkan, masker medis yang disimpan sekian lama sejak gunung Rokatenda meletus akhirnya berjamur dan terpaksa harus di bakar disaat-saat genting Covid-19 melanda NTT.

“Jadi di dalam dos itu semuanya sudah lengkap termasuk handuk, sampo dan sabun serta softek namun sudah kedaluwarsa,” tandasnya.

Ketua PMI NTT, Guido Fulbetus ketika dikonfirmasi terkait dengan dugaan family kit yang kedaluwarsa tersebut enggan menjelaskan secara detail karena dirinya harus mengetahui siapa yang memberikan informasi ini.

“Menulis itu sesuatu yang benar, jangan berandai-andai. Saya juga jurnalis dan bersertifikat. Siapa yang beri informasi itu karena saya harus tau siapa yang memberikan informasi tidak jelas seperti itu,” katanya.

Sebelumnya, Guido mengaku pihaknya sudah mendistribusikan bantuan kepada warga di Adonara, Lembata, Malaka, dan Kota Kupang berupa family kit masing-masing 100 paket, Selimut 100 lembar, terpal 50 lembar, dan dua unit mobil tangki untuk Adonara dan Lembata.

“Tangki air ini bertujuan untuk melayani air bersih kepada warga pengungsian di posko di Adonara dan Lembata,” sebutnya.

Guido melanjutkan, pihaknya juga mengirim tim medis dengan empat orang dokter yang ditugaskan ke Adonara, hanya saja pihaknya belum mendapat laporan balik pasca pendistribusian.

Ditambahkan, selain itu pihaknya juga menjalurkan dukungan bantuan ke Kabupaten Alor, Sabu Raijua, Sumba Timur, dan Kabupaten Kupang masing-masing beras 250 kg dan terpal 50 lembar.

“Untuk yang lain sementara didistribusi namun terdapat kendala dalam proses pendistribusian karena proses pengiriman barang menggunakan kapal laut,” sebutnya.

Guido membenarkan bahwa bantuan yang disalurkan tersebut merupakan kiriman PMI Pusat sedangkan dari PMI NTT hanya beras dan terpal. “Ya kalau tadi beras dan terpal untuk kabupaten lainnya dari Provinsi NTT,” tandanya.

Anggota DPRD NTT, Yan Windi menyayangkan adanya bantuan yang rusak atau kedaluwarsa sebelum tersalurkan. Dikatakan mestinya ini menjadi tanggung jawab moral dari pihak yang diamanatkan untuk menyalurkan bantuan. Jika tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk pendistribusian seharusnya melakukan koordinasi dengan instansi yang memiliki sumber daya untuk itu.

“Saya akan tanyakan ini. Disaat kita dalam kondisi bencana, apalagi setiap tahun kondisi bencana selalu dihadapi NTT, mengapa bisa barang-barang itu menumpuk dan tidak tersalur,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Ditambahkan memang lembaga vertikal seperti PMI yang bertugas mengurus bencana tidak diintervensi secara langsung anggarannya namun setiap lembaga negara yang ada di daerah bertugas dan betanggungjawab atas tugasnya.

“Kalau kepalanya tidak mampu menangani bencana sebaiknya mundur saja. Persoalan kemanusiaan NTT sangat banyak tapi bantuan saja tidak tersalurkan dan rusak atau kedaluwarsa berarti kepalanya tidak benar itu,” sebutnya.

Usai menerima laporan pengaduan dari masyarakat tersebut, politikus Partai Gerindra itu mengaku akan menindaklanjuti dengan melakukan pembahasan dengan komisi sehingga bisa memantau langsung kondisi barang tersebut. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top