Cegah Covid-19 Menyebar di Posko Pengungsian, Lab Biokesmas NTT Lakukan Hal Ini | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Cegah Covid-19 Menyebar di Posko Pengungsian, Lab Biokesmas NTT Lakukan Hal Ini


POOL TEST. Kegiatan swab PCR massal oleh tim Lab Biokesmas Provinsi NTT bagi para pengungsi terdampak bencana Siklon Tropis Seroja, di posko pengungsi gedung GMIT Kaisarea, Kelurahan Kolhua, Kota Kupang, NTT. Selasa (13/4). (FOTO: DOK. LAB BIOKESMAS NTT)

KABAR FLOBAMORATA

Cegah Covid-19 Menyebar di Posko Pengungsian, Lab Biokesmas NTT Lakukan Hal Ini


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Di tengah upaya penanganan pandemi Covid-19 yang belum mereda, Provinsi NTT menerima bencana dahsyat berupa banjir, angin kencang, tanah longsor, gelombang pasang akibat Siklon Tropis Seroja yang melanda Bumi Flobamora pada Jumat (2/4) hingga Senin (5/4).

Puncak bencana Seroja terjadi pada Minggu (4/4) hingga Senin (5/4) dinihari telah meluluhlantahkan ribuan rumah warga di berbagai wilayah di Provinsi NTT. Tak terhitung banyaknya rumah yang mengalami kerusakan berat sehingga banyak warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa harus mengungsi.

Sejumlah titik aman dijadikan sebagai lokasi pengungsian, diantaranya tempat ibadah, sekolah dan rumah warga. Berhadapan dengan pengungsian yang terjadi dan untuk mencegah penularan virus SAR-Cov2, Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT (Lab Biokesmas) Provinsi NTT mendesain tes massal bagi para pengungsi. Proses persiapan sudah dilakukan sejak tanggal 7 April 2021 dengan mengunjungi posko-posko pengungsian yang tersebar di Kota Kupang.

“Kami mencoba untuk menjaga agar tidak terjadi klaster penyebaran baru Covid-19 di posko pengungsian. Untuk itu kami berinisiatuf turun ke lokasi pengungsian untuk menyurvei pada hari kedua setelah badai siklon, kemudian dilanjutkan swab PCR di salah satu lokasi pengungsian,” kata Dr. Fima Inabuy, Kepala Lab Biokesmas Provinsi NTT dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/4).

Menurut Dr. Fima, Gereja GMIT Kaisarea, BTN Kolhua di Jln. Fetor Funay, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang menjadi salah satu tempat pengungsian bagi warga terdampak bencana badai Seroja.

Pengungsi di GMIT Kaisarea berjumlah 40 KK atau 100 jiwa. Usia para pengungsi bervariasi, mulai dari bayi, hingga orang lanjut usia. Dan semuanya ditampung di salah satu ruangan yang seluas 42M2. Dengan kondisi ini, kata Dr. Fima, dimana semua warga pengungsi harus tidur dan berkumpul bersama, berdekatan, tentu sangat berisiko terjadinya penularan Covid-19.

“Pertimbangan inilah yang menjadi alasan tim Lab Biokesmas melakukan swab pooled-test di lingkungan pengungsian GMIT Kaisaria pada Selasa (13/4),” terang doktor lulusan Amerika Serikat yang ahli biologi molekuler ini.

Doktor Fima menyebutkan, jumlah pengungsi yang diswab sebanyak 80 orang, terdiri dari 59 warga pengungsi dan 21 staf gereja yang sehari-hari berinteraksi dan melayani para pengungsi.
Analisis sampel menggunakan qPCR menunjukkan hasil terkonfirmasi negatif untuk semua yang diswab tersebut. Akan tetapi, masih ada sebagian pengungsi yang tidak berada di tempat ketika swab dilakukan pada 13 April 202. Sebagian sedang bekerja dan sebagian lain sedang berada di lokasi rumah mereka untuk mengambil barang-barang dan melakukan perbaikan.

BACA JUGA: Persiapkan Kuliah Offline, Lab Biokesmas Swab Massal di Politani

Meski demikian, lanjut Dr. Fima, pihak Lab Biokesmas tetap berkomitmen untuk melakukan pemeriksaan terhadap seluruh warga pengungsian tanpa terkecuali. “Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Gereja Kaisarea, agar dipisahkan dulu untuk sementara, antara pengungsi yang telah diswab dan yang belum, agar penularan atau infeksi dapat diantisipasi apabila seandainya ada yang terkonfirmasi positif nantinya,” pesan Dr. Fima.

Dikatakan, belum dapat dipastikan hingga kapan semua warga pengungsi akan ditampung di wilayah pengungsian gereja. Saat ini, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang sedang mengupayakan program relokasi namun hanya diperuntukkan bagi warga terdampak yang memiliki sertifikat tanah.

Hal inilah yang menjadi kendala utama bagi warga pengungsian yang kenyataannya menempati lokasi perumahan yang belum memiliki sertifikat tanah yang jelas. Akibatnya, mereka diprediksikan akan tetap berada di lokasi pengungsian dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Kondisi ini relevan, di mana para pengungsi perlu terus didampingi dan diperiksa secara berkala, selama mereka masih berada di tempat pengungsian. Di sinilah pentingnya surveilens untuk mencegah penularan,” lanjut Dr. Fima.

Program surveilens, demikian Dr. Fima, merupakan salah satu layanan terbaru yang saat ini sedang dijalankan oleh tim Lab Biokesmas sebagai wujud kepedulian terhadap warga terdampak bencana yang selama di lokasi pengungsian yang lebih rentan terhadap penularan Covid-19.

Khusus untuk relawan bencana badai Siklon Seroja yang masuk dan keluar Provinsi NTT, Lab Biokesmas saat ini memberikan layanan tes PCR secara gratis. Program lainnya yang juga sedang dipersiapkan Lab Biokesmas bersama Dinas Pendidikan Provinsi NTT adalah Program Surveilens Sekolah dalam rangka persiapan tahun ajaran baru.

Berbagai informasi seputar kegiatan di Lab juga dapat diikuti di beberapa sosial media resminya yaitu: Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT (group Facebook) dan @biokesmasofficial (Instagram). (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top