Ini Data Kerusakan Lahan Pertanian di Belu, Jaringan Irigasi Maubusa Rusak Total | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ini Data Kerusakan Lahan Pertanian di Belu, Jaringan Irigasi Maubusa Rusak Total


Penjabat Bupati Belu, Zakarias Moruk didampingi Wakil Bupati Belu terpilih meninjau saluran irigasi Bendungan Maubusa yang rusak diterjang banjir. (FOTO: JOHNI SIKI/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Ini Data Kerusakan Lahan Pertanian di Belu, Jaringan Irigasi Maubusa Rusak Total


ATAMBUA, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sudah mendata dan melaporkan kondisi infrastuktur, areal dan tanaman pangan yang rusak di wilayah itu akibat bencana banjir dampak Siklon Tropis Seroja yang melanda NTT akhir pekan lalu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, Gerardus Mbulu saat di konfirmasi Selasa (12/4) mengatakan, data kerusakan lahan pertanian yang terjadi di sejumlah lokasi sudah disampaikan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

Menurut Gerardus, kerusakan yang terjadi akibat bencana siklon Seroja didata sesuai klasifikasi tingkat kerusakan luas lahan, jenis tanaman, dan infrastruktur.

Gerardus menyebutkan, data kerusakan tanaman pangan hortikultura dan perkebunan di Kecamatan Raihat, terutama di Desa Asumanu terdapat kerusakan lahan padi seluas 31,02 hektar. Desa Tohe tanaman padi seluas 6 hekatare dan tanaman cabai merah seluas 5 hektar juga rusak diterjang banjir. Di Desa Manumutin, lahan pertanian padi seluas 12,1 hekatare dan tanaman kacang hijau seluar 0,5 hektare, serta cabai merah seluas 26 hekatare pun terdampak banjir.

“Dari tiga desa ini, masuk kategori rusak ringan dan rusak berat karena terbawa banjir dan tertutup lumpur. Kerusakan ini terjadi karena luapan banjir dari Bendungan Maubusa lantaran rusaknya jaringan irigasinya,” ujarnya.

Gerardus melanjutkan, kerusakan juga terjadi di Desa Takirin, Kecamatan Tasifeto Timur. Di lokasi ini, terdapat tanaman padi seluas 2,36 hektare rusak tersapu banjir. Tingkat kerusakan di wilayah ini masuk kategori ringan.

Selain itu, di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, lahan food estate padi seluas 2,5 hekatare milik kelompok Cendana Wangi juga ikut terdampak banjir dari Bendungan Rotiklot. Meski demikian, kerusakan di lokasi food estate ini masuk dalam kategori ringan.

Berikutnya di Desa Tasain, Kecamatan Rai Manuk, lahan padi seluas 8,6 hektare, lahan jagung seluas 24,7 hektare, kacang tanah 3,58 hektare, cabai merah 32,32 hektare, sayuran 11,91 hektare, dan bawang merah seluas 0, 39 hektare pun rusak tersapu banjir.

Dikatakan, dari sejumlah lokasi yang tingkat kerusakannya masuk kategori berat ada di Kecamatan Raihat. Ini karena lahan pertanian warga tertimbun longsor bahkan terbawa banjir akibat luapan Bendungan Maubusa di Desa Asumanu. Bangunan jaringan irigasi volume 625 meter mengalami rusak total.

Gererdus menyebutkan, saluran irigasi Maubusa merupakan aset Pemprov NTT, sehingga apabila belum diperbaiki tentunya berdampak terhadap produktifitas petani, dimana lahan warga tidak dapat digarap pada musim tanam kedua nanti. “Data kerusakan area lahan termasuk infrastruktur kita sudah kami laporkan,” ujarnya.

Gerardus mengaku, Pemkab Belu berjanji membantu material kepada petani korban bencana berupa benih untuk mempersiapkan musim tanam kedua. Pasalnya, tanaman, baik padi maupun jagung yang sudah terendam banjir bakal mempengaruhi kualitas sehingga kurang layak untuk menjadikan benih. Penanganan bantuan baru bisa dilakukan pasca panen.

“Tentunya humus tanah tergerus banjir sehingga akan dibantu pengolahannya. Tetapi saat ini masih lebih fokus pada lahan pertanian. Sesuai pantauan di lokasi, ada lokasi yang bisa panen tapi mutunya tidak sama,” pungkasnya. (mg33)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top