Memiliki 10 Botol Bom Ikan, Dua TSK Asal Rote Terancam Hukuman Mati | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Memiliki 10 Botol Bom Ikan, Dua TSK Asal Rote Terancam Hukuman Mati


TUNJUKAN BB. Dirpolairud Polda NTT Kombes Pol. Andreas Heri Susi Darto memperlihatkan barang bukti salah satu botol bahan peledak yang berhasil diamankan aparat, dan kini dalam proses penyidikan oleh Ditpolairud NTT. Hadir Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto, didampingi penyidik serta tersangka dalam keterangan pers di Mako Polairud Polda NTT, Selasa (20/4). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Memiliki 10 Botol Bom Ikan, Dua TSK Asal Rote Terancam Hukuman Mati


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) terus melakukan pengamanan terhadap wilayah perairan di Bumi Flobamora.

Salah satu buktinya, petugas berhasil mengamankan sebanyak dua orang yang diduga melakukan tindak pidana membuat, memiliki, menguasai, menyimpan, dan membawa bahan peledak (Bom Ikan) di wilayah Kabupaten Rote Ndao.

Dari hasil pemeriksaan dan penyidikan, kedua nelayan asal Rote Ndao itu mengakui perbuatanya dan dijerat dengan pasal berlapis dengan ancaman hukuman mati.

“Motif para pelaku membuat bahan peledak untuk (bom ikan rakitan) karena proses penangkapan ikan sangat mudah, namun tidak mempertimbangkan dampak dari aksi mereka tersebut,” ujar Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto saat konferensi pers di Mako Ditpolrairud Polda NTT, Selasa (20/4).

Selain mudah dalam proses penangkapan ikan, dikatakan pelaku yang sudah profesional itu bisa menangkap ikan sangat banyak serta mendapatkan keuntungan pribadi yang berlimpah dan menjual bom rakitannya kepada rekan seprofesinya.

Dijelaskan bahwa kasus yang tejadi di wilayah perairan Rote Ndao NTT ini terjadi pada 3 Maret 2021 dengan LP/03/III/2021.

“Sekitar pukul 07.00 Wita, tim gabungan crew Kapal KP XXII-3015 dan Subditgakkum telah memeriksa dan mengamankan dua orang dengan inisial HA dan YL di jalan Desa Hundi Hopo, Kecamatan Rote Ndao dan ditemukan bahwa mereka membawa 10 botol bom ikan untuk dijual kepada nelayan lokal dengan tujuan sebagai alat penangkapan ikan. Selanjutnya para pelaku dibawa ke Ditpolairud Polda NTT,” jelas Kombes Rishian.

Ditambahkan, para tersangka diduga melanggar pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang senjata api dan bahan peledak dan pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara setinggi-tingginya 20 tahun lamanya.

Dari tangan tersangka, diamankan barang bukti berupa 10 botol bom ikan, satu unit HP merk Realme warna merah, satu unit HP merk Nokia warna putih, satu unit sepeda motor merk Yamah Mio dengan nomor polisi DH 2273 GB, satu lembar STNK sepeda motor Yamaha Mio, dan uang tunai sebanyak Rp 543.000.

Dirpolairud Polda NTT, Kombes Pol. Andreas Heri Susi Darto, mengaku selama tahun 2021 ini, pihaknya telah berhasil mengungkap sebanyak 7 kasus. Empat kasus diantaranya sudah dilimpahkan (P21) dan tiga kasus dalam proses penyidikan.

Kombes Andreas menjelaskan, tiga kasus yang masih dalam penanganan yakni kasus yang berhasil diungkap diperairan Rote Ndao, diperairan Flores Timur (Flotim), dan satu kasus di perairan Manggarai Barat (Mabar) yang ditangani langsung Balai Taman Nasional Komodo (BTNK).

Atas kasus ini, Kombes Andreas mengimbau kepada seluruh masyarakat NTT, khususnya masyarakat pesisir dan para nelayan agar tidak menggunakan bahan peledak ketika mencari ikan atau biota laut lainnya.

Diminta agar masyarakat pesisir dan para nelayan ikut menjaga ekosistem laut, sebab kerusakan yang timbul akibat bom sangat fatal bagi terumbu karang serta akan merugikan diri sendiri.

“Untuk itu saya mengimbau agar mari bersama kita jaga terumbu karang di perairan NTT ini agar anak cucu kita dapat menikmatinya dikemudian hari. Pertumbuhan terumbu karang cuma 1 cm pertahun, untuk itu jangan pernah menggunakan bahan peledak dalam mencari ikan,” tegas Andreas. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top