Merayakan Hari Kartini di Masa Pandemi Covid-19 dan Pasca Siklon Tropis Seroja | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Merayakan Hari Kartini di Masa Pandemi Covid-19 dan Pasca Siklon Tropis Seroja


Guru Besar Undana, Mintje Ratoe Oedjoe. (FOTO: ISTIMEWA)

OPINI

Merayakan Hari Kartini di Masa Pandemi Covid-19 dan Pasca Siklon Tropis Seroja


Oleh: Mintje Ratoe Oedjoe *)

Setiap tahun tanggal 21 April, kita merayakan hari Kartini didasarkan pada Keppres RI No 108 tahun 64 tanggal 2-5-1964, yang isinya mengenai penetapan Raden Ajeng Kartini (RA Kartini)  sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan menetapkan hari Lahir Kartini tanggal 21 April diperingati  sebagai hari besar.

Perayaan hari Kartini di setiap wilayah berbeda-beda. Saat penulis masih usia anak, Sekolah Rakyat (SR) di Ende, kami ikut merayakan dengan lomba menari, menyanyi, pakaian adat, dan pawai. Kami senang sekali menonton figure Kartini yang dipilih dari perempuan cantik Ende dengan berkebaya Kartini dan naik mobil Jeep Willis open cap berkeliling lapangan sepak bola Ende. Saat itu di ujung lapangan sepak Bola Ende ada pohon sukun tempat Bung Karno merenungkan Pancasila. Bapak-bapak juga berpartisipasi ikut lomba membuat nasi goreng dan bermain sepak bola dengan pakaian perempuan.

Setelah penulis menjadi aktivis perempuan dan aktif di TP PKK Provinsi NTT sejak November 1978 s/d Juli 1998,  dan juga sebagai dosen FIP-FKIP Undana sejak Juli 1977, semakin paham bahwa merayakan hari Kartini  karena tujuan kita adalah mewariskan cita-cita dan nilai luhur serta semangat perjuangan Kartini oleh seluruh masyarakat. Utamanya generasi muda agar makin tebalnya tekad untuk mewujudkan cita-cita Kartini.

Merayakan Hari Kartini tidak akan pernah kita lakukan  secara rutin belaka, sebab perayaan hari Kartini yang berlangsung setiap tahun selalu akan berlangsung  dalam kehidupan kita yang berkembang dinamis. Apalagi kita, terkhusus warga NTT pada 4 April diserang Siklon Tropis Seroja yang menyebabkan angin kencang, banjir bandang, dan longsor di beberapa wilayah.

Diketahui bahwa sudah dua tahun kita merayakan hari Kartini dalam kondisi pandemi Covid-19 yakni tahun 2020 dan kini tahun 2021. Dan terbaru pada 4 April 2021 dihantam Siklon Tropis Seroja. Sangat menyedihkan karena banyak warga yang terpapar dan bahkan meninggal karena Covid-19. Begitupun dengan hantaman Siklon Tropis Seroja. Sekalipun kondisinya sangat memprihatinkan, dan menyedihkan, kami tetap merayakan Hari Kartini dengan berbagai cara dan media. Ini karena tujuannya ingin mewariskan cita-cita, nilai-nilai luhur, semangat dan karya pikir Kartini.

Cita-cita, Nilai Luhur, Semangat dan Karya Pikir Kartini

Mari kita kembali membuka buku Habis Gelap Terbilah Terang. Buku kumpulan surat-surat yang ditulis oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Kumpulan surat-surat Kartini  tersebut dikumpul dan dibukukan oleh J. H. Abendanon dengan judul  Tot Duisternis Door Light  yang artinya Kegelapan Menuju Cahaya. Buku tersebut pertama kali diterbitkan pada 1911. Kemudian tahun1922 oleh empat saudara buku tersebut disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Mencermati buku Habis Gelap Terbitlah Terang akan dijumpai cita-cita, nilai luhur, semangat dan karya pikir Kartini. Cita-cita Kartini antara lain perempuan mendapat hak dan kebebasan  yang sama terutama mendapat kesempatan mengenyam PENDIDIKAN sehingga harkat kaum perempuan meningkat.

Beberapa Nilai luhur Kartini diantaranya; 1. Nilai keberanian dan pantang menyerah, sekalipun dibendung dan tidak takut gagal. 2. Nilai ketekunan dan kegigihan. Kartini tekun membaca dan belajar bahasa Belanda dan Inggris. Melalui membaca membuka jendela dunia, menjadi tahu dan cerdas. Melalui kemampuan berbahasa ia mampu berkomunikasi dan berdiskusi. 3. Nilai gotong royong, 4. Nilai religius dan toleransi, menghargai perbedaan  seperti teman-temannya beragama non muslim namun tetap  saling menghormati. 5. Nilai inovatif dan independen, berusaha keluar dari kebiasaan yang merugikan dan menghambat kemajuan.

Semangat Kartini antara lain dapat dikemukakan yaitu semangat emansipasi, semangat pengabdian, dan semangat belajar. Kartini  berusaha agar perempuan keluar dan melepaskan diri dari kedudukan yang tidak adil dan setara dengan kaum laki-laki. Karya pikir Kartini menyangkut antara lain emansipasi perempuan untuk memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi, dan kesetaraan hukum.

Merayakan Hari Karitini di Masa Covid-19 dan Pasca Siklon Tropis Seroja

Menurut catatan yang ada, Indonesia  mengatakan kasus Covid-19  pertama kali dikonfirmasi pada Senin, 2 Maret 2020. Namun menurut beberapa pendapat tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas  Indonesi (FKM-UI), virus korona diprediksi telah masuk Indonesia sejak minggu ketiga Januari 2020.

Dengan demikian sudah setahun lebih virus korona masuk Indonesia. Terkait dengan Hari Kartini, maka pada 21 April 2020 untuk pertama kali kita merayakan Hari Kartini di tengah pandemi Covid-19. Kembali pada 21 April 2021, kita merayakan hari Kartini di masa pandemi Covid-19.

Kita tidak bisa berpawai memakai pakaian Kartini, bertanding dan macam-macam kegiatan yang dikreasi untuk merayakan hari Kartini. Fakta yang ditemui, meskipun pandemi Covid-19 tetap melanda Indonesia, ternyata  semangat memperingati hari Kartini tetap terasa. Tetap menjadi Kartini-kartini di masa pandemi Covid-19, dan pasca Siklon Tropis Seroja yang memporak-porandakan serta melenyapkan harta benda, dan nyawa manusia.

Dengan berbagai cara sederhana perempuan dan laki-laki termasuk di NTT tetap merayakan Hari Kartini. Dengan WFH dan stay at home, dapat membaca, meningkatkan ketrampilan melalui webinar online menekuni kerja home care-al membantu anak belajar dan domestic activity, menanam-berkebun, berjualan online, mengembangkan hobi-menjahit masker, meracik obat dan jamu-jamu untuk meningkatkan imunitas tubuh, melaksanakan kegiatan spiritual, dan gotong-royong membangun rumah-rumah yang roboh dan hilang. Membersihkan puing-puing kehancuran akibat Siklon Tropis Seroja. Termasuk menyalurkan tali kasih bagi yang sedang terpapar Covid -19 dan terkena  musibah Siklon Tropis Seroja.

Tidak ada kumpul massa , tidak ada membawa rombongan besar yang tidak jelas tupoksinya, sebab pengumpulan massa berpotensi menyebarkan Covid-19. Relawan Siklon Seroja adalah mereka yang dengan iklas membantu masyakarat yang sedang susah dan tidak mampu bangkit karena bena-benar tak punya modal fisik, sosial dan akses untuk bangun.

Sebagai contoh, Mama Lena (bukan nama sebenarnya ), seorang janda dengan dua anak, yakni perempuan berumur 9 tahun, dan laki-laki berusia 11 tahun. Duduk di kelas 3 dan 5 SD. Mama Lena bekerja sebagai tukang cuci-strika di tiga keluarga BTN setiap hari Senin, Rabu, dan Kamis.

Hari Minggu, Selasa, Jumat, dan Sabtu, Mama Lena melakukan kegiatan keagamaan dan menemani anak-anak di rumah sekaligus bertanam dan membersihkan rumah karena enam lembar seng rumahnya tertiup angin entah kemana.

Penulis bertanya padanya: Mama Lena hari ini adalah Hari Kartini. Tidak atur anak perempuan pakai baju adat untuk merayakan  hari Kartini di sekolah ko? Di jawab “tidak”. Mama Lena melanjutkan: ta tempo dulu, sejak SD di kampong kami rayakan Hari Kartini, saya kagum  belajar sejarah dan melihat foto Kartini. Beliau perempuan pintar, sederhana, cantik, berwibawa, gesit, sanggul dan kebayanya sangat khas.

Cara saya merayakan Hari Kartini di masa pandemi Covid-19 dan pasca Siklon Tropis Seroja, yakni bekerja mencari uang untuk urus anak-anak, terutama sekolah mereka, menjadi perempuan yang hidup sesuai dengan perintah Tuhan.

Saya berdoa agar anak-anak saya tidak hidup seperti saya, mereka harus sekolah, dengar-dengaran pada orang tua dan takut akan Tuhan dan kelak bisa hidup lebih baik dari beta.

Setiap pagi jam 4.30, beta bangun pagi, bamasak, kemudian anak-anak bantu bersihkan rumah, dan sarapan pagi lalu siap belajar daring di rumah keluarga dekat rumah yang punya WIFI.

Saya ke tempat kerja berjalan kaki, pakai masker, dan saat di tempat kerja saya SMS anak-anak , dan bertanya sudah makan, tidur siang dan kemudian belajar. Sore hari saya pulang rumah membawa sayur untuk dimakan besok.

Sesekali saya membawa anak-anak ke tempat kerja agar mereka melihat bagaimana mamanya  bekerja yang halal dan jujur. Saya seminggu sekali buat ramuan tradisional yaitu jahe, serei, kunyit, daun sirih, dan daun sambiloto untuk diminum oleh kitong bertiga. Kitong perempuan sekarang merayakan hari Kartini dengan cara tetap tunjukkan nilai dan semangat R.A. Kartini. Pintu sudah terbuka, cita-cita yang diperjuangkan Kartini sudah kita nikmati. Jadikanlah pribadi Kartini dengan berpegang pada cita-cita, nilai, semangat, karya pikirnya sebagai bagian dalam karya dan pengabdian kita sehari-hari. SELAMAT MERAYAKAN HARI KARTINI, 21 April 2021!!!

*) Guru Besar Undana Kupang

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top