Pagar Batu dan Kisah Bayi 9 Bulan Diselamatkan dari Amukan Badai Seroja | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pagar Batu dan Kisah Bayi 9 Bulan Diselamatkan dari Amukan Badai Seroja


ADA SENYUM. Angel Suilima, bayi 9 bulan yang digendong ibunya (kiri), berhasil selamat setelah dibawa orang tuanya berlindung di balik pagar batu saat badai Seroja menerjang Senin (5/4) dinihari lalu. (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pagar Batu dan Kisah Bayi 9 Bulan Diselamatkan dari Amukan Badai Seroja


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Seorang bayi berusia sembilan bulan berhasil diselamatkan ketika amukan angin kencang dan hujan deras badai Siklon Tropis Seroja menerjang Rote Ndao dua pekan lalu. Upaya penyelamatan pun berlangsung dramatis.

Dalam dekapan sang ayah, Angel Suilima digendong kemudian menerobos malam yang gelap mencengkam dalam amukan badai Siklon Tropis Seroja. Mereka sekeluarga selamat setelah berlindung di balik pagar batu disaat angin kencang dan hujan deras mengguyur. Sementara rumah keluarga Suilima ini pun hancur berkeping.

Keluarga ini beranggotakan lima orang. Hanya ketika badai itu menerjang, si sulung Sardi Suilima, 20, sedang berjuang mendapatkan sesuap nasi dengan mengadu nasib di negeri orang alias merantau. Sementara sang adik, Erna Suilima, 17, masih terus menggejar mimpi dan impianya menggapai cita di bangku SMK, sehingga untuk sementara, tidak tinggal bersama kedua orang tuanya.

Sehingga disaat Seroja mulai mengamuk, Ayub Suilima, 51, dan Maria Jonas, 44, istrinya, serta si bungsu, Angel Suilima, bayi sembilan bulan, hanya tinggal bertiga di dalam rumahnya yang beralamat di RT 004/RW 002, Dusun Istua, Desa Kuli Aisele, Kecamatan Lobalain.

Ayub merupakan satu dari 32 Kepala Keluarga (KK) yang tercatat sebagai warga transmigrasi lokal (Translok) di desa tersebut. Dimana, sejak tahun 2010 silam, Ayub dan keluarganya sudah mendiami rumah semi permanen seluas 42 meter persegi atau berukuran 6 x 7 meter.

Sama sekali tak disangka, kalau tempat tinggal mereka harus porak-poranda, dihantam badai Seroja dengan begitu kejam. Hancur berantakan, dan tidak menyisahkan sedikitpun tempat untuk bisa berteduh. Hanya, reruntuhan rumah yang berserakan disapu rata dengan tanah, yang baru diketahui pada pagi hari, Senin (5/4).

Sedih, teramat sedih. Itulah perasaan yang dirasakan oleh Ayub, sebagai KK. Sebab, Ayub, hanya seorang petani sawah, dan mengaku sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya.

Terpukul, tak hanya untuk musibah yang merusak rumahnya. Tetapi Ayub begitu terpukul dengan membayangkan jika terjadi hal buruk terjadi atas buah hatinya yang masih bayi. Berikut dirinya dan juga istri, setelah terhindar dari ancaman Seroja yang sangat berbahaya itu.

Hanya ungkapan syukur yang diucapkanya, sembari berterima kasi atas kemurahan Tuhan atau keluarga mereka. “Saya bersyukur, dan berterima kasih, karena sudah diselamatkan. Dan kami harus tabah menghadapi ini,” tutur Ayub Suilima, menceritakan kronologis, saat dia dan keluarganya terhindar dari amukan Seroja kepada media ini Senin (12/4).

Ayub, mengisahkan, di depan dadanya, si buah hati yang masih bayi itu, didekap erat saat keluar meninggalkan rumah. Mereka memutuskan keluar dari rumah sekira pukul 03.00 Wita, Senin (5/4) dini hari. Beruntung keputusan Ayub membawa istri dan anaknya keluar dari rumah mencari perlindungan dilakukan dengan tepat. Begitu pagi hari mereka kembali, rumahnya sudah rata dengan tanah tersisa sebagian puingnya saja.

Sebelum keluar dari rumah, demikian Ayub, pada Minggu (4/4) malam dirinya tidak bisa tidur. Karena sesekali, terus mengecek keadaan rumahnya, dengan bolak-balik, keluar-masuk kamar sambil menengadah ke bagian atas rumah.

Penerangan yang digunakan pun seadanya. Hanya sebuah lampu ‘tioek’ (lampu pelita), yang digunakanya, tetapi padam berulang-ulang karena tertiup angin. Tetapi Ayub, tetap berusaha untuk mengamati bagian-bagian rumah yang dianggap rawan.

Begitu juga, Maria, istrinya. Walau sambil terbaring, Maria, berusaha untuk terus mendekap hangat si buah hati putri bungsunya, Angel Suilima. Dan Maria, tetap terjaga. Sehingga dari rasa takutnya terhadap hal buruk yang mengancam mereka, beberapa kali Maria, menayakan keadaan kepada suaminya, sembari bangun dari tempat tidurnya.

“Istri saya tanya, karmana aman ko? Saya hanya jawab aman, tetapi sebenarnya keadaan sudah tidak aman lagi,” ungkap Ayub, yang berusaha menguatkan sekaligus menenangkan perasaan istrinya.

Sementara masih di dalam rumah, lanjut Ayub, nyalinya pun seketika terasa ciut disaat rumahnya bergetar lumayan lama. Seolah akan tercabut oleh angin kencang yang terus mendera, membuat suasana kian mencengkam.

Kondisi rumah Ayub Suilima, di lokasi Translok Istua, Desa Kuli Aisele  yang rata tanah, usai diterjang ganasnya badai Seroja. Gambar diabadikan Senin (12/4). (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

Bagaimana tidak, saat itu tak ada suara lain yang terdengar, selain suara angin yang bertambah sangat kencang kecepatanya. Dahsyatnya angin itu, membawa daun, ranting dan juga dahan kayu berhamburan terhempas jauh. Dan pohon-pohon besar sekalipun ikut patah dan tumbang, karena tak mampu menahan terjangnya angin Seroja.

“Kami takut, karena angin tambah kencang. Sampe-sampe bawa daun, kayu tabrak rumah. Rumah tagoyang rasa-rasa mau tacabut dan saya langsung panggil istri untuk siap-siap lari,” kenang Ayub.

Angin yang terus bertambah kencang, seoalah mengisyaratkan Ayub sekeluarga, untuk secepatnya lari mencari tempat perlindungan. Sehingga mereka pun mulai bergegas, tetapi belum langsung keluar dari dalam rumah. Sebab, di luar sana, hujan masih mengguyur, dengan suasana yang begitu mencekam dalam malam yang gelap-gulita.

Mereka masih bertahan di dalam rumah, saat beberapa lembar seng/atap rumah mulai dicabut dan terhempas ditiup angin kencang. Beberapa lembar seng pun ikut tercabut, satu per satu menyusul. Seketika, satu sisi atap rumahnya tak ada lagi yang bisa menghalangi air hujan masuk ke dalam rumah.

Rumah mereka yang semi permanen itu, kembali terguncang. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya, sehingga Ayub kemudian meraih anaknya Angel, untuk digendong.

Walau diliputi perasaan takut, namun Ayub, langsung menerobos gelap malam itu. Bersama istrinya, mereka kemudian lari keluar, untuk mengamankan diri ketika beberapa material rumahnya mulai runtuh, dihantam angin kencang.

“Saya yang gendong Angel, dan lari keluar karena takut kena/tertimpa material rumah. Kami bersembunyi di belakang pagar batu, dan hujan masih turun ,” tutur Ayub.

Saat berlari, Ayub harus membungkukan tubuhnya. Selain untuk menghindarkan diri dari material yang dihempaskan angin, posisi membungkuk itu juga lebih diutamakan untuk melindungi Angel, putri kecilnya, yang sementara didekap erat di dadanya.

“Sangat kasihan kepada Angel, Tapi mau bagaimana lagi, karena kami harus keluar mencari tempat bersembunyi,” ucap Ayub.

Saat badainya sedikit mereda, ditambah jarak pandang yang mulai membaik, sekitar pukul 04.30, barulah mereka keluar dari persembunyian. Di rumah salah satu tetangganya kira-kira berjarak 200-an meter, Angel, akhirnya bisa berteduh dari hujan yang mulai deras, dan bisa tertidur pulas.

Sementara ayah dan ibunya, kemudian meratap nasib. Rumah yang ditempati sebelumnya masih utuh, sekejap saja sudah lenyap diterjang Seroja. Rata tanah, dengan puing-puing yang berhamburan.

Surat berharga dan beberapa barang lainnya kemudian dipilih-pilih dari reruntuhan rumah. Ada yang rusak, ada juga yang masih bisa diperbaiki. Tetapi tidak terlalu banyak yang lolos dari amukan badai itu, apalagi material bahan bangunan.

Karena dengan kekuatanya, Seroja begitu dahsyat menghempas ke sana dan ke mari material rumah berupa kayu dan seng. Diterbangkan hingga beberapa meter jaraknya dari rumah.

Akibatnya, tak hanya rumah Ayub, 37 unit rumah translok lainnya pun bernasib sama, dengan kondisi rata tanah. Dimana, 6 unit rumah tak berpenghuni, dan tidak menelan korban jiwa. Yang secara keseluruhan dilaporkan oleh pemerintah desa setempat, sebanyak 169 unit rumah dan bangunan terdampak badai itu.

“Semuanya ada 169 unit. Rincianya 162 rumah, dan 7 gereja serta sarana umum lainnya, dengan kategori rusak ringan, sedang dan berat,” kata Yermias Thine, Kepal Desa Kui Aisele. (mg32)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top