Memprihatinkan, Warga Batuleli yang Karantina Tidur Beralaskan Spanduk Bekas | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Memprihatinkan, Warga Batuleli yang Karantina Tidur Beralaskan Spanduk Bekas


MEMPRIHATINKAN. Beginilah kondisi yang dialami oleh warga Dusun Batuleli, dengan tempat tidur seadanya, yang beralaskan tikar lantai dan spanduk bekas, pada malam pertama masa karantina di ruang kelas I, SD Inpres Moklain, Rabu (28/4). (FOTO: Max Saleky/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Memprihatinkan, Warga Batuleli yang Karantina Tidur Beralaskan Spanduk Bekas


BA’A, TIMEXKUPANG.com-Warga Dusun Batuleli, Desa Lidamanu, yang menjalani karantina terpusat karena terkonfirmasi positif Covid-19 terpaksa harus tidur beralaskan spanduk bekas. Kondisi ini terjadi pada Rabu (28/4), yakni malam pertama di tempat karantina yang menggunakan gedung SD Inpres Moklain.

Gedung sekolah ini digunakan setelah hasil tracking terhadap warga yang kontak erat menunjukan hasil positif, dan jumlahnya terus bertambah. Berdasarkan hasil rembug kilat, diputuskan warga yang positif hasil rapid antigen di karantina di gedung sekolah itu.

Pantauan TIMEX, sebelum mengakhiri tracking oleh tim medis, tim Satgas Covid tingkat Kecamatan, yakni Camat dan Sekcam, serta beberpa orang dari tim Satgas Kabupaten Rote Ndao langsung berembuk memikirkan tempat karantina untuk menampung warga yang terkonfirmasi positif. Dan diketahui, sebelumnya telah berkoordinasi dengan tim satgas tingkat Kabupaten Rote Ndao.

Disepakati, dua gedung yang terdiri dari gedung perpustakaan dan sekolah ini digunakan untuk menampung warga yang terpapar, hasil kontak tracking. Selanjutnya, kebutuhan makan, minum serta tempat tidur, oleh tim satgas Kecamatan, diumumkan untuk disiapkan secara swadaya.

Permintaan tersebut disampaikan karena menyusul penambahan kasus positif saat itu melonjak drastis. Sontak, tim satgas tingkat Kecamatan Rote Tengah, kelabakan dan terjebak dalam ketidaksiagaan, dalam menyiapkan langkah alternatif. Satgas pun, kalang-kabut mempersiapkan tempat karantina.

Beruntung, dari hubungan kekeluargaan yang begitu dekat oleh warga Dusun Batuleli, sehingga pemuda dibantu orang tua, langsung sigap merespon permintaan Satgas Kecamatan. Mereka bergegas, dengan tempo waktu beberapa saat, lokasi karantina dipersiapkan, tanpa didampingi petugas Satgas.

“Bagi warga yang hasil pemeriksaan negatif, dimohon kerja samanya untuk membantu pak Kepsek SD Inpres Moklain, untuk mempersiapkan gedung sekolah. Karena mau digunakan oleh saudara-saudara kita yang terkonfirmasi positif,” kata Sekcam Rote Tengah, Eduard Pellondou, menggunakan pengeras suara, dengan menambahkan, segala kebutuhan, untuk sementara waktu ditanggulangi sendiri/swadaya.

“Makan dan minum malam ini ditanggung sementara oleh masing-masing. Selanjutnya merupakan tanggung jawab Satgas, termasuk makan dan minum yang sudah ditanggung,” sambungnya.

Sebanyak 34 warga yang ditampung/karantina, terdiri dari 2 orang lansia, 20 dewasa, dan 11 anak-anak serta seorang Balita. Jumlah tersebut, dengan pembagianya, masing-masing 4 orang di ruang kelas I, IV, VI dan ruang guru/kantor, 3 orang di ruang perpustakaan, 6 orang di ruang kelas V, dan 9 orang di ruang kelas III. Mereka yang tak bergejala (OTG), jumlah ini dipisahkan dari total 48. Sehingga 14 warga lainnya menjalani masa karantina di Rusun Ne’e, karena bergejala.

Ironisnya, tidak ada kesiapan yang berarti dari tim Satgas, Desa, Kecamatan hingga Kabupaten untuk mengatisipasi terjadinya lonjakan kasus positif. Padahal, sehari sebelumnya, Selasa (27/4) di tempat yang sama, yakni dusun Batuleli, telah terkonfirmasi jumlah kasus 20 positif, dari 28 warga yang di-tracking.

BACA JUGA: Kasus Covid-19 di Batuleli Terus Menanjak, Tambah Lagi 48 Kasus

Akibatnya, secara dadakan, meja dan kursi siswa hanya dipindahkan/dikeluarkan dari dalam ruang kelas. Berikut, alat dan bahan praktik yang digunakan oleh siswa, harus dipindahkan secara tergesa-gesa.

Selanjutnya, dengan keterbatasanya, masing-masing, warga mulai menyiapkan tempat tidur untuk beristirahat. Bagi yang bersama anak kecil apalagi balita, harus meyiapkan tempat yang bisa meredam hawa dingin dari lantai, ditambah kelambu/pelindung diri dari nyamuk.

Sedangkan lainnya, tak terlalu memikirkan kondisi tersebut, dengan hanya beralaskan media seadanya, seperti tikar lantai. Bahkan, ada pula yang menggunakan spanduk bekas, berukuran 1 x 2 meter, untuk alas lantai, sebagai tempat tidurnya.

“Keadaanya su (sudah) begini, jadi yang penting bisa tidur to. Pake tahan-tahan sa sudah,” kata MS, salah anggota Satuan Linmas desa Lidamanu, kepada TIMEX, Rabu (29/4) yang saat itu bersama dua rekan lainnya, masing-masing YAT, Kepala Urusan Keuangan, dan YF, yang juga anggota Linmas, yang menempati ruang kelas 1 SD Inpres Moklain, sebagai tempat karantina.

MS, mengakui, tak ada kasur atau spon yang dapat dibawa untuk dijadikan tempat tidur di tempat karantina. Berikut kondisiya pun terjadi di luar dugaan, yang membuatnya harus kembali ke rumahnya untuk mencari media yang dapat digunakan untuk tidur.

MS berharap, kondisi tersebut menjadi perhatian serius oleh tim Satgas. Sehingga tidak berdampak pada kondisi kesehatan warga saat menjalani masa karantina di gedung SD Inpres Moklain. “Terpaksa beta harus pulang rumah ko cari. Kebetulan ada spanduk yang pernah beta simpan, makanya beta bawa ko bisa tidur to,” kata MS.

Tempat tidur yang digunakan warga di tempat tersebut memang cukup memprihatinkan. Walau beberapa diantaranya menggunakan kasur/spon, dan matras olahraga yang dimiliki sekolah, tetapi jumlahnya tak terlalu banyak. Begitu juga kasur dan tikar lantai, yang ukuranya relatif tipis, terpaksa dibawa dan digunakan pada malam pertama karantina.

Kondisi tersebut akhirnya direspon tim Satgas Kecamatan. Beberapa unit kasur dari desa Siomeda, dibantukan ke Batuleli. Begitu juga dari Satgas Kabupaten, yang sesuai informasi yang diperoleh Timor Express, Kamis (29/4), akan menambah kasur melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.

“Ada 6 unit kasur/spon yang kami bantu ke Batuleli. Tahun lalu, dari desa yang pengadaan untuk antisipasi,” kata Sekretaris Siomeda, Elia Pello.

Untuk diketahui, tracking lanjutan yang dilakukan oleh tim medis, khusus warga Dusun Batuleli, telah dilakukan terhadap 31 warga. Hasilnya, 6 dinyatakan positif rapi test antigen, dan sedang menjalani karantina mandiri di rumah masing.

Sedangkan di SMP Negeri 1 Rote Tengah, kontak tracking yang dilakukan, semuanya negatif dari 28 orang. Sementara di Leli, tambah satu kasus dari 5 orang yang ditracking. Sehingga total kasus saat ini khusus dari Dusun Batuleli mencapai 81 kasus positif Covid. (mg32)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top