Asesmen Nasional (AN): Ini Merdeka Belajar, Pak! | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Asesmen Nasional (AN): Ini Merdeka Belajar, Pak!


Plt Kepala SMPN 6 Kupang, Aryandi Beny Mauko. (FOTO: ISTIMEWA)

OPINI

Asesmen Nasional (AN): Ini Merdeka Belajar, Pak!


(Sebuah Catatan Kritis tentang Kebiasaan Salah Kaprah)

Sebuah perubahan paradigma pendidikan tidak selalu mendarat mulus, baik pada level pemahaman konsep apalagi penerapannya. Tengok saja beberapa tragedi yang terjadi dalam perjalanan pendidikan kita. Sebut saja, kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang diluncurkana pada 1994. Konsep yang mendasari lahirnya kurikulum ini tentulah sangat baik dan berkenaan pada kebutuhan masa itu. Namun apa yang terjadi dalam penerapannya?

Agar siswa aktif belajar, muncul kecenderungan perilaku menyuruh siswa mencatat isi buku. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pada masa itu, muncul konotasi CBSA (Catat Buku Sampai Habis).

Kemudian berlanjut pada lahirnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada 2004 yang ditahun 2006 disempurnakan dan diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kedua kurikulum ini, proses pembelajaran ditekankan pada capaian kompetensi siswa. Khusus pada masa KTSP, penyusunan kurikulum diserahkan sebagai kewenangan setiap satuan pendidikan.

Pemerintah pusat, dalam hal ini melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) hanya menyiapkan Standar Isi (SI) dan Standar Kelulusan (SKL). Tugas setiap satuan pendidikan adalah mengembangkan kurikulum berdasarkan SI dan SKL yang ada sesuai dengan karakteristik setiap satuan pendidikan.

Lalu, kenyataannya apa yang terjadi? Sudahkan satuan pendidikan secara mandiri mengembangkan KTSP berdasarkan karakteristik sekolahnya? Praktik yang terjadi adalah perilaku copy paste kurikulum dari sekolah lain di luar sana, terkhusus pada silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Ini pertanda bahwa roh KTSP tidak diwujudkannyatakan. Mungkin ada yang akan mengatakan bahwa kami tidak, tetapi sebagai praktisi saya jujur memastikan bahwa kecenderungan ini umumnya ada dan nyata.

Merefleksi akan fenomena di atas, tentu akan muncul pertanyaan, kok bisa? Mengapa? Jawabannya, pertama, mungkin saja pengaruh yang paling mendasar adalah bawaan sifat alamiah manusia yang ingin praktis dan tidak mau melakukan hal yang merepotkan diri. Hal kedua yang dimungkinkan berterima adalah belum terbiasanya guru ditambah kurangnya pemahaman atau kompetensi guru dalam merumuskan sendiri kurikulum dalam hal ini silabus dan RPP.

Hal ketiga yang memungkinkan juga adalah belum dibangunnya sistem dan budaya kerja yang menegaskan ruang bagi guru untuk mengesplorasi diri secara mandiri untuk melakukan hal-hal inovatif. Hal keempat, yang paling memungkinkan juga adalah tidak tersedianya ruang, akses, dan kesempatan bagi rata-rata guru untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan pengembangan kurikulum. Kata mereka, guru yang ikut diklat, hanya orang-orang itu saja, entah karena pertimbangan apa.

Hari ini, kita sedang disuguhkan dengan revolusi pendidikan ala Mas Menteri Nadiem Makarim lewat Program “Merdeka Belajar”. Program “Merdeka Belajar” menurut Mendikbudristek akan menjadi arah pembelajaran ke depan yang fokus pada peningkatan sumber daya manusia. “Merdeka Belajar” merupakan permulaan dari gagasan untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional yang terkesan monoton.

“Merdeka Belajar” menjadi salah satu program untuk menciptakan susasana belajar di sekolah yang bahagia bagi peserta didik dan guru (https://gtk.kemdikbud.go.id.). Oleh karena itu, “Merdeka Belajar” paling tepat digunakan sebagai filosofi perubahan dari metode pembelajaran selama ini. Sebab, dalam “Merdeka Belajar” terdapat kemandirian dan kemerdekaan bagi lingkungan pendidikan menentukan sendiri cara terbaik dalam proses pembelajaran.

Menurut Nadiem, “Merdeka Belajar” dibutuhkan di era ini. Anak-anak tidak lagi harus mengikuti kurikulum yang tersedia, namun menggunakan metode belajar yang paling cocok digunakan. Kemerdekaan itu juga berlaku untuk guru di dalam kelas, agar dapat menentukan sendiri cara mengajar yang terbaik untuk anak didiknya. Guru secara merdeka memilih elemen-elemen dari kurikulum terbaik. Guru tidak dibebani dengan sistem administrasi yang banyak dan terkesan kejar tayang untuk menyelesaikan administrasi lalu mengabaikan substansi pembelajaran. Kemerdekaan juga berlaku bagi kepala sekolah untuk secara mandiri dapat menentukan apa yang terbaik dalam hal menggunakan anggaran (bdk Kompas.com, 27 Agustus 2020).

Salah satu aspek yang menjadi sasaran kebijakan “Merdeka Belajar” adalah kegiatan penilaian lingkup nasional. Selama ini untuk kepentingan pemetaaan kualitas pendidikan secara nasional, maka diterapkan skema Ujian Nasional (UN). Pada prinsipnya UN adalah kegiatan pengukuran capaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentu secara nasional dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan.

UN merupakan penilaian hasil belajar oleh pemerintah pusat yang bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu (Permendikbud No.43 tahun 2019). UN berakhir tahun 2020. Sebagai gantinya, dalam semangat “Merdeka Belajar” pada tahun 2021 ini diluncurkan skema baru dengan nama Asesmen Nasional (AN). Nah, agar kita tidak salah kaprah dan terantuk pada batu yang sama, maka ada baiknya kita memahami gagasan perubahan Mas Menteri dan roh “Merdeka Belajar” yang tertuang dalam konsep-konsep dasar AN pengganti UN. Risiko tidak paham adalah akan ada kecenderungan melaksanakan AN serasa UN. Kita sering sulit move on dan berkata selamat tinggal pada masa lalu. Kita lebih suka berpelukan dengan masa lalu dan bernostalgia dibandingkan bergerak cepat menerima suatu perubahan. Ini dimaklumi karena terlalu lama kita berkutat pada sistem pendidikan yang sangat formalistik. Moga-moga tidak!

AN merupakan upaya untuk memotret secara komprehensif mutu proses dan hasil belajar satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh Indonesia. Informasi yang diperoleh dari AN diharapkan digunakan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran di satuan pendidikan yang pada gilirannya dapat meningkatkan mutu hasil belajar peserta didik. Tidak seperti UN yang terfokus pada evaluasi capaian peserta didik yang berada di kelas 6, 9, dan 12 secara individ. AN terfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, pengajaran, dan juga layanan dan lingkungan pendidikan.

Hasil AN digunakan untuk mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan yang mencakup proses, input, dan juga hasil. Tujuan dari AN adalah (1) mendorong guru mengembangkan kompetensi kognitif yang mendasar sekaligus karakter murid secara utuh; (2) menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompetensi dan karakter murid; dan (3)) memberi gambaran tentang karakteristik esensial sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut.

Tiga instrumen AN, yakni (1) Asesmen Kompetensi Minimum (AKM); (2) Survei Karakter; dan (3) Survei Lingkungan Belajar. Pertama, AKM. AKM terdiri atas literasi membaca dan numerasi. Literasi membaca adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah, mengembangkan kapasitas individu, sebagai Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat.

Numerasi merupakan kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. AKM diberikan dalam bentuk soal yang akan dikerjakan peserta didik. Ada lima bentuk soal, yaitu pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat, dan uraian.

AKM menggunakan sistem survei yang hanya diikuti oleh peserta didik kelas 5 SD/MI sebanyak 30 orang, kelas 8 SMP/MTs sebanyak 45 orang, dan kelas 11 SMA/MA/SMK sebanyak 45 orang. Kedua, Survei Karakter. Survei karakter dikerjakan oleh peserta didik untuk mendapatkan informasi hasil belajar sosial-emosional. Survei karakter ini akan mengukur enam aspek Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Ketiga, Survei Lingkungan Belajar. Survei Lingkungan Belajar dikerjakan oleh murid, guru, dan kepala sekolah untuk mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar mengajar di sekolah. Survei Lingkungan Belajar mengumpulkan informasi tentang kualitas proses pembelajaran dan iklim yang menunjang pembelajaran (Modul AKM, Pusat Asesmen dan Pembelajaran; Kompas.com,19 Oktober 2020).

Untuk menghindari kecemasan serta ketersesatan berpikir dan bertindak dari peserta didik, orang tua, masyarakat umum bahkan guru terkait pelaksanaan AN, maka Mendikbud dalam berbagai kesempatan selalu menegaskan beberapa hal. Hal-hal tersebut adalah AN itu (1) tidak menentukan kelulusan; (2) tidak diberikan di akhir jenjang; (3) hasilnya tidak memuat nilai secara individu; (3) hasilnya  diharapkan jadi dasar perbaikan pembelajaran; (4) hasil AN 2021 akan digunakan sebagai data baseline, tidak untuk menilai kinerja satuan pendidikan atau pun wilayah. Oleh karena itu, ia menyerukan agar tidak boleh ada persiapan-persiapan khusus atau tambahan dalam bentuk seperti les tambahan, kursus, bimbingan belajar, dan bentuk sejenisnya untuk mengikuti AN. Hal itu hanya menambah beban psikologis peserta didik. Pernyataan ini terus dikemukanan Menteri dalam berbagai kesempatan karena ada kekuatiran bahwa kebijakannya ini disalahartikan yang berakibat salah penerapan, sebagaimana kebiasaan yang terjadi pada masa-masa lalu.

Berbagai pernyataan Mendikbud tersebut secara terang-benderang menjelaskan bahwa peserta didik, orang tua bahkan guru dan satuan pendidikan tidak perlu membuat program khusus untuk mempersiapkan peserta didik. Misalnya tentang pelaksanaan AKM yang direncanakan akan dilaksanakan pada bulan September 2021. Sekolah hanya mempersiapkan perangkat TIK. Sekolah tidak tidak perlu menggelar kegiatan les tambahan soal-soal AKM, try out dan lainnya. Jika hal itu terjadi, maka sekolah sedang bernostalgia dengan UN. Biarkan peserta didik dalam keadaan ‘apa adanya’ mengikuti AKM. Toh, pelaporan hasil AKM dirancang untuk mmberikan informasi mengenai tingkat kompetensi peserta didik. Tingkat kompetensi itu akan dimanfaatkan guru berbagai mata pelajaran untuk Menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan tingkat capaian peserta didik.

Dengan demikian teaching at the right level dapat diterapkan. Apa maksud teaching at the right level? Maksudnya adalah berdasarkan hasil AKM, akan tergambar profil setiap peserta didik dengan level kompetensi yang berbeda. Nah, tugas guru adalah merancang dan menerapkan strategi pembelajaran berdasarkan level-level kompetensi peserta didik dimaksud. Literasi membaca dan numerasi dibedakan menjadi tiga level.

Pada literasi membaca, level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi dan integrasi, serta evaluasi dan refleksi. Pada numerasi, ketiga level tersebut adalah pemahaman, penerapan, dan penalaran. Konten, pada literasi membaca menggunakan dua jenis teks yakni teks informasi dan teks fiksi. Sedangkan pada numerasi, kontennya terdiri atas empat kelompok, yakni bilangan, pengukuran dan geometri, data dan ketidakpastian, serta aljabar. Konten-konten ini merupakan tingkat kognitif yang menunjukkan proses berpikir untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Sedangkan konteksnya menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang diigunakan. Konteks AKM dibedakan atas tiga yakni personal, sosial budaya, dan saintifik. Dengan demikian, pembelajaran yang dirancang guru dengan memperhatikan tingkat capaian peserta didik akan memudahkan peserta didik menguasai konten atau kompetensi yang diharapkan pada suatu mata pelajaran.

Mencermati dan memahami secara saksama buah pikir Mendikbudristek yang tertuang dalam konsep-konsep dasar AN di atas, penulis sebagai praktisi beranggapan bahwa inilah era kebangkitan pendidikan Indonesia.

Era di mana pendidikan tidak diselenggarakan monoton, sangat formal disertai tuntutan administrasi yang banyak, yang mengakibatkan peserta didik dan guru tertekan. Tingkat stressing peserta didik diminimalisir dengan tidak lagi mematok angka-angka dan nilai sebagai patokan pengukuran hasil belajar.

Terhadap guru, kini ruang-ruang akses informasi bahkan pendidikan dan pelatihan guru yang dibuka secara luas melalui program guru belajar dalam berbagai seri, guru penggerak, sekolah penggerak, dan lain sebagainya yang dilaksanakan secara bergelombang dan dalam berbagai angkatan.

Guru dan sekolah, kapan saja dan di mana saja dapat dengan mudah mengakses informasi dan mengikuti kegiatan. Tidak seperti tempo dulu yang harus menggunakan undangan dan melalui meja-meja para pengambil kebijakan. Akibatnya, hanya orang-orang tertentu saja dan yang sama yang terus berkesempatan mengikuti kegiatan dan mengakses informasi. Akhirnya guru lain hanya menjadi penonton dan penikmat sekaligus pelaku copy paste.

Sungguh, Program “Merdeka Belajar” merupakan sebuah terobosan pendidikan yang luar biasa yang menggerakkan semua insan pendidikan. Dari gagasan-gagasan “Merdeka Belajar” ini, saya lantas berefleksi bahwa sesungguhnya untuk membangkitkan pendidikan nasional tidak perlu teori dan konsep yang rumit-rumit; tidak perlu jalur birokrasi yang panjang dan lebar; tidak perlu administrasi yang berhalaman-halaman; tidak perlu mengukur capaian kompetensi peserta didik menggunakan patokan nilai yang justru mencemaskan peserta didik. Cukup dengan cara kembali kepada spririt Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara dalam buah pikir Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani yang mengandung dua nilai dasar yakni kemerdekaan dan kemandirian.

“Tidak ada filsafat yang lebih baik menurut kita untuk menjelaskan perubahan apa yang kita inginkan,” demikian kata Mas Menteri Nadiem Makarim. Tantangan justru ada di tangan sekolah dan guru. Sudah siapkah kita mampu secara cepat beradaptasi dengan ajakan bergerak dari Mas Menteri?

Sudah siapkah kita memanfaatkan ruang-ruang akses informasi, pendidikan dan pelatihan yang dibukakan tersebut untuk belajar meningkatkan kompetensi agar bisa bergerak bersama? Sudah siapkah kita melatih diri agar bisa seirama dalam barisan koor “Merdeka Belajar” dalam lagu “Serentak Bergerak” yang dipimpin Sang Maestro? Ataukah kita masih mau bernostalgia dengan masa lalu kita dengan pola belajar mengajar yang sama, masih mau menanti sesuatu dari atas yang dibawa orang-orang lalu tinggal di-copy paste, ataukah masih mau berlama-lama larut dan tidak siap move on dari kebiasaan seperti petikan lirik lagu “aku masih seperti yang dulu”?

Saya yakin kita semua mau merdeka karena merdeka itu sebuah kebebasan. Dalam kebebasan ada kemandirian. Jangan saya dan Anda diri mengungkung diri! Janganlah lagi kita terjebak kebiasaan salah kaprah! Dukung program “Merdeka Belajar” untuk mewujudkan Indonesia  maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptnya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Jangan tunggu lagi! Ini “Merdeka Belajar”, Pak! Ayo, serentak bergerak. Selamat Merayakan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021! (*)

 *) Plt Kepala SMP Negeri 6 Kupang

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top