Anggaran Tak Jelas, Program Latihan Atlet PON NTT Tak Maksimal | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Anggaran Tak Jelas, Program Latihan Atlet PON NTT Tak Maksimal


BAHAS PON. Ketua KONI NTT, Andre Koreh, Sekum KONI, Umbu Saga Anakaka, Wakil Ketua, Theodorus Widodo dan Staf Khusus KONI NTT, Mikael Fernandez foto bersama perwakilan 12 Cabang Olahraga peserta PON usai menggelar rapat koordinasi di Hotel Pelangi, Sabtu (1/5). (FOTO: RUDY MANDALLING/TIMEX

SPORT

Anggaran Tak Jelas, Program Latihan Atlet PON NTT Tak Maksimal


Pengurus Cabor Mengeluh, Pelatda Sentralisasi Molor dari Jadwal

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 Papua akan berlangsung pada 2 – 15 Oktober 2021 nanti. Itu berarti, waktu persiapan 89 Atlet NTT dari 12 cabang olahraga yang akan bertanding/berlomba di 52 nomor pertandingan tersisa empat bulan. Namun, hingga saat ini program latihan para atlet tersebut tidak berjalan maksimal sebagaimana yang diharapkan. Bahkan jadwal TC Sentralisasi yang semula dijadwalkan KONI dimulai awal April 2021, belum dapat terlaksana.

Persoalan utamanya, karena hingga saat ini belum ada kejelasan menyangkut anggaran dari Pemprov NTT untuk PON. Padahal dana itu dibutuhkan untuk membiaya transportasi atlet, akomodasi, konsumsi, uang saku, kesehatan, termasuk pengadaan peralatan latihan, peralatan tanding hingga membiayai keberangkatan kontingen NTT mengikuti PON.

Akibatnya program latihan para atlet dari 12 cabang olahraga tersebut, tidak dapat dimaksimalkan, karena sebagian besar mau tidak mau harus melakukan latihan mandiri dengan biaya sendiri.

Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi KONI NTT bersama pengurus 12 cabor peserta PON XX/2021 yang berlangsung di Hotel Pelangi, Sabtu (1/5). Agenda utama rakor itu adalah pebahasan Pelatda serta penyampaian hasil CDM meeting dan rapat koordinasi terbatas dengan Sekum PB PON. Rapat itu dipimpin langsung Ketua KONI NTT, Andre W. Koreh. Hadir dalam kesempatan itu, Sekum KONI, Umbu Saga Anakaka, Wakil Ketua KONI, Theodorus Widodo dan Staf Khusus KONI NTT, Mikael Fernandez. Sementara pengurus 12 cabor peserta PON, yakni Kempo, Atletik, Cricket, Sepak Bola, Tinju, Muaythai, Tarung Derajat, Menembak, Pencak Silat, Wushu, dan Taekwondo.

Dari pemaparan perwakilan cabang olahraga tersebut, cabang olahraga beregu dan perorangan yang melibatkan banyak atlet, cukup kesulitan menggelar program latihan, karena atlet mereka yang tersebar di beberapa daerah. Bagi Cabor yang atletnya terpusat di Kota Kupang, mereka tetap mampu melaksanakan program latihan, tetapi dengan kondisi apa adanya dan tentunya tidak maksimal.

Cabor tinju misalnya seperti yang diungkapkan Sekretaris Pertina NTT, David Selan, bahwa mereka belum bisa melaksanakan program latihan secara penuh karena sebagian atlet masih di daerah masing-masing, dan Pertina belum bisa mendatangkan para atlet karena ketiadaan dana.

Hal yang sama juga diungkapkan Ambo dari Pengprov Criket NTT. Ia menuturkan para atlet Criket telah menjalani latihan sejak Januari, dengan kondisi apa adanya. “Soal anggaran ini harus ada solusinya. Kita tidak bisa menunggu terus karena sangat mempengaruhi persiapan atlet,” tandas Ambo.

Manajer Tim Sepakbola NTT, Jimmi Sianto dalam kesempatan tersebut mengatakan jika soal kepastian anggaran ini sangat penting, sehingga dalam waktu yang tersisa ini, program latihan bisa dimaksimalkan. “Sepak bola sulit untuk menggelar TC. Berbeda dengan cabor lain, dimana atletnya kebanyakan dari Kota Kupang. Sedangkan sepak bola atlet dari Kota Kupang hanya dua orang, lainya dari kabupaten,” ungkap Jimmi.

Dengan kondisi tersebut, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa, dan yang bisa dilakukan adalah meminta berlatih mandiri di daerahnya. “Kita sudah minta pelatih buat program latihan, tapi sulit dilaksanakan, karena sepak bola adalah olahraga beregu yang membutuhkan kerjasama dan kebersamaan,” jelasnya.

Persiapan Tim Sepak bola NTT, demikian Jimmi, mendapat sorotan di media sosial, karena belum menggelar TC. “Untuk menggelar TC siapapun mampu dan sanggup. Dan pasti semua bisa. Tapi, adakah yang mau dan bersedia mengeluarkan biaya sendiri?” ungkapnya.

Simpai Juliana Toh mewakili Perkemi NTT, menyatakan bahwa cabor Kempo telah menggelar TC desentralisasi sejak Januari denga biaya dari Pengprov Perkemi. Selain itu, 12 atlet Kempo ditampung dan berlatih di PPLD, 10 atlet ditanggung Internal Perkemi. Namun menurut Simpai Uly, jika tidak ada kepastian anggaran Perkemi hanya bisa melaksanakan TC hingga bulan Mei ini.

Menanggapi hal tersebut, Andre Koreh selaku Ketua KONI NTT memaparkan, sejak tahun 2019, KONI NTT mengsulkan anggaran Rp 38 miliar. Namun tahun 2020, sebagai dampak Covid-19, anggaran tersebut direvisi menjadi Rp 30 miliar. Informasi terakhir yang diperoleh dari dari Badan Anggaran DPRD NTT, dana untuk PON Rp 20 miliar. Dana itu tidak termasuk Bonus. “Sampai sekarang kita masih berpatokan dengan angka Rp 20 miliar, namun kapan realisasinya kita belum mendapat informasi resmi yang pasti dari Pemprov/Badan Keuangan Daerah. Demikian pula prosedur pencairan dan pengelolaan serta pertanggungjawabannya,” terangnya.

Dengan terlambatnya pencairan dana PON, kata Andre, tentunya sangat mempengaruhi persiapan KONI NTT menuju PON, dimana dana itu akan dimanfaatkan untuk biaya pelatda, pengadaan peralatan latihan dan pertandingan, perlengkapan kontingen, tranportasi Kupang-Jayapura PP, transport lokal selama PON, uang saku dan lainnya.

“Soal kepastian anggaran itu jadi kerinduan semua, karena kita punya tanggng jawab moral kepada masyarakat olaharga NTT. Saat PON nanti, para atlet bukan bawa nama KONI, nama pribadi, tapi nama daerah dan kebanggaan masyarakat NTT,” tegas Andre.

Karena itu, Andre berjanji akan berupaya menggelar audiens sekali lagi dengan Pemprov NTT sehingga ada kepastian. Pasalnya ini bukan untuk kebanggaan pribadi, tapi kebanggaan daerah, bahwa NTT itu ada. “Kondisi terburuk, anggaran tidak ada, tapi TC sudah jalan, dan itu tetap akan diperhitungkan. Kalau tidak ada anggaran, itu sudah diluar kemampuan kita, dan kita tetap akan upayakan,” kata Andre tanpa memperjelas apa upaya yang akan dilakukan jika sampai saat PON, Pemprov NTT tak mencairkan anggaran keikutsertaan NTT di pesta olahraga terbesar di Indonesia itu. (rum)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya SPORT

To Top