Rayakan Hardiknas, Kadis P dan K NTT Komit Tingkatkan SDM dan Kesejahteraan Guru | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Rayakan Hardiknas, Kadis P dan K NTT Komit Tingkatkan SDM dan Kesejahteraan Guru


RAGAM BUDAYA. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi bersama pejabat dan staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT usai upacara peringatan Hardiknas 2021 di Alun-Alun I.H Doko, Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Senin (3/5). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

PENDIDIKAN

Rayakan Hardiknas, Kadis P dan K NTT Komit Tingkatkan SDM dan Kesejahteraan Guru


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Senin (3/5), Keluarga Besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT menggelar apel memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Alun-Alun I. H. Doko, depan Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Apel berlangsung khidmat dengan mentaati protokol kesehatan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi, S.Pd, M.Pd memimpin apel yang dihadiri pejabat dan staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi. Pada kesempatan itu, Kadis Linus Lusi menyatakan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di NTT. Salah satunya dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) para guru.

SDM para guru dipandang penting karena sebelum mendidik siswa, seorang guru sudah terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengembangan siswa. Melalui organisasi profesi dan kelompok-kelompok pendidik, kata Linus, diharuskan untuk mempersiapkan SDM secara baik agar siswa yang dihasilkan pun berkualitas, meski di tengah situasi dan kondisi pandemi dan bencana alam.

Mantan Penjabat Bupati Ngada itu usai memimpin upacara mengatakan, dua unsur yang sangat mempengaruhi pendidikan di NTT yakni unsur zending dan unsur misi. Yakni pendidikan ketaatan dan pendidikan karakter.

Sekolah di NTT saat ini, jelasnya, mengedepankan pendidikan karakter. Dan di situ terdapat ketaatan yang sangat luar biasa. Ketika ada isu kemerdekaan belajar dianggap sesuatu yang luar biasa, padahal sebelumnya juga terdapat ruang kepada siswa untuk belajar atau lebih dikenal dengan cara belajar siswa aktif.

“Munculnya merdeka belajar memberikan ruang kepada para guru untuk mengeksplorasi segala bentuk potensi yang dimiliki oleh siswa. Pertanyaan, apakah guru sudah memberdayakan diri sendiri dari belenggu yang ada? Sasaran kepada siswa apakah mengikuti tren atau terpola dengan gaya-gaya klasik seperti duduk, diam, menghafal dan mencatat. Ini yang tidak boleh,” ungkapnya.

Ditegaskannya, guru harus memiliki literasi yang kuat karena tanpa eksplorasi maka akan mempengaruhi dinamika pembelajaran di kelas dan menjadi tantangan tersendiri hingga saat ini. Semua pihak tengah berkolaborasi termasuk oraganisasi profesi dan kelompok guru untuk mengembangkan sistem pendidikan merdeka belajar ini.

Menurutnya, transfomasi pendidikan merupakan bagaimana mengaitkan isu-isu global termasuk perkembangan dan penggunaan teknologi dan semuanya telah tersedia. Tinggal bagaimana respon sekolah terhadap program ini.

“Tantangan meningkatkan SDM telah dibahas bersama organisasi profesi serta mendapat dukungan dana dari APBD dan dari pusat. Perlahan sudah mulai membaik seperti mengembangkan kompetisi para guru secara terpadu,” kata mantan Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan NTT itu.

Lanjut Linus Lusi, dalam konteks NTT, komitmen sudah sangat jelas, bagaimana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama unsur-unsur mendorong pengembangan dan mencerdaskan guru terlebih dahulu baru siswa. Bisa juga berjalan bersamaan antara guru dan siswa sama-sama belajar. Namun, yang terpenting adalah guru harus pintar dulu karena guru tidak bisa tergantikan oleh apapun meski teknologi semakin canggih.

“Ini yang penting. Guru tidak pernah tergantikan dengan segala bentuk teknologi. Teknologi sebagai pelengkap, maka guru harus lebih cerdas sebelum mendidik siswanya,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, R.R Sulistyo Ambarsari menambahkan, peningkatan mutu pendidikan juga tidak terlepas dari peran para guru komite dan guru yayasan.

Tercatat hingga saat ini jumlah tenaga honor komite dan guru honor yayasan mencapai 25 ribu orang. Ini menjadi perhatian dinas dalam memenuhi kebutuhan para guru.

“Kita memberikan tambahan Rp 400 ribu dari APBD I kepada para guru honor yang memang gajinya tidak mencapai standar Upah Minimum Regional (UMR). Sejujurnya kita ingin memberikan lebih banyak lagi tetapi postur APBD kita memang sangat terbatas,” katanya.

Ketua Dewan Pendidikan NTT Simon Riwu Kaho menegaskan, peran guru tidak tergantikan dalam mendidik dan mengajar siswa. Karena itu dirinya meminta pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan baik kabupaten/kota maupun provinsi untuk memperhatikan kualitas guru.

“Memang peran guru tak tergantikan oleh apapun. Sehingga guru harus disiapkan dengan baik supya memiliki SDM yang berkualitas. Dengan demikian guru mampu membuat anak didiknya pintar dan memiliki karakter yang berkualitas pula,” kata Simon.

Dirinya memberi apresiasi kepada beberapa sekolah, terutama sekolah swasta yang telah menyiapkan guru dan sarana prasarana yang memadai untuk menunjang proses pendidikan di sekolah. Dirinya mengharapkan sekolah lain, terutama negeri harus menyiapkan SDM guru yang lebih baik.

Sebelumnya, Jan Piter Windi, Anggota Komisi V DPRD NTT mengatakan, salah satu visi Pemerintah Provinsi NTT adalah peningkatan kualitas SDM yang tentunya sangat berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Politisi Partai Gerindra mengaku salah satu yang mesti menjadi perhatian serius ke depan adalah terkait peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru serta tenaga pendidik. Karena kualitas kinerja yang baik tentunya perlu dibarengi dengan kualitas output yang sejalan dengan pencapaian kinerja dimaksud.

“Ketika mereka (guru) mendapat perhatian serius khususnya pada pendapatan mereka, maka secara otomatis kita bisa mengukur kinerja yang berdampak pada peringkat kualitas pendidikan kita,” sebutnya (mg29/ito)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top