BPBD NTT Beber Data Final Rumah Rusak Akibat Seroja di NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

BPBD NTT Beber Data Final Rumah Rusak Akibat Seroja di NTT


Plt. Kepala Pelaksana BPBD NTT, Isyak Nuka saat memberikan keterangan kepada TIMEX di Posko Bencana Siklon Tropis Seroja NTT, Sabtu (1/5). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX )

NASIONAL

BPBD NTT Beber Data Final Rumah Rusak Akibat Seroja di NTT


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menutup kesempatan memasukan data by name by address kerusakan rumah akibat bencana Siklon Tropis Seroja.

Hingga deadline pada 30 April 2021 pukul 00:00 Wita, terdata sebanyak 52.793 rumah warga mengalami kerusakan. Jumlah rumah rusak tersebut tersebar di 17 kabupaten/kota. Sedangkan 5 Kabupaten lainnya terdampak namun tingkat kerusakan di bawah ketentuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Usai memastikan data kerusakan rumah, BPBD NTT tengah mempersiapkan surat keputusan untuk kemudian diusulkan ke pemerintah pusat dalam hal ini BNPB untuk dicairkan dana perbaikan.

Untuk diketahui sesuai dana yang akan dialokasikan, rumah dengan kondisi rusak berat akan mendapatkan bantuan pemerintah sebanyak Rp 50 juta, rusak sedang Rp 25 juta, dan rusak ringan Rp 10 juta. Sedangkan Dana Tunggu Hunian (DTH) tahap satu telah dikucurkan ke 10 kabupaten/kota.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pelaksana BPBD NTT, Isyak Nuka kepada TIMEX di Posko Bencana Siklon Tropis Seroja NTT, Sabtu (1/5) mengatakan, sampai dengan batas waktu yang ditentukan Gubernur, ada 17 kabupaten/kota yang telah memasukan data by name by address.

“Data rumah rusak korban bencana siklon tropis Seroja by name by address itu dinyatakan lengkap dan telah terkunci sehingga tidak bisa di-upload lagi,” kata Isyak.

Isyak menjelaskan, dari 17 dari 22 kabuapten/kota di NTT, terdapat 5 kabupaten yang terdampak seroja namun tak memenuhi ketentuan 20 persen rumah rusak sebagaimana ditetapkan pemerintah pusat melalui BNPB.

“Lima kabupaten itu memang terdampak Seroja dan memiliki korban rumah rusak tapi tingkat kerusakannya kurang dari 20 persen, jadi Pemda setempat menanggulanginya dengan mmengalokasikan anggaran melalui APBD II sedangakan 17 lainnya akan didanai APBN sesuai data yang ada,” katanya.

Isyak menyebutkan, lima kabupaten itu, yakni Nagekeo, Manggarai, Sumba Tengah, Sikka, dan Sumba Barat Daya (SBD). “Empat kabupaten itu memang setelah dilakukan validasi ulang baru diketahui bahwa kerusakan mereka masih bisa ditanggulanggi di daerah, sedangkan SBD sudah sejak awal tidak melapor karena tidak ada kerusakan rumah,” tuturnya.

Terhadap deadline waktu yang diberikan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Lasikodat (VBL) dikatakan semuanya telah ditepati dan segera ditindaklanjuti ke BNPB lalu diproseskan surat keputusannya dan alokasi anggaran kepada warga terdampak rumah rusak berat.

“Kemarin sudah 10 kabuapten, dan dengan lengkapnya data by name by address akan dialokasikan kepada 7 Kabupaten lainnya. Jika sudah ada SK lalu ada perubahan maka akan ada verifikasi dan validasi ulang dari BNPB,” katanya.

Rekapitulasi data rumah rusak akibat bencana Sklon Tropis Seroja by name by address tercatat sebanyak 52.793 rumah. Tingkat kerusakan rusak berat tercatat sebanyak 6.336 rumah, rusak sedang 6.806 rumah dan 39.561 rumah dinyatakan rusak ringan.

Ditambahkan DTH yang sudah dialokasikan diharapkan untuk segera berikan kepada korban karena dana tersebut bertujuan untuk membayar kos agar bisa kosongkan posko pengungsian sehingga dapat terhindar dari penyebaran virus Covid-19.

Diakui terdapat beberapa posko masih ada pengungsi karena kemungkinan dana tersebut belum sampai ke tangan para korban untuk itu kepada masing-masing pemda mengambil sikap cepat agar warga mendapat hunian yang layak.

“Satu dua hari kedepan tidak ada lagi pengungsian di Posko. Jika masih ada, itu patut dipertanyakan. Pemerintah ingin masyarakat tidak terus-terusan menempati posko karena berdampak buruk. Harus segerah pindah dari lokasi pengungsian. Jika tidak ada keluarga, cari kos-kosan menanti dana perbaikan rumah,” tambahnya.

Isyak mencontohkan, ada 24 kepala keluarga (KK) yang sampai saat ini masih menempati Posko 2, Kampung Amanuban, RT12/RW03, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo. “Di dalam kota saja belum sampai DTH, bahkan tadi saya tanya tapi mereka tidak mengetahui dana tersebut juga,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perhubungan NTT itu juga mengaku hingga akhir April, total bantuan tunai yang diterima mencapai Rp 6.467.062.193.14. Dana yang terkumpul ini sedang disusun pedoman penggunaannya dengan peraturan Gubernur serta mendapat pendampingan dari BPKP dan Inspektorat.

“Kita sedang mendata apa kebutuhan dasar masyarakat seperti sandang, pangan dan papa yang dibutuhkan saat ini sehingga bantuan bencana ini benar-benar tepat sasaran,” ungkap Isyak. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top