Kerugian Akibat Seroja Capai Rp 3,7 Triliun, Kerusakan Terbanyak di Kabupaten Kupang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kerugian Akibat Seroja Capai Rp 3,7 Triliun, Kerusakan Terbanyak di Kabupaten Kupang


Plt. Kepala Pelaksana BPBD NTT, Isyak Nuka. (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Kerugian Akibat Seroja Capai Rp 3,7 Triliun, Kerusakan Terbanyak di Kabupaten Kupang


Isyak Nuka: Masa Tanggap Darurat Berakhir, Masuk Masa Transisi Darurat

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur NTT memperpanjang masa tanggap darurat bencana Siklon Tropis Seroja dengan masa Transisi Darurat menuju pemulihan selama enam bulan ke depan. Dimulai 6 Mei hingga 6 November 2021.

Untuk diketahui masa tanggap darurat bencana Seroja ditetapkan sejak 5 April 2021 dan berakhir 5 Mei 2021. Dari berbagai upaya yang dilaksanakan pada masa tersebut mulai dari pendataan hingga proses evakuasi, terjadi banyak kerugian. Selain kerugian materi, peristiwa ini pun memakan korban jiwa tak sedikit.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD NTT, Isyak Nuka mengatakan, berdasarkan hasil pendataan dan perhitungan, akibat hujan deras disertai angin kencang berkecepatan 45-50 knot hingga 75-80 km/jam itu telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Estimasinya mencapai Rp 3 triliun lebih.

Isyak Nuka menyebutkan, Pemprov NTT menyepakati untuk melanjutkan masa tanggap darurat yang berakhir pada 5 Mei dengan masa transisi darurat menuju pemulihan selama 6 bulan, dimulai 6 Mei hingga 6 November 2021.

Dikatakan, proses evakuasi yang dilakukan dengan melibatkan semua pihak yang terlibat terdapat sebanyak 182 orang korban meninggal dunia dan hingga hari ini 47 orang dinyatakan hilang.

Ditambahkan, musibah yang melanda wilayah NTT itu juga mendapat perhatian dari seluruh masyarakat Indonesia bahkan luar negeri dengan menyalurkan berbagai bantuan seperti sembako, material, dan uang tunai. “Bantuan yang masuk seperti sembako dan material langsung kami distribusikan kepada korban. Hingga saat ini total bantuan tunai mencapai Rp 6.483.173.193,00,” beber Isyak kepada media ini di Kupang, Kamis (6/5).

Juru Bicara Posko Bencana Siklon Tropis Seroja Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu menambahkan, usai masa tanggap darurat, akan masuk dalam masa transisi darurat menuju ke pemulihan atau memulai rekonstruksi dan rehabilitasi atas kerusakan yang terjadi. “Jadi dengan selesainya masa tanggap darurat bukan berarti proses pendistribusian bantuan dan lain-lainnya berakhir tetapi berjalan seperti biasa,” katanya.

Lanjutnya masa rekonstruksi dan rehabilitasi ini akan didesain kembali kerusakan mulai dari kerusakan rumah, fasilitas umum dan infrastruktur jalan dan jembatan.

“Laporan terakhir sesuai kerusakan, tercatat mencapai Rp 3,7 triliun lebih dengan rincian, kerusakan rumah sekitar Rp 1 triliun lebih, kerusakan lain-lain mencapai Rp 2 triliun lebih. BNPB telah berkoordinasi dengan Kementerian terkait untuk berperan dalam pembangunan kembali akibat kerusakan,” ungkapnya.

BACA JUGA: BPBD NTT Beber Data Final Rumah Rusak Akibat Seroja di NTT

Isyak membeberkan bahwa dari total data yang masuk, kerusakan rumah sebanyak 52.793 unit. Rinciannya, rumah rusak berat 6.336 unit, rusak sedang 6.806 unit, dan rumah rusak ringan sebayak 39.651 unit.

Tingkat kerusakan terbanyak ada di Kabupaten Kupang, sebanyak 11.884 rumah, diantaranya rumah rusak berat sebanyak 2.412 rumah, rusak sedang 2.663 rumah, dan rusak ringan 6.809 rumah. Sedangkan Kabupaten Belu dengan jumlah kerusakan terendah, yakni rusak berat 28 unit rumah, rusak sedang 5 rumah, dan rusak ringan 5 rumah. Totalnya 38 rumah.

“Terdapat 5 kabupaten yang lain juga terdampak namun masih bisa ditangani melalui APBD karena tingkat kerusakannya tidak mencapai 20 persen. Sementara Kabupaten SBD memang dari awal tidak terdampak,” sebut Kepala Biro Administrasi dan Komunikasi Pimpinan Setda NTT itu.

Saat ini, katanya Isyak, tugas kabupaten/kota harus merinci akan kerusakan yang terjadi seperti kerusakan jembatan maka akan dirinci tingkat kerusakannya. Apakah harus dibangun baru, perbaikan baru atau seperti apa sehingga jelas kemudian disodorkan ke Kementerian PUPR untuk ditindaklanjuti. Begitu pula kerusakan fasilitas umum, misalnya sekolah didata dan diberikan kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Pemerintah daerah juga harus menyiapkan lahan untuk merelokasi rumah warga yang rusak berat. Jadi semuanya sudah harus tersedia karena akan dibangun oleh Kementerian PUPR. Maka semua sudah harus jelas,” katanya.

Ditambahkan, data tersebut bisa saja berkurang karena akan dilakukan identifikasi dan validasi ulang oleh pihak kementerian. Diharapkan semua proses ini bisa selesai pada masa transisi ini.

“Komponen yang akan dibangun kembali pada masa transisi ini adalah infrastruktur jalan dan jambatan, perumahan, serta pemulihan ekonomi masyarakat melalui desain pembangunan yang disediakan Pemprov NTT dan pemerintah pusat,” tandasnya.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata NTT itu mengaku hingga saat ini bantuan tunai yang diterima belum juga dimanfaatkan karena sedang dalam proses audit oleh Inspektorat dan BPKP. “Setelah audit maka ada juknis sebagai petunjuk penggunaan dana tersebut. Kita akan terbuka dengan pemanfaatan dana ini kepada publik,” imbuhnya.

Ia juga menyampaikan ucapan terimah kasih kepada pemerintah pusat, BNPB, TNI-Polri dan semua pihak yang terlibat dalam proses tanggap darurat hingga masa transisi ini. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top