Cerita Siswa di Kupang Saat BDR, Tak Paham Pelajaran, Tak Kenal Teman Hingga Guru | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Cerita Siswa di Kupang Saat BDR, Tak Paham Pelajaran, Tak Kenal Teman Hingga Guru


KBM OFF LINE. Suasana kegiatan belajar mengajar off line atau tatap muka di SMA Katolik Giovanni Kupang, Jumat (7/5). KBM ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (FOTO: ISTIMEWA)

PENDIDIKAN

Cerita Siswa di Kupang Saat BDR, Tak Paham Pelajaran, Tak Kenal Teman Hingga Guru


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Pasca pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) melanda NTT, tepatnya di Kota Kupang 9 April 2020 lalu, proses peembelajaran terpaksa harus dihentikan sementara di sekolah karena tidak ingin terjadi penyebaran yang meluas.

Salah satu strategi agar siswa tetap belajar adalah dengan menerapkan sistem pembelajaran dari rumah (BDR). Dengan sistem ini, para guru dapat melaksanakan interaksi bersama siswanya secara online maupun offline.

Siswa yang memiliki handphone (HP) jenis android atau smarphone dapat mengikuti pembelajaran offline. Sedengkan mereka yang tidak memiliki android dan berhalangan akibat akses internet, terpaksa harus belajar offline. Guru-guru menyediakan materi, diperbanyak lalu dibagikan ke siswa mereka.

Alhasil, siswa melaksanakan pendidikan dari rumah kurang lebih satu tahun lamanya. Berbagai tantangan pun harus dilalui demi menghindari diri dari kerumunan yang kemudian menyebabkan terpapar Covid-19.

Unik-unik dari pembelajaran pun nampak tidak efektif. Siswa bahkan mengaku tidak paham apa yang disampaikan guru ketika memberikan pelajaran. Siswa tidak paham soal yang diberikan bahkan siswa pun tidak saling mengenal. Bukan saja siswa dengan siswa saja, siswa dengan guru pun tidak mengenal.

Ketua Osis SMA N 3 Kupang, Apriyanti Mone Gah ketika dimintai menceritakan pengalamannya semasa proses pendidikan dimasa pandemik mengaku dirinya sejak awal mengikuti pendidikan online.

KBM online baginya sangat tidak optimal karena sebagian banyak siswa keterbatasan soal finansial. Pembelajaran juga sangat acuh. Guru dibiarkan sendiri menyampaikan materi sedangkan siswa di rumah sedang melakukan aktivitas lain.

Untuk itu dirinya berharap proses KBM tatap dibuka kembali dengan ketentuan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat serta memberlakukan KBM shift. “Lebih baik KBM tetap muka agar kita saling mengenal, belajar secara baik dengan menerapkan protokol Covid-19 secara ketat pula,” harapnya saat diwawancarai saat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Prokes dalam kelas. (FOTO: ISTIMEWA)

Sementara, Pier Saubaki yang juga siswa SMA N 3 Kupang pada kesempatan itu mendukung rencana pembukaan KBM tatap muka karena para siswa kurang lebih satu tahun ini tidak merasakan sensasi dan dinamika berpendidikan.

Meski dibuka kembali, ia berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT melalui Dinas Pendidikan harus perketat pelaksanaannya di sekolah. “Harus diperketat karena usai menerima pelajaran dan waktunya pulang, siswa banyak yang nongkrong yang bisa menyebabkan terpapar Covid-19 lalu menyebar lagi kepada trman-teman di sekolah dan orang-orang terdekatnya,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama Rini Djo Siswa kelas XII, SMKN 1 Kupang mengaku tidak pernah merasakan bagaimana tahapan belajar di bangku kelas XI, karena sudah masuk masa pandemi.

Dikatakan, saat itu pula siswa diberikan tugas serta proses pembelajaran online. Namun secara jujur, Rini mengaku tidak mengerti pembelajaran yang diberikan guru ketika belajar online. Hal yang sama juga terjadi untuk pembelajaran offline.

Akibat dari pandemi ini, ia mengaku mencari dan belajar dari referensi lain tetapi situasinya sangat berbeda dengan proses belajar di kelas. “Soal yang diberikan kami tidak paham cara kerjanya, ketika tidak paham terpaksa dibiarkan atau harus login dari google sehingga kami mengharap gampang. Bapak/ibu guru tahu tugas selesai lalu berikan ujian taori, namun sejujurnya kami tidak paham apa-apa,” katanya.

Mewakili siswa SMK 1 Kupang, dirinya sangat mendukung upaya pemerintah untuk membuka kembali sekolah tatap muka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

“Bayangkan kami yang sebelumnya kelas XI tidak merasakan, bahkan kelas X tidak mengenal gurunya sendiri, bagaimana sifat dan kebiasan dari guru kami sendiri kami tidak tau,” ujarnya kepada Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi ketika dimintai masukannya soal sekolah tatap muka.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi mengaku akan menyanggupi permintaan perketat pelaksanaan KBM tatap muka.

KBM tatap muka ini dijelaskan akan memberlakukan secara shif di sekolah. Selain itu kebutuhan lain seperti trmpat air, tes suhu tubuh fan jaga karak menjadi prasyarat melaksanakan KBM tatap muka.

Terkait penertiban siswa, mantan Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan NTT itu mengaku akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan Sat Pol PP untuk menertibkan siswa agar bisa langsung kembali ke rumah usai belajar. “Kami akan koordinasi dengan Pol PP NTT agar melaksanakan patroli keliling di Kota Kupang dan wilayah lainnya agar membubarkan siswa yang sedang nongkrong,” tandasnya. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top