Timbulkan Polusi, Warga Keluhkan Stone Crusher di Rana Loba, Begini Kata Kadis LH | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Timbulkan Polusi, Warga Keluhkan Stone Crusher di Rana Loba, Begini Kata Kadis LH


TIMBULKAN POLUSI. Lokasi produksi pemecah batu atau stone crusher di Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Matim yang dikeluhkan warga setempat karena aktifitasnya menimbulkan polusi. Gambar diabadikan Sabtu (8/5). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Timbulkan Polusi, Warga Keluhkan Stone Crusher di Rana Loba, Begini Kata Kadis LH


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Satu stone crusher atau pabrik pemecah batu di Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), diduga tidak memiliki izin. Selain itu keberadaanya juga dikeluhkan warga sekitar, karena menimbulkan polusi udara dan suaranya berisik.

Terpantau, Sabtu (8/5) pagi, bangunan stone crusher ini berada tepat disamping Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Matim. Terlihat banyak tumpukan jenis ukuran material batu pecah olahan stone crusher. Informasinya, pabrik batu pecah itu milik CV. Pelita Mas, salah satu kontraktor di Matim.

“Yang kami tahu nama pemiliknya itu Baba Cai. Kami juga dapat informasi kalau Baba ini kontraktor. Sehingga material hasil olahan stone crusher ini untuk kegiatan proyek pemerintah,” ujar Nani, warga Borong yang ditemui TIMEXKUPANG.com di sekitar lokasi stone crusher, Sabtu (8/5).

Menurut Nani, aktifitas stone crusher itu sudah berlangsung lama sekira tahun 2018 lalu. Nani juga mempersoalkan lokasinya karena berada di sekitar permukiman warga dan juga bangunan sekolah. Aktifitas pabrik ini cukup mengganggu karena menebar debu. Nani juga mencurigai kalau aktifitasnya ilegal.

“Saya curiga tidak ada izinya. Sehingga kalau boleh polisi bisa selidiki. Kita harap Pemda Matim untuk bisa tertibkan kegiatannya, karena lokasinya tidak aman untuk warga sekitar,” tuturnya.

Kepala Sekolah (Kasek) MIN 1 Matim, Budi, kepada TIMEXKUPANG.com melalui HP mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat keberatan ke Pemkab Matim terkait keberadaan stone crusher tersebut. Aktifitasnya memberi dampak buruk bagi kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah itu.

“Lokasi stone crusher ini ada disamping sekolah. Sehingga dampak buruk dari aktifitas giling batu ini, kami yang rasa dan alami. Seperti debu dan bunyi berisik sangat menggu kami di sekolah. Kami juga sudah buat surat keberatan kepda Pemda Matim,” ungkap Budi.

Menurut dia, aktifitas giling batu itu sudah berlangsung sejak 2018 lalu. Pihak sekolah pernah menemui pemiliknya, agar lokasi giling batu itu dipindahkan ke tempat yang jauh dari permukiman warga dan sekolah. Namun tidak direspon. Pihaknya baru mengajukan surat keberatan ke Pemkab Matim karena melihat aktifitas stone crusher semakin tinggi.

“Awalnya kita pikir, batu pecah ini untuk kepentingan bangunan pribadi. Tapi dalam dua tahun terakhir kita lihat semakin banyak produksi material batu pecah dan untuk kepentingan usaha besar serta kepentingan proyek dari pemerintah,” bebernya.

Dirinya meminta kepada Pemkab Matim melalui Dinas Lingkungan Hidup (LH) untuk dapat menertibkan aktifitas stone crusher milik kontraktor tersebut. Karena lokasinya tidak ramah lingkungan. “Jika benar selama ini tidak mengantongi izin, tentu perlu diberi sanksi. Aparat polisi juga bisa bertindak,” pinta Budi.

Sementara Kadis Lingkungan Hidup Matim, Don Datur, yang dihubungi melalui HP mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah memberi izin usaha stone crusher tersebut. Artinya aktifitas selama ini ilegal alias tanpa izin. Pihaknya pun sudah meminta pemiliknya agar aktifitas stone crusher di sana harus dihentikan.

“Saya sudah buat surat kepada pemiliknya, Baba Cai, untuk hentikan kegiatan itu. Pemiliknya juga sudah buat pernyataan. Namun karena di sana masih ada banyak material, maka mereka habiskan semua material yang ada sampai akhir Mei 2021. Selama ini mereka tidak ada izin. Kalau mereka tidak indahkan larangan kita, maka saya undang pihak lain untuk hentikan,” tegas Don Datur. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top