Soal Keluhan Aktifitas Stone Crusher di Rana Loba, Begini Tanggapan Pemilik | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Soal Keluhan Aktifitas Stone Crusher di Rana Loba, Begini Tanggapan Pemilik


SIAP PINDAH. Lokasi produksi pemecah batu atau stone crusher milik CV. Pena Mas di Kelurahan Rana Loba, Matim ini siap dipindahkan oleh pemiliknya. Gambar diabadikan Sabtu (8/5). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Soal Keluhan Aktifitas Stone Crusher di Rana Loba, Begini Tanggapan Pemilik


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Pemilik stone crusher atau pabrik pemecah batu di Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Ivan Cai alias Baba Cai, mengakui aktifitas usahanya itu belum mengantongi izin dari pemerintah. Karena itu, ia pun bersedia memindahkan lokasi pabrik pemecah batu itu.

“Betul, belum dapat izin. Kami sempat urus, tapi karena untuk urus tambang ini harus ke pusat, sehingga tidak jadi. Kami hanya diminta untuk urus izin kuari, tapi tetap tidak diberi izin,” tutur Ivan saat dihubungi TIMEXKUPANG.com melalui sambungan telepon, Sabtu (8/5) siang.

Ivan menjelaskan, pihaknya tak mendapatkan izin kuari karena menurut dinas terkait bahwa lokasi produksi itu masuk dalam kawasan permukiman warga. Termasuk ada bangunan sekolah. Awalnya, kata Ivan, pihaknya mengajukan izin ke Pemkab Matim karena telah mendapat persetujuan dari warga sekitar, baik itu Rukun Tetangga (RT), dan pihak pemerintahan Kelurahan Rana Loba.

“Awal waktu urus izin, warga sekitar tidak persoalkan. Mereka dan pemerintah kelurahan telah memberi persetujuan. Tapi karena sekarang ada penolakan dari pihak sekolah, maka kami juga siap untuk tidak melakukan aktifitas giling batu di sana,” kata Ivan, putra pertama dari pemilik CV. Pena Mas.

BACA JUGA: Timbulkan Polusi, Warga Keluhkan Stone Crusher di Rana Loba, Begini Kata Kadis LH

Ivan mengaku, selama ini aktifitas pabrik pemecah batu tidak berlangsung sepanjang tahun. Aktifitas itu dilakukan manakala pihaknya mendapat kepercayaan dari Pemkab Matim untuk melaksanakan pekerjaan proyek. Artinya, saat ada proyek pemerintah, baru adanya aktifitas produksi batu pecah.

“Kalau dapat proyek baru ada aktifitas giling batu. Itu mungkin selama tiga bulan. Tapi saat ada protes dari sekolah, aktifitasnya dilakukan pagi hari pukul 05.30 dan stop pukul 07.15. Setelah itu lanjut pukul 12.30 Wita. Itu supaya tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah,” katanya.

Dari CV. Pena Mas, demikian Ivan, telah mendapat surat larangan aktifitas giling batu pecah dari Dinas Lingkungan Hidup Matim. Namun karena masih ada sisa material di lokasi, maka pihaknya masih diberi waktu hingga akhir Mei 2021 untuk beraktifitas, dengan waktu kerja tetap diatur.

Kata Ivan, pihaknya saat ini masih mencari lokasi di Borong, untuk usaha stone crusher. Lokasi itu nanti tentu yang layak. Jika lokasi ada, pihaknya berjanji akan mengajukan izin usaha. Untuk suplai bahan baku seperti batu, selama ini dari kali yang ada dalam Kota Borong.

Diketahui, lokasi bangunan stone crusher milik CV. Pena Mas ini, tepatnya disamping atau bagian utara dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Matim. Lokasinya juga sedikit jauh dari jalan raya umum. Bagian Timur, Barat dan Utara, terdapat bangunan rumah. (Krf3)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top