Hasil Survei FAS, 48 Persen Angka Kekerasan Seksual di Sikka Berawal dari Sosmed | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Hasil Survei FAS, 48 Persen Angka Kekerasan Seksual di Sikka Berawal dari Sosmed


Forum Anak Sikka (FAS) saat membeberkan hasil survei tingkat kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Sikka bertempat di ruang Kerja Bupati, Rabu (5/5). (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Hasil Survei FAS, 48 Persen Angka Kekerasan Seksual di Sikka Berawal dari Sosmed


Survei terhadap 165 Responden di 9 Paroki Keuskupan Maumere

MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Keuskupan Maumere bersama WVI membeberkan temuannya terkait kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten Sikka. Berdasarkan data yang dibeber Manager Proyek Kerja Sama Keuskupan Maumere-WVI Area Program Sikka, RD. Yanuarius Hilarius Role di Maumere, Rabu (5/5), terungkap bahwa sebanyak 48 persen kekerasan seksual di Sikka itu korbannya adalah anak-anak, dan semua itu berawal dari media sosial (Medsos).

Romo Hilarius menyebutkan, data ini diperoleh berdasarkan hasil survei terhadap 165 orang yang tersebar di 9 paroki Keuskupan Maumere.

Menurut Romo Hilarius, dari 165 responden yang menjadi sasaran survei, sebanyak 48 persen responden menjawab pernah menjadi korban kekerasan seksual. Survei itu dilakukan oleh Forum Anak Sikka (FAS) pada pekan kedua Maret hingga pekan pertama April 2021.

“FAS melakukan survei pada 9 paroki di Keuskupan Maumere, dimana dari 165 orang responden, sebanyak 48 persen pernah mengalami kekerasan seksual. Kekerasan seksual itu berawal dari medsos,” beber Romo Hilarius.

Herannya, kata Romo Hilarius, kekerasan seksual terhadap anak-anak itu tidak pernah disampaikan kepada orantua atau keluarganya, namun hanya disampaikan kepada sesama teman-temannya melalui medsos.

Mirisnya, lanjut Romo Hilarius, rumah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anak menyampaikan apa yang dialaminya. Kondisi ini harus mejadi tanggung jawab bersama, untuk kembalikan rumah menjadi surga bagi anak-anak.

Atas temuan tersebut, demikian Romo Hilarius, pihaknya memberi sejumlah rekomendasi kepada para pemangku kepentingan di Sikka untuk ditindaklanjuti. Rekomendasi itu, yakni kasus kekerasan seksual harus segera diatasi, pemerintah diharapkan menyediakan wadah pengembangan bakat dan minat bagi anak-anak, dan gereja harus mengaktifkan wadah SEKAMI dan SEKAR yang ada di masing masing paroki maupun stasi.

BACA JUGA: Truk-F Beber Angka Kekerasan Seksual di Sikka Meningkat 24 Persen

Poin lainnya, sambung Romo Hilarius, pemerintah harus memperbanyak ruang publik seperti taman rekreasi dan ruang olahraga, agar bisa diakses anak-anak. Perlu juga pengawasan pemerintah melalui Kominfo untuk membatasi konten kekerasan di medsos, perlu peran orangtua untuk mengawasi anak-anak dalam menggunakan gedget agar mengurangi dampak kekerasan seksual di medsos. Pemerintah harus menyediakan shelter bagi anak korban kekerasan seksual, anak-anak harus dibekali pendidikan seksualitas yang memadai baik di rumah, sekolah, dan gereja.

“Ini sejumlah poin penting rekomendasi yang harus menjadi tanggung jawab bersama baik orangtua, pemerintah, sekolah, gereja maupun stakleholder lainnya,” tandas Romo Hilarius.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Sikka, dr. Bernadina Sada Nenu memberi apresiasi yang tinggi kepada FAS di bawah dampingan WVI yang memimpin penelitian pada 9 paroki di Sikka.

Hasil penelitian itu, lanjut Bernadina, telah diikuti dengan kegiatan workshop yang dihadiri oleh pihak dinas. Dalam workshop itu pihaknya juga mempresentasikan tentang kabupaten layak anak. Selain FAS, pihak dinas juga mendukung forum anak lainnya, baik ditingkat desa maupun kelurahan untuk meminimalkan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kami patut memberkan aprresiasi yang tinggi kepada FAS dan forum anak lainnya, baik di tingkat desa maupun kelurahan dalam upaya meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sikka,” jelas Bernadina.

Bernadina juga menyampaikan bahwa saat ini pihaknya memiliki program generasi bertenun, selain itu melakukan sosialisasi pada sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sikka. Pihaknya juga melakukan pembinaan kepada keluarga remaja dan balita, serta membangun kemitraan dengan sejumlah stakeholder lainnya. “Sosialisasi tetap dilakukan baik di sekolah-sekolah maupun bagi keluarga remaja dan balita, tujuannya untuk meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak,” pungkas Bernadina. (Kr5)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top