93 Warga SLB Negeri Pembina Kupang Ikut Pooled-Test Lab Biokesmas NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

93 Warga SLB Negeri Pembina Kupang Ikut Pooled-Test Lab Biokesmas NTT


AMBIL SAMPEL SWAB. Salah seorang murid SLB Negeri Pembina Kupang yang didampingi orang tuanya bersiap diambil sampel swabnya pada kegiatan pooled-test di aula sekolah itu, Rabu (19/5). Pooled-test ini dalam rangka mendukung program Surveilens Sekolah Bebas Covid-19 oleh Lab Biokesmas NTT. (FOTO: DOK. LAB BIOKESMAS)

PENDIDIKAN

93 Warga SLB Negeri Pembina Kupang Ikut Pooled-Test Lab Biokesmas NTT


Ikuti Program Surveilens Sekolah Bebas Covid-19 Demi Persiapan Belajar Tatap Muka

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Kupang terpilih sebagai salah satu satuan pendidikan untuk mengikuti program Surveilens Sekolah Bebas Covid-19 oleh Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat (Lab Biokesmas) Provinsi NTT.

Hari ini, Rabu (19/5), sebanyak 93 warga sekolah itu menjalani tes swab secara pooled-test oleh petugas medis Lab Biokesmas NTT bertempat di aula sekolah itu. Jumlah itu terdiri dari 60 orang guru dan 33 orang murid.

Antusiasme, rasa penasaran dan juga rasa khawatir tampak menyelimuti ruangan aula yang dipenuhi oleh staf, guru, beserta murid yang datang didampingi orang tuanya. Banyak yang belum pernah mengikuti pemeriksaan swab dan tampak was-was terhadap reaksi penolakan dari anaknya.

“Awalnya saya merasa takut anak saya akan di-swab, tetapi saya memberanikan diri untuk mendaftarkan, karena saya tahu kegiatan ini sangat penting demi proses belajar anak saya,” ujar Monika Henukh, salah satu orang tua murid sebagaimana keterangan tertulis Humas Lab Biokesmas NTT kepada media ini, Rabu (19/5) petang.

“Saya berharap dengan pengambilan swab seperti ini, kami pihak orang tua tidak akan khawatir lagi untuk membiarkan anak kami belajar di sekolah secara offline,” sambungnya.

Supriati, salah seorang guru SLB Negeri Pembina, juga mengaku deg-degan mengikuti tes swab itu.”Deg-degan mengikuti swab tapi deg-degan juga mengetahui hasilnya,” ungkap Supriati. “Meski demikian, dengan menjalani tes, sebagai kami staf pengajar dapat memastikan kondisi kesehatan kami sebelum memulai pembelajaran secara luring di sekolah,” lanjutnya.

Kepala SLB Negeri Pembina Kupang, Elisabeth Paledan, S. Pd, MM, yang mengawasi langsung jalannya kegiatan pooled-test menyampaikan bahwa selama pandemi, telah setahun lebih kegiatan pembelajaran di sekolah itu dilakukan secara jarak jauh sehingga cenderung kurang efektif. Bahkan cukup banyak pengeluhan dari orang tua.

“Inilah alasan utama mengapa sekolah kami memutuskan untuk ikut dalam program ini. Kebanyakan orang tua sangat setuju dengan pembelajaran secara offline yang terbatas dan terkontrol ini, sedangkan bagi orang tua murid yang belum setuju, anaknya tetap akan kami layani secara jarak jauh,” kata Elisabeth.

BACA JUGA: Cegah Covid-19 Menyebar di Posko Pengungsian, Lab Biokesmas NTT Lakukan Hal Ini

BACA JUGA: Persiapkan Kuliah Offline, Lab Biokesmas Swab Massal di Politani

Elisabeth menambahkan bahwa saat ini SLB Negeri Pembina Kota Kupang telah mempersiapkan diri untuk menyambut pembelajaran secara offline atau tatap muka. Misalnya menyediakan tempat untuk mencuci tangan dan pengawasan terhadap pematuhan protokol kesehatan.

“Terima kasih kepada pihak Lab Biokesmas NTT dan Dinas Pendidikan Provinsi NTT yang telah mengikutsertakan sekolah kami dalam program ini, sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap pendidikan khususnya pendidikan untuk sekolah luar biasa,” ujar Elisabeth.

Stormy Vertygo, salah seorang staf laboran Biokesmas NTT mengatakan bahwa pengambilan sampel swab hanyalah merupakan salah satu tahap atau bagian dari Surveilens Sekolah Bebas Covid-19. Ini merupakan program pendampingan yang digagas Dr. Fima Inabuy, Ketua Tim Lab Biokesmas NTT, dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT.

Stormy menyebutkan, tindak lanjut dari tahap ini adalah diadakannya edukasi dan pendampingan terhadap pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) di area sekolah. “Prokes diharapkan bukan hanya dilihat sebagai sebuah aturan, melainkan kesadaran,” ungkap Stormy.

Warga sekolah mematuhi prokes, demikian Stormy, bukan karena takut tidak akan diperbolehkan memasuki kawasan sekolah, tetapi juga karena telah menyadari betapa pentingnya menjaga keselamatan individu dan juga orang di sekitar mereka dari ancaman virus ini. “Inilah salah satu tujuan utama dari program kami yang sebenarnya,” ujarnya.

Atas nama Lab Biokesmas NTT, Stormy menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah atas kerja sama yang sangat baik selama proses pengambilan swab dan berharap agar pembelajaran luring di sekolah dapat berlangsung secara efektif dan maksimal.

Sementara itu, Dr. Fima Inabuy, selaku Ketua Tim Lab Biokesmas NTT, mengungkapkan bahwa tujuan program ini bukanlah menjamin bahwa setiap warga sekolah tidak akan terkena Covid-19, tetapi menjamin bahwa sekolah tidak akan menjadi kluster penularan Covid-19.

“Pada akhirnya kedisplinan prokes masing-masinglah yang dapat menjamin setiap warga sekolah akan aman dari Covid-19,” ujarnya seraya menambahkan, pihak Lab Biokesmas NTT masih membuka pendaftaran bagi sekolah-sekolah, dan juga kampus di Kota Kupang untuk mengikuti program Surveilens Bebas Covid-19. (aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top