Ayah ke Kebun, Waktu Pulang Temukan Sang Anak Sudah Tewas Tergantung di Dapur | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ayah ke Kebun, Waktu Pulang Temukan Sang Anak Sudah Tewas Tergantung di Dapur


OLAH TKP. Tim identifikasi Polsek Waigete, dipimpin Kapolsek Ipda Wayan Artawan, dan Paur Identifikasi Polres Sikka, Bripka Kristoforus Suri melakukan olah TKP penemuan korban gantung diri di Wairbukang, RT 17A/ RW 006, Desa Waerterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Rabu (19/5). (FOTO: ISTIMEWA)

PERISTIWA/CRIME

Ayah ke Kebun, Waktu Pulang Temukan Sang Anak Sudah Tewas Tergantung di Dapur


Di Desa Waerterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka

MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Nasib malang dialami Robertus Heri, 33, warga Wairbukang, RT 17A/ RW 006, Desa Waerterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka. Pria dewasa ini ditemukan sang ayah, Heronimus Yoseph, 67, dalam kondisi tak bernyawa dengan posisi tergantung di dapur rumahnya, Rabu (19/5) petang sekira pukul 15.00 Wita.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Polres Sikka, Heri selama ini tinggal bersama ayahnya di Wairbukang. Sebelum peristiwa ini, pada Rabu (19/5) pagi sekira pukul 08.00 Wita, sang ayah Heronimus Yoseph pergi ke kebun. Sementara Heri tinggal sendirian di rumah. Sekira pukul 15.00 Wita, ayahnya kembali dari kebun. Betapa kagetnya sang ayah ketika menemukan si buah hati dalam posisi tergantung di dapur dengan seutas kabel listrik warna bening melilit di leher korban. Tanpa berlama-lama, Yoseph langsung menurunkan Heri dari gantungan itu. Hanya saja, begitu diturunkan, Heri sudah dalam kondisi tak bernyawa.

“Pada pagi hari ayahnya pergi ke kebun, dan di rumah tinggal Heri sendiri. Sekitar pukul 15.00 Wita ayahnya pulang dari kebun dan dilihat anaknya Heri dalam posisi tergantung di dapur dalam kondisi tidak bernyawa,” ungkap Kapolres Sikka, AKBP Sajimin melalui Kabag Humas Polres Sikka, Ipda Margono, di Maumere, Kamis (25/5).

Margono menjelaskan, sesuai keterangan keluarga korban, sebelum ditemukan meninggal, beberapa hari terakhir Heri tampak gelisah dan merasa takut bahkan lebih banyak berdiam diri. Heri pun jarang berkomunikasi dengan orang lain. Karena itu ketika Heri ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, warga sekitarnya kaget. Keluarga dan warga sekitar sangat menyesalkan sikap Heri yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungkan dirinya di dapur.

Margono menambahkan, atas peristiwa itu warga sekitarpun langsung melaporkan kejadian itu ke Polsek Waigete, Rabu (19/5) sekitar pukul 12.30 Wita. Pihak Polsek Waigete pun langsung menuju ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Adapun saksi yang mengetahui peristiwa gantung diri itu yakni ayah kandung korban Heronimus Yoseph sebagai saksi pertama, Serpiana Dua, 40, dan Bernadus Brebo, 46, sebagai saksi. Ketiga saksi ini merupakan warga Wairbukang, Desa Waieterang, Kecamatan Waigete. “Ketiga orang ini yang dijadikan sebagai saksi beralamat yang sama dengan korban Heri, mereka semua bertetangga,” ujar Margono.

Proses olah TKP, lanjut Margono, dilakukan oleh tim identifikasi dipimpin Kapolsek Waigete, Ipda Wayan Artawan, SH., dan Paur Identifikasi Polres Sikka, Bripka Kristoforus Suri. Pada saat olah TKP itu, kata Margono, pihak keluarga korban menolak untuk melakukan autopsi dan menerimanya sebagai musibah. Sementara hasil visum luar yang dilakukan dokter Puskesmas Waigete, dr. Helena, tidak menemukan tanda mencurigakan di tubuh korban atau tanda-tanda kekerasan.

“Berdasarkan keterangan dokter Helena setelah dilakukan visum tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Pihak keluarga korban juga menolak untuk dilakukan autopsi dan menerimanya sebagai musibah. Korbanpun disemayamkan di rumah keluarga,” pungkas Margono. (Kr5)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top