Tren Paternity Leave: Suami Cuti Setahun Gantikan Istri Rawat Anak | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Tren Paternity Leave: Suami Cuti Setahun Gantikan Istri Rawat Anak


TAMASYA. Seorang ayah yang menggendong anaknya tengah didokumentasikan oleh sang ibu. Tepatnya ketika berwisata di pantai di Sokcho, Korea Selatan, saat liburan akhir pekan pada 2 Mei 2020. (FOTO: ED Jones/AFP/JPC)

GAYA HIDUP

Tren Paternity Leave: Suami Cuti Setahun Gantikan Istri Rawat Anak


Merawat anak adalah tanggung jawab ibu. Tugas ayah adalah bekerja. Namun, pada era modern sekarang ini, konsep itu tak berlaku. Di negara maju, perusahaan memperbolehkan lelaki untuk mengambil paternity leave alias cuti untuk merawat anak.
———-

CHOI Sang-min kaget ketika pengajuan cutinya disetujui dengan mudah. Bukan apa-apa, masalahnya, dia mengambil untuk merawat anak alias atau paternity leave. ’’Ini tidak seperti yang saya bayangkan karena saya dengar ketika kolega saya mengajukan hal yang sama beberapa tahun lalu, dia justru dipanggil ke ruangan bos untuk dinasihati,’’ ujar pegawai 37 tahun tersebut.

Namun, kini situasinya beda. Lelaki yang mengambil cuti untuk merawat anak menjadi hal yang biasa. Pria yang bekerja di Gwangju, Korsel, tersebut memiliki anak yang masih berusia setahun. Dia ingin merawatnya sendiri.

Hal serupa juga terjadi pada Yoon Hyo-suk. Ayah dua anak itu pernah mengambil cuti setahun dari perusahaan periklanan di Seoul selama setahun pada Juli 2019. Saat itu putranya berusia 2 dan 5 tahun. ’’Beberapa orang mencoba berbicara kepada saya terkait hal ini. Namun, sudah tidak ada lagi yang bergosip tentang mengapa pria harus cuti untuk menjaga anak,’’ tegas Yoon seperti dikutip Yonhap.

Paternity leave sedang tren di negara-negara maju. Berbeda dengan cuti hamil dan melahirkan yang hanya 3 bulan, jangka waktu cuti itu lebih panjang. Paternity leave diambil ketika sang suami ingin mengambil tongkat estafet kepengurusan anak dari istrinya. Di Korsel, ketika anaknya sudah besar, cutinya disebut childcare leave.

Pemerintah Jepang, Korsel, AS, dan beberapa negara maju mendukung penuh cuti itu. Jepang dan Korsel dikenal sebagai negara penduduk yang gila kerja. Lewat cuti tersebut, diharapkan biduk rumah tangga menjadi lebih stabil. Ujung-ujungnya, pasangan bisa menambah momongan. Hal itu penting karena angka kelahiran di Jepang dan Korsel terbilang rendah.

Berdasar data Kementerian Tenaga Kerja, pekerja di Korsel yang mengambil paternity leave pada 2020 naik 23 persen. Ada 27.423 pegawai swasta yang mengajukan cuti tahun lalu. Itu dua kali lipat lebih tinggi daripada pada 2017 yang hanya 12.042 orang. Sementara itu, childcare leave naik 6,5 persen. Pemerintah Korsel memperbolehkan pekerja mengambil cuti setahun untuk merawat anak usia 0–9 tahun.

’’Semakin muda kelompok usia Anda, Anda tidak menganggap bahwa membesarkan anak sebagai suami berarti membantu istri, tetapi sebagai tugas bersama yang dilakukan bersama,’’ terang Kwon Me-kyung, seorang peneliti di Institut Perawatan dan Pendidikan Anak Korea (KICCE).

Di AS, meski belum tinggi, tren tersebut sudah menjamur. Sosok yang terkenal adalah anggota Kongres Demokrat dari Texas Colin Allred. Pada 2019, dia adalah anggota kongres pertama yang mengambil paternity leave. Dia merupakan anggota kongres pertama yang jujur mengambil cuti merawat anak. Tahun ini ketika anak keduanya lahir, Allred sekali lagi mengambil cuti itu. Dua anggota kongres lain juga sudah mengikuti jejaknya. Salah satunya adalah Seth Moulton dari Massachusetts.

Presiden AS Joe Biden melihat bahwa cuti untuk merawat anak memiliki banyak manfaat. Dalam pidato pertama di kongres, dia bahkan mengajukan proposal untuk memberikan gaji pada pekerja federal yang mengambil cuti tersebut.

Biden mengalokasikan USD 225 miliar untuk satu dekade ke depan. Jika dilakukan secara bertahap, pekerja bisa mendapatkan USD 4 ribu sebulan dengan maksimal total cuti berbayar 12 pekan. Itu bukan hanya untuk merawat bayi, melainkan juga untuk merawat anggota keluarga yang sakit.

Ambil Cuti, Jepang Beri Insentif Suami

Etos kerja warga Jepang tak perlu diragukan. Jumlah penduduk yang meninggal karena jam kerja berlebih cukup tinggi. Salah satu efeknya, perempuan enggan menambah momongan karena semua hal terkait rumah dan anak dibebankan pada mereka.

Untuk mengatasi hal tersebut, Jepang menerapkan aturan perundang-undangan yang baru. Aturan itu membuat para ayah bisa cuti lebih fleksibel untuk bisa ikut membantu merawat anaknya. Mereka bisa mengambil cuti hingga sebulan, dalam periode 8 pekan setelah kelahiran anaknya.

Dilansir HRM Asia, RUU baru tersebut merevisi undang-undang terkait pengasuhan anak dan cuti pengasuhan keluarga. Tujuannya, mendorong partisipasi ayah dalam membesarkan anak sehingga mendukung istri mereka serta meningkatkan jumlah partisipasi perempuan di dunia kerja.

Pada aturan lama, Ayah diharuskan mengajukan cuti sebulan sebelumnya. Nah, di aturan baru, akan dikurangi menjadi dua minggu sebelumnya. Cuti juga bisa diambil dalam dua gelombang. Mereka juga mendapatkan tunjangan asuransi kerja yang setara dengan 67 persen gaji ketika bekerja biasa.

Pekerja lelaki yang mengambil cuti untuk merawat anak di Jepang dulu jarang terjadi. Namun, kini hal itu sudah biasa. Pada 2020, Menteri Lingkungan Shinjiro Koizumi sempat menjadi pemberitaan ketika mengumumkan cuti dua pekan untuk merawat anaknya.

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan hanya 3 persen ayah di Jepang yang cuti ketika anaknya lahir. Karena itu, pemerintah memberikan berbagai kemudahan dan insentif agar para ayah bersemangat mengambil cuti untuk merawat anak. Targetnya, pada 2025, ada 30 persen pekerja lelaki yang mengambil paternity leave. (sha/c12/bay/JPG)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya GAYA HIDUP

To Top