Kepatuhan Masyarakat akan Prokes, Kunci Memutus Rantai Pandemi Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kepatuhan Masyarakat akan Prokes, Kunci Memutus Rantai Pandemi Covid-19


Waldetrudis Neno Kosat. (FOTO: DOK. PRIBADI)

OPINI

Kepatuhan Masyarakat akan Prokes, Kunci Memutus Rantai Pandemi Covid-19


Oleh: Waldetrudis Neno Kosat *)

PANDEMI Covid-19 menjadi tantangan besar bagi dunia saat ini. Pemerintah turut mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia dengan mengeluarkan berbagai peraturan. Salah satunya adalah kebijakan melalui Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1591/2020 tentang Protokol Kesehatan (Prokes) di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Namun kebijakan  tersebut  sampai  saat  ini  belum membuahkan hasil yang berdampak positif karena angka penyebaran Covid-19 masih menunjukkan grafik yang fluktuatif. Akar dari peningkatan angka Covid-19 ini disebabkan oleh ketidakpatuhan  masyarakat  terhadap  protokol kesehatan Covid-19. Masyarakat cenderung acuh tak acuh terhadap peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah.

Harlianty dkk (2020) berpendapat bahwa kepatuhan berkaitan dengan kesadaran diri (awareness) seseorang terhadap bahaya Covid-19. Kesadaran akan Covid-19 akan membuat individu mempersepsikan Covid-19 sebagai penyakit yang berbahaya bagi kesehatan sehingga individu melakukan tindakan pencegahan. Kesadaran merupakan faktor signifikan yang mempengaruhi tingkat kepatuhan (Shon dkk, 2016). Perawat adalah salah satu tenaga kesehatan dengan jumlah besar dalam pusat pelayanan kesehatan, bekerja secara langsung dan terus kontak dengan pasien selama 24 jam, sebagai tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan yang paling sering kontak dengan pasien sekaligus memiliki risiko sangat tinggi tertular virus Covid-19.

Peran perawat dapat dimanfaatkan untuk menjadi edukator masyarakat tentang pentingnya penerapan protokol kesehatan. Ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan disebabkan karena ketidaktahuan masyarakat tentang bahaya Covid-19. Hal tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Mya dkk (2020) yang  mengatakan bahwa untuk mencegah Covid-19, individu harus memiliki pengetahuan tentang penyebab utama, penularan virus, dan tindakan pencegahannya. Realita yang dijumpai adalah masih terdapat pasien, keluarga pasien yang tidak mematuhi protokol kesehatan seperti tidak memakai masker. Apabila diingatkan oleh tenaga kesehatan, respon yang muncul dapat beragam dari menjadi patuh, acuh tak acuh, bahkan marah karena lupa atau sedang tergesa-gesa.

Berbagai upaya penyediaan sarana prasarana juga sudah dilakukan oleh stakeholder fasilitas kesehatan seperti menyediakan tempat cuci tangan di sertai sabun, menyediakan hand scrub, membatasi pengunjung dan keluarga pasien yang mengantar,  memasang tulisan tentang Covid-19 dan bahkan tidak melayani pasien yang tidak memakai masker. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut belum 100 persen dapat menyadarkan masyarakat untuk patuh pada protokol kesehatan. Tantangan dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut adalah masyarakat juga mengalami krisis keteladanan, masih terdapat pemimpin dan tokoh masyarakat bahkan tenaga kesehatan sendiri yang mengabaikan protokol kesehatan. Selain tidak patuh, masyarakat juga bersikap tidak peduli atau acuh tak acuh terhadap protokol kesehatan.

Rachmawan (2020) berpendapat bahwa tingginya jumlah pelanggaran dan terjadi secara masif di masyarakat tidak hanya terjadi di satu tempat tetapi merupakan sebuah  permasalahan  sosial  di  Indonesia  dalam  konteks penanganan Covid-19, namun yang   lebih mengkhawatirkan adalah “ketidakpedulian” atau “acuh tak acuhnya” masyarakat  terhadap protokol kesehatan.

Strategi utama menyadarkan masyarakat bahwa Covid-19 nyata dan dapat menyerang siapa saja, diperlukan kerja sama berbagai pihak bukan saja pemerintah tetapi juga keterlibatan langsung masyarakat. Covid-19 harus kita anggap sebagai musuh bersama. Ketika salah satu pihak berusaha untuk mematuhi protokol kesehatan sedangkan yang lain tidak maka yang sudah memiliki kepatuhan yang baik akan tetap beresiko untuk tertular.

Sebagai seorang perawat yang lebih dipercaya masyarakat, upaya yang dapat dilakukan untuk membangun kepatuhan masyarakat terutama pasien dan keluarga pasien di fasilitas kesehatan dapat dilakukan melalui edukasi di tempat kerja dimana perawat bertugas dan berada.

Edukasi dapat dilakukan melalui berbagai cara. Walaupun upaya pemerintah sudah secara total juga mengupayakan edukasi kepada masyarakat dan fasilitas kesehatan juga sudah melakukan berbagai usaha, namun perawat sebagai seorang figur kesehatan dimungkinkan untuk dipatuhi oleh masyarakat.

Edukasi yang dilakukan harus disertai bahaya yang ditimbulkan jika tertular Covid-19, sehingga menimbulkan rasa takut dari masyarakat terutama pasien. Edukasi oleh perawat disertai dengan bahaya yang ditimbulkan oleh Covid-19 yang dilakukan secara terus menerus akan menambah pengetahuan masyarakat tentang pentingnya protokol kesehatan. Dengan bertambahnya pengetahuan dari masyarakat tentang Covid-19 diharapkan terbentuk pula perilaku untuk mematuhi protokol kesehatan.

Hal tersebut dirasakan lebih efektif karena perawat sendiri sebagai salah satu tenaga kesehatan yang berada digarda terdepan dalam menangani Covid-19. Pasien dan keluarga menjadi patuh karena mendengar edukasi langsung dari perawat yang menangani Covid-19 itu sendiri. Untuk melakukan edukasi terdapat juga kendala yang dihadapi karena adanya jarak antara perawat dan pasien dalam memberikan edukasi, serta penggunaan alat pelindung diri yang  mengurangi esensi dari perjumpaan itu sendiri. Perawat juga cenderung takut untuk melakukan kontak dengan pasien dan keluarga terutama pada pasien yang menunjukkan gejala Covid-19.

Upaya lain dalam rangka membangun kepatuhan masyarakat dengan cara memberi efek jera kepada masyarakat yang kurang mematuhi protokol kesehatan. Sanksi yang diberikan bukan hanya berupa peringatan tetapi sanksi yang tegas.

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.01.07/MENKES/1591/2020 tentang Protokol Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam Rangka Pencegahan Dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dikatakan bahwa perlu melakukan pengawasan dan memperingatkan tenaga kesehatan,   tenaga non kesehatan,  pasien,  dan  pengunjung  yang  tidak  mematuhi  protokol kesehatan di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan. Namun apabila hanya dilakukan pengawasan dan peringatan maka baik pasien maupun keluarga akan acuh, jika mengabaikan protokol kesehatan akan minta maaf dan masalah selesai. Maka perlu adanya sanksi berupa materi yang dikorbankan sehingga pasien dan keluarga cenderung mengingat pengorbanan tersebut, dengan demikian akan patuh pada protokol kesehatan yang berlaku.

Hal tersebut perlu mendapat dukungan dari pemerintah sendiri, sehingga diperlukan aturan yang tertulis dari pemerintah tentang sanksi yang dapat diberikan kepada pasien dan keluarga yang tidak mentaati protokol kesehatan. Hal tersebut pasti menimbulkan protes dari berbagai kalangan, namun hal ini perlu diambil mengingat bahwa kadang ada kecenderungan dari masyarakat untuk tidak bisa dihadapi dengan sikap yang halus untuk menjadi sadar akan pentingnya protokol kesehatan, dibutuhkan suatu sikap yang tegas yang kelihatannya merugikan namun sebenarnya menyelamatkan banyak orang.

Penulis merekomendasikan beberapa startegi membangun kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan di fasilitas kesehatan adalah perintah dapat membuat aturan atau kebijakan kepada semua pihak dalam hal ini kepada masyarakat terutama pasien dan keluarga di fasilitas kesehatan disertai sanksi yang tegas sehingga “dengan terpaksa” harus mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Sebab dirasa penerapan aturan kebijakan yang berlaku tidak membuat efek jera masyarakat.

Masyarakat dengan leluasa mengabaikan protokol kesehatan yang sebenarnya berefek juga kepada masyarakat sendiri. Perlu konsistensi dari pemerintah untuk menindak tegas masyarakat terutama pasien dan keluarga yang mengabaikan protokol kesehatan, sehingga protokol kesehatan menjadi habitus baru bagi masyarakat yang harus ditaati dan dilaksanakan tanpa adanya bayangan sanksi dari pemerintah melainkan karena kesadaran pribadi untuk hidup sehat. (*)

*) Mahasiswa Program Magister Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

    Sint Carolus Jakarta

*) Email: sfsagusta@gmail.com

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top