Ubah Mindset Bisnis, Gestianus Sino Petani Milenial NTT Ajak Petani Beralih ke Korporasi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ubah Mindset Bisnis, Gestianus Sino Petani Milenial NTT Ajak Petani Beralih ke Korporasi


BERI MOTIVASI. Gestianus Sino, Duta Petani Milenial NTT yang juga pengembang korporasi petani melalui CV GS Organik. (FOTO: HUMAS SMK-PP)

PENDIDIKAN

Ubah Mindset Bisnis, Gestianus Sino Petani Milenial NTT Ajak Petani Beralih ke Korporasi


KUPANG-Guna meningkatkan taraf hidup petani serta mewujudkan transformasi ekonomi, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa petani perlu didorong untuk berkelompok dalam jumlah besar dan berada dalam sebuah korporasi sehingga diperoleh skala ekonomi yang efisien. Ini bisa mempermudah dalam mengakses pembiayaan, informasi, teknologi, dan meningkatkan efisiensi maupun memperkuat pemasarannya.

Hal yang sama juga diungkapkan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) ini mengajak para petani untuk menjadikan korporasi petani sebagai prioritas utama dalam menggerakkan kemajuan pembangunan, mandiri, dan modern. “Korporasi adalah wadah yang memayungi aktivitas petani. Melalui korporasi, pembangunan pertanian modern dari hulu sampai hilir dilakukan. Lembaga ini berbadan hukum. Kelembagaan yang dulunya sebagai poktan ataupun gapoktan naik kelas jadi korporasi,” ungkap Mentan yang akrab disapa SYL ini sebagai dalam keterangan tertulis Humas SMK-PP Negeri Kupang, Senin (24/5).

Menurutnya, masalah utama petani di Indonesia adalah sekadar bertani dan bekerja. Tanpa mempertimbangkan orientasi laba. Akibatnya, anak petani enggan turun ke sawah, karena melihat bapaknya sudah bekerja keras di sawah berbulan-bulan, tapi hanya cukup untuk makan.

Senada dengan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, saat ini bukan lagi zamannya petani bekerja dan berusaha tani sendiri-sendiri. Harus berjamaah atau bersama-sama. “Awali dari kelompok-kelompok tani untuk membentuk korporasi petani. Saham korporasi dari petani,” ungkap Dedi.
.
“Petani tidak lagi sendiri-sendiri. Korporasi petani akan menjaga setiap anggota mendapat laba yang sama. Bilamana merugi, risikonya dibagi ke seluruh pemegang saham, sehingga kerugian tidak terasa. Pertanian Indonesia ke depan harus berbasis korporasi yang dikelola dengan manajemen profesional,” tandas Dedi.

Pandangan tersebut juga dikemukakan Gestianus Sino, seorang wirausaha pertanian milenial yang sukses mengembangkan korporasi petani melalui CV GS Organik. Sosok petani sukses yang juga Duta Petani Milenial asal NTT ini pun tak hentinya mengajak para petani dan penyuluh di Provinsi NTT, khususnya di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Malaka, dan Belu untuk mengembangkan usaha taninya ke arah korporasi.

Hal ini dikemukakan Gestianus saat menjadi narasumber pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh yang diadakan oleh Kementan dan Komisi IV DPR RI, di Hotel Nusantara, Atambua, Kabupaten Belu, akhir pekan lalu.

Duta Petani Milenial yang akrab disapa Gesti ini berupaya untuk mengubah mindset petani yang awalnya hanya menanam lalu menjual menjadi petani yang memiliki inovasi dan memanfaatkan mekanisasi dalam budidaya. “Petani saat ini harus menguasai pertanian dari hulu ke hilir. Pertanian ini adalah sektor yang sangat menjanjikan. Buktinya, sektor pertanian tetap bertahan walau pandemi Covid-19 meluluhlantahkan berbagai usaha lainnya,” kata Gesti.

Gesti mengungkapkan, ia memiliki misi bahwa kelembagaan yang ia bangun akan terus meningkat luas lahannya agar memberi dampak dan produksi yang lebih besar. Ia pun terus meningkatkan akses pasar melalui penjualan online, memperbesar skala usaha dengan akses perbankan.

“Melalui korporasi, kita perbaiki manajemen pertanian, ciptakan efiensi usaha tani dengan mekanisasi, penggunaan benih unggul, mengurangi penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik, integrated farming serta tidak ada monokultur lagi,” saran Gesti. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top