AS Ungkap Laporan Intelijen Soal Asal Usul Covid-19, Tiongkok Berang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

AS Ungkap Laporan Intelijen Soal Asal Usul Covid-19, Tiongkok Berang


ILUSTRASI. Virus Korona (JawaPos.com)

NASIONAL

AS Ungkap Laporan Intelijen Soal Asal Usul Covid-19, Tiongkok Berang


Ungkit Kemunculan Awal Covid-19 di Wuhan

JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Asal usul virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 kembali dipertanyakan. Berdasar laporan intelijen Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya dirahasiakan, virus yang mengakibatkan pandemi hampir di seluruh dunia tersebut telah muncul lebih awal.

Laporan itu menyebutkan bahwa tiga peneliti dari Institut Virologi Wuhan (WIV), Tiongkok, sakit cukup parah sejak November 2019 sehingga harus dirawat di rumah sakit. Sementara Tiongkok melaporkan kepada WHO adanya virus SARS-CoV-2 di area tersebut 8 Desember 2019.

”Gejala sakit sesuai dengan Covid-19 dan penyakit musiman pada umumnya,” bunyi perincian laporan lembar fakta yang dikirimkan kepada Departemen Luar Negeri AS di akhir era kepemimpinan mantan Presiden AS Donald Trump. Wall Street Journal (WSJ) dan beberapa media lainnya merilis laporan tersebut Minggu (23/5). Laporan itu keluar ketika WHO sedang mendiskusikan langkah selanjutnya yang akan diambil untuk menyelidiki asal muasal SARS-CoV-2.

Hal tersebut kian mendorong seruan agar ada penyelidikan komprehensif terkait dugaan virus SARS-CoV-2. Indikasi bahwa Covid-19 berasal dari dalam laboratorium dan lolos ke luar kembali mencuat. Lab di Wuhan itu memang menjadi pusat penelitian virus korona dan patogen lainnya. Kebenaran dari laporan tersebut masih diperdebatkan. Sebab, mereka mendapatkan data dari pihak asing.

Direktur Wuhan National Biosafety Lab Yuan Zhiming langsung menampik dugaan itu. Sebagai bagian dari WIV, Yuan menilai laporan tersebut hanya sensasi. ”Saya sudah membaca laporan tersebut dan itu benar-benar sebuah kebohongan. Klaimnya tidak berdasar,” tegasnya seperti diunggah Global Times kemarin (24/5).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian juga mengeluarkan bantahan. Dia menuding AS meningkatkan tudingan teori kebocoran laboratorium. ”Melalui kunjungan lapangan yang mendalam di Tiongkok, para pakar sepakat bahwa tudingan kebocoran laboratorium itu sangat tidak mungkin,” cetusnya.

Hingga saat ini belum diketahui asal mula virus penyebab Covid-19 tersebut dan yang menjadi perantaranya. Yang jelas, virus itu sudah bermutasi dan mengakibatkan banyak nyawa terenggut. Angka kematian akibat Covid-19 di India, misalnya, sudah mencapai 300 ribu jiwa. Ada tambahan 100 ribu kematian kurang dari sebulan karena tsunami penularan belakangan ini. Para ahli meyakini bahwa jumlah riil di lapangan lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak dilaporkan.

Hal serupa terjadi di beberapa negara Asia lainnya meski tak separah di India. Jepang misalnya. Mereka menggenjot angka vaksinasi di Tokyo dan Osaka. Sebab, di dua wilayah tersebut terjadi lonjakan kasus yang cukup tinggi. Militer dikerahkan untuk membantu. Mereka membuka pusat-pusat vaksinasi yang bisa melayani ribuan orang per hari. Lansia menjadi prioritas utama.

Di Tokyo saat ini rata-rata penularan adalah 650 kasus per hari. Di Osaka banyak kasus yang membutuhkan perawatan. Rumah sakit mulai kehabisan ruangan dan ventilator. Situasi penularan bisa memburuk saat Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade musim panas Juli nanti.

Saat ini hanya 1,9 persen penduduk Jepang yang sudah divaksin penuh. Penyebabnya adalah jadwal vaksinasi mereka yang terlambat dibanding negara lain. Selain itu, pemenuhan stok menjadi masalah tersendiri. Total ada sekitar 700 ribu infeksi dan 12 ribu kematian akibat Covid-19 di Jepang.

Korban Covid-19 bukan hanya rakyat biasa, tapi juga tenaga kesehatan. WHO mengungkapkan bahwa setidaknya 115 ribu tenaga medis telah meninggal gara-gara Covid-19. Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan agar ada peningkatan vaksinasi secara masif di semua negara.

”Banyak petugas kesehatan sejak awal krisis merasa frustrasi, tidak berdaya, dan tidak terlindungi dengan kurangnya akses ke alat pelindung diri dan vaksin,” tegasnya dalam pertemuan tahunan WHO.

Ghebreyesus menjelaskan bahwa 75 persen vaksin Covid-19 hanya dikuasai sepuluh negara. Hal itu adalah ketidakadilan yang memalukan dan membuat pandemi berlangsung kian lama. Jika didistribusikan secara merata, jumlah vaksin yang sudah dipakai saat ini cukup untuk semua tenaga kesehatan dan lansia secara global. (sha/c9/bay/JPG)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top