Cerita di Balik Kasus Kematian Marsela Bahas, Harapan Memperbaiki Kehidupan Ekonomi Keluarga Pupus | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Cerita di Balik Kasus Kematian Marsela Bahas, Harapan Memperbaiki Kehidupan Ekonomi Keluarga Pupus


DUKA MENDALAM. Yonatan Bahas dan Fransina Sa, ayah dan ibu kandung dari korban pembunuhan Marsela Judika Bahas ketika di kediamannya di Tanaloko, Kelurahan Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Senin (24/5). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Cerita di Balik Kasus Kematian Marsela Bahas, Harapan Memperbaiki Kehidupan Ekonomi Keluarga Pupus


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Yonatan Bahas dan Fransina Sa merupakan pasangan suami istri yang hidup di Tanaloko, Kelurahan Oenesu, RT 09/RW 05, Kupang Barat, berusaha memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan agar kelak nanti bisa sukses dan merubah ekonomi keluarganya.

Niat itu terus terbayang dalam kehidupan kedua orang tua itu ketika melihat sang putrinya Marsela Judika Bahas pulang sekolah. Marsela adalah anak sulung dari tiga bersaudara dan kini menjadi siswa Kelas XI salah satu SMA Negeri di wilayah Kupang Barat.

Putri sulung itu, dimata keluarga, dinilai sebagai anak yang taat kepada orangtua. Rajin dan tidak pernah alpa soal urusan keagamaan. Melihat anak gadis Yonatan itu, keluarga mengharapkan kelak nanti ia bisa menjadi orang yang sukses dan sukses merubah kondisi ekonomi keluarganya itu.

Marsela Judika Bahas yang sehari-hari disapa Sela juga sangat menyayangi kedua adiknya, yakni Daniel dan Julita yang masih kecil.

Sela tumbuh menjadi remaja, membuat kedua orangtuanya terbantu karena kesehariannya sudah bisa diharapkan dalam urusan rumah tangga. Ayah dan ibunya yang berprofesi sebagai tukang dan ibu rumah tangga menginginkan untuk terus memberikan kesempatan berpendidikan hingga perguruan tinggi.

Untuk mewujudkan keinginan dan mimpi keduanya itu, dengan kesederhanaan yang ada, mereka terus berusaha menyiapkan uang kepada ketiga anaknya untuk biaya sekolahnya. Meski sedikit dan bahkan hampir tidak ada, namun kerja keras sebagai tukang dan petani pun terus dilakukan.

Namun siapa sangka, anak gadis kelahiran 19 Mei 2003 silam itu harus pergi untuk selamanya, tanpa pamit dan pesan untuk kedua orang tuanya. Sela meninggal tak wajar ketika jasad putri kesayangan Yonatan dan Fransina ini ditemukan di lahan kebunnya oleh warga setempat.

Sela diduga menjadi korban pembunuhan dan pemerkosaan dari aksi sadis yang dilakukan tersangka Yustinus Tanaem alis Tinus alias YT (42), warga Camplong, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang pada Februari 2021 lalu.

Rasa kehilangan terus mewarnai kehidupan keluarga kecil itu. Mimpi merubah status dan kondisi ekonomi keluarga yang diharapkan kedua orangtuanya itu pupus sudah.

Trauma akibat peristiwa itu pun terus terbayangkan dalam kehidupan sehari-harinya pasca meningalnya anak kesayangan mereka itu karena mereka merasa tidak memiliki masalah dengan siapa pun. Tiba-tiba saja salah seorang anggota keluarganya dibunuh.

“Sebelum mendapatkan pelaku kami sangat takut bahkan hingga sekarang, kami belum bisa panen hasil kebun karena pelaku masih berkeliaran dan takutnya pelaku juga mau bunuh kami,” ungkap Yonatan.

Yonatan menyebut tidak pernah mengenal bahkan tidak pernah melihat pelaku. Selain itu dirinya sebagai orang tua tidak pernah melihat atau rasa curiga terhadap anaknya memiliki pacar. “Sebagai seorang ayah, saya sangat kenal dengan anak gadis, bagaimana tingkahnya jika ada kekasih tetapi sikap dan perilaku labil tidak pernah ada dalam diri anak saya,” kata Yonatan.

Dikatakan peristiwa tersebut sangat terpukul karena korban merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan sudah menjadi tulang punggung keluarga. Sela sudah bisa membantu meringankan pekerjaan rumah sehingga yang bisa harapkan adalah dia.

“Kami yakin dia bisa sekolah dan merubah kondisi kehidupan kami ini pak, jika dia diizinkan terus hidup bersama kami,” sebut Yonatan dengan tatapan mata berkaca.

Fransina Sa yang mendampinggi suaminya dengan mengenakan baju lengan panjang berwarna hijau dan celana pendek hitam tampak sangat sedih ketika mengisahkan kembali putri sulungnya itu.

Dimata keluarga, menurut Fransina, korbam menjadi tulang punggung keluarga karena memiliki tugas sebagai anak gadis untuk membereskan rumah pada pagi dan sore hari, bahkan menyediakan makanan dan menimba air untuk kebutuhan makan minum. Sela juga bisa membantu memindahkan sapi milik keluarga itu yang diikat di kebun.

Dikisahkan bahwa Sela keluar dari rumahnya dengan tujuan memindahkan sapi di kebun, namun waktu sudah malam, ia tak kunjung pulang. Rasa kegelisahan pun timbul dan seisi rumah mulai melakukan pencarian ke tetangga terdekat.

Upaya pencarian tidak berhasil, bersama warga sekitar melaporkan ke pemerintah setempat dan bersama warga mulai melakukan pencarian. Hujan yang saat itu sedang gerimis, tidak menyurutkan warga untuk mencari Sela.

Sudah semakin larut malam, pencarian dihentikan dan baru dilanjutkan keesokan harinya dan berhasil ditemukan warga di lebun dalam kondisi meninggal dunia. “Kami karena cari hari pertama tidak ditemukan jadi kami rencana ke tim doa untuk doa cek. Saat kami sampai di tengah jalan, mereka telepon bahwa Sela sudah ditemukan tetapi sudah meninggal. Saya waktu itu, dan sampai sekarang tidak terima karena anak saya dibunuh. Saya yakni dia tidak bersalah tapi kenapa pelaku pelakukan dia seperti itu?” kata Fransina yang mengaku sangat tersakiti dengan peristiwa ini. “Saya liat itu orang punya foto saya sangat emosi. Saya bilang ini jahanam. Saya sangat pikiran dengan anak saya, dia salah apa lalu dia dibunuh,” tandas Fransina.

Dikatakan, keseharian putrinya itu keluar dari rumah hanya ke sekolah dan kegiatan gereja saja. Saat pulang sekolah pun, Sela malah bergegas untuk menyelesaikan tugas rumahnya. “Sela menjadi tulang punggung keluarga dan setiap hari dia ke sekolah pulang langsung masuk rumah. Kecuali ada gereja dan katekasasi di sekolah baru dia keluar,” ungkapnya.

Ditambahkan setelah kejadian ini kedua orang tua dan adik-adiknya sangat trauma. Karena sosok anak yang menjadi harapan, tulang punggung, kaka dari adik-adinya itu harus direlakan pergi tanpa sebab dan diperlakukan sangat sadis.

Marsela yang genap 18 tahun pada 19 Mei hanya dirayakan dengan doa bersama agar penyebab kematian anaknya itu bisa terungkap dan pelaku segera dihukum serta mendapat perlakuakn yang sepantas dengan perbuatannya. “Kami percaya kekuatan doa karena kepada Tuhan sajalah yang bisa menjawab doa kami. Ternyata kami tanggal 20 Mei mendapat kabar bahwa pelaku sudah ditangkap dan korbannya bukan hanya Sela,” sebutnya.

Ia mengungkapkan pula bahwa Sela memang memiliki handphone (HP) dan juga memiliki akun facebook dan media sosial lainnya namun sering tidak dibuka karena tidak ada pulsa internet.

“Kami orangtua ini tidak bisa main HP seperti itu, tapi karena ini tuntutan sekolah maka kami beli supaya mereka terus belajar sehingga mereka bisa menambah pengetahuan dan kelak nanti bisa merubah nasib mereka. Tetapi sewaktu meninggal HP hilang hingga saat ini,” tandasnya.

Misteri kematian Sela, hingga kini belum diungkap pihak Polres Kupang dengan alasan masih melakukan pengembangan dan pendalaman terkait motif di balik peristiwa ini.

Kapolres Kupang, AKBP Aldinan RJH Manurung ketika dikonfirmasi terkait motif pelaku menghabisi nyawa korban enggan menjelaskan lebih detail dengan alasan akan disampaikan ketika konferensi pers yang sediannya akan dilaksanakan Selasa (24/5) hari ini.

Terpisah Kasat Reskrim Polres Kupang, AKP Nofi Posu juga mengaku masih melakukan pendalaman terhadap tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh Tinus. “Kami masih mendalami dan kalaj sudah lengkap nanti kita share,” ujarnya singkat. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top