SMK-PP Kupang Ikut Berperan Geliatkan Petani Milenial di Sumba Barat Daya | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

SMK-PP Kupang Ikut Berperan Geliatkan Petani Milenial di Sumba Barat Daya


Poktan Tunas Muda pimpinan Steven Gh. Bora foto bersama di lahan garapan mereka. (FOTO: DOK. SMK-PP NEG. KUPANG)

PENDIDIKAN

SMK-PP Kupang Ikut Berperan Geliatkan Petani Milenial di Sumba Barat Daya


KUPANG-Pengelolaan pertanian maju, mandiri, dan modern merupakan tonggak utama pembangunan pertanian saat ini. Pelibatan petani milenial sebagai generasi penerus pembangunan, penting dilakukan agar pertanian tidak berhenti dan stok pangan akan selalu terjaga dan stabil. Regenerasi petani merupakan salah satu program Kementerian Pertanian (Kementan).

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan menyatakan bahwa kehadiran petani milenial sangat penting. “Masa depan pertanian ada di tangan petani milenial. Oleh sebab itu, Kementan terus menyiapkan petani-petani muda yang andal, mendukung petani-petani milenial di daerah dengan fasilitas pertanian dan alat mesin pertanian yang canggih,” tegas menteri yang akrab disapa SYL itu dalam keterangan tertulis Humas SMK-PP Negeri Kupang, Selasa (25/5).

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi. “Sudah saatnya pertanian dikelola generasi milenial dengan kreativitas dan inovasinya. Sentuhan generasi milenial diharapkan membuat sektor pertanian ke depan menjadi modern. Kementan terus berupaya untuk menyadarkan generasi muda akan pentingnya keberlangsungan pembangunan pertanian. Perjuangan petani-petani terdahulu harus dilanjutkan dan dikembangkan oleh generasi muda,” papar Dedi.

Di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi NTT misalnya, terdapat salah satu kelompok petani muda yang cukup terkenal. Kelompok petani milenial ini telah berdiri sejak 2018. Mengusung nama Kelompok Tani (Poktan) Tunas Muda, Steven Gh. Bora selaku ketua dari Poktan ini mengatakan, sekitar 23 milenial di bawah usia 39 tahun siap untuk melanjutkan pembangunan pertanian di Indonesia umumnya, dan SBD pada khususnya.

Steven, yang merupakan lulusan Sarjana Pendidikan ini mengaku bahwa keputusannya terjun ke dunia pertanian tidak pernah disesalinya. Ia mengungkapkan bahwa produk pertanian lebih bisa menghidupi keluarga dan anak-anak muda di sekitarnya tanpa mengesampingkan profesi guru.

“Kita tidak boleh malu menjadi seorang petani karena orang tua kita bahkan pendahulu kita juga petani. Bahkan kita harus bisa menjadi petani yang melebihi orang tua kita sebelumnya,” ujar Steven memotivasi anggota poktannya.

Poktan Tunas Muda ini bergerak diusaha tanaman tomat, bawang, dan cabai. Mereka sudah mampu memproduksi tomat sebanyak 4 ton, cabai sebanyak 500kg, dan bawang merah sebanyak 50kg dalam pekan ini. “Meskipun bisa dikatakan panen kali ini cukup melimpah, tapi kita tetap belum bisa penuhi kebutuhan pasar. Hal tersebut karena kurangnya alat pengolah lahan hingga alat untuk pasca panen,” ungkap Steven.

Steven juga mengaku bahwa kesuksesan kelompok ini tak lepas dari peran SMK-PP Negeri Kupang yang selalu mendampingi mereka dalam menjalankam budidaya tanaman pertanian dan usahanya. Tak hanya itu, peran salah satu perusahaan benih yaitu Panah Merah sangat berarti karena selain poktan membeli dari mereka, Panah Merah juga melakukan pendampingan mulai dari persemaian, pasca panen hingga pemasaran. Selain itu, Panah Merah juga melakukan pendampingan penerapan irigasi tetes sederhana guna mendukung peningkatan produktifitas pertanian poktan ini. (*/aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top