Ratusan Warga Kota Kupang Terjaring Razia Penerapan Pergub Prokes | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ratusan Warga Kota Kupang Terjaring Razia Penerapan Pergub Prokes


TEGAKKAN PROKES. Para pelanggar saat melakukan pembayaran denda usai terjaring razia operasi Yustisi penerapan prokes di depan Kantor Bupati Lama, Kelurahan Kontein, Kecamatan Kota Lama, Kamis (27/5). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Ratusan Warga Kota Kupang Terjaring Razia Penerapan Pergub Prokes


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Tren kasus Coronavirus Disease 2021 (Covid-19) di NTT masih sangat tinggi. Kondisi ini tidak terlepas dari tidak tertibnya masyarakat dalam mematuhi penerapan protokol kesehatan (Prokes) secara ketat.

Menindaklanjuti Peraturan Gubernur (Pergub) NTT Nomor 49 Tahun 2020 pasal 7 ayat (2) a. butir ke 4 sanksi administrasi Rp 50.000 sampai dengan Rp 250.000, Satuan Pol PP Provinsi NTT bekerjasama dengan Polri-TNI, Dishub, Kemenkes, dan OPD terkait menggelar Oprasi Yustisi, bertempat di depan Kantor Bupati Lama, Kelurahan Fontein, Kecamatan Kota Lama, Kamis (27/5).

Terpanatau dalam oprasi tersebut terdapat ratusan warga Kota Kupang terjaring akibat tidak menerapkan prokes ketat seperti tidak mengenakan masker.

Warga yang hendak melintas, baik pejalan kaki, pengendara motor maupun pengemudi mobil tak lolos dari razia ini. Mereka yang kedapatan melanggar prokes langsung dikenakan denda administrasi Rp 50.000 sampai dengan Rp 250.000. Bagi yang tidak membawa uang dikenakan sanksi sosial berupa push up, bernyanyi dan menghafal Pancasila serta Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

Kepala Sat Pol PP, Cornelis Wadu mengatakan oprasi tersebut berlangsung sejak bulan maret lalu dengan tujuan bisa menekan angka lonjakan penyebaran Covid-19 di NTT, khususnya di Kota Kupang.

Dikatakan, pasca bencana Seroja, warga menganggap bahwa Covid-19 telah selesai dan mulai mengabaikan protokol kesehatan. Sehingga tren kasus hingga saat ini masih sangat tinggi. “Kita lebih tekankan kepada penggunaan masker, pelayanan publik untuk menghindari kerumunan dan tetap menyediakan tempat cuci tangan karena roda ekonomi tetap berlangsung,” katanya.

Tren pelanggan sendiri, menurut Cornelis, sejak tahun 2020 hingga saat ini sudah mulai menurun karena kesadaran warga mulai membaik namun terdapat banyak pemuda serta pengendara yang belum taat.

“Setiap tindakan Yustisi hingga saat ini memberikan efek jera dan memutus informasi bahwa Covid-19 sudah berakhir,” katanya.

Setelah penerapan sanksi, kata Cornelis, diharapkan warga NTT bisa sadar dan kembali menerapkan prokes dimana saja ia berada karena hanya dengan prokes sajalah yang bisa menyelamatkan dan memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19. “Kami berharap dengan penerapan sanksi ini bisa memberikan efek jera karena operasi yustisi tidak mengenal siapa pelanggarnya,” tegas Cornelis.

Alfian, Warga Bakunase yang terjaring razia mengaku kaget ketika diarahkan masuk ke lokasi Kantor Bupati Lama. Dikatakan awalnya berpikir ada pengalihan jalan karena terlihat banyak Sat Pol PP.

Setelah diberhentikan ternyata yang dirazia itu adalah masker. Maskernya memang ada namun karena di dalam mobil sehingga dirinya tidak menggunakan. “Saya di dalam mobil sendirian jadi saya tidak pake. Saya baru pulang dari Bolok dan hendak kembali ke rumah,” ungkap supir dump truck itu.

Terkait pemberlakuan dena tersebut, Alfian mengaku tidak mempersoalkan karena itu sudah menjadi aturan yang mesti diterapkan kepada semua orang agar virus ini dapat berakhir. Namun ia berharap penerapan sanksi itu harus diterapkan secara adil.

“Jangan hanya ini saja yang diterapkan karena kita ini memang pake terus masker namun kebetulan saja melintas dan tidak pake makanya terjaring razia. Banyak orang di luar sana yang tidak pake termasuk pejalan kaki maka harus ditindak juga,” tambahnya.

Ia menilai jika hanya diberlakukan sesaat, menurtnya Sat Pol PP yang menegakan aturan pilih kasih dan terkesan hanya mencari uang tapi tidak memperhatikan dampak dari penertiban itu.

“Banyak orang yang jalan kaki tanpa masker, kenapa itu tidak ditertibkan sedangkan risiko penularannya lebih besar dari pada supir yang duduk dalam mobil,” ungkapnya sambil menunjuk salah satu pejalan kaki yang melintas tanpa memakai masker di sekitarnya. (mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top