Selama Februari-Maret, 4.366 Balita di Sikka Alami Stunting | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Selama Februari-Maret, 4.366 Balita di Sikka Alami Stunting


SELEBRASI. Kegiatan selebrasi dan learning WVI di Lokaria Hotel, Senin (24/5). WVI mengakhiri tugas di Sikka setelah 14 tahun mengabdikan diri di wilayah itu. Salah satu prestasi WVI adalah keberhasilan menekan angka stunting di Desa Duu, Kecamatan Lela. (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Selama Februari-Maret, 4.366 Balita di Sikka Alami Stunting


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Sebanyak 4.366 bayi di bawah lima tahun (Balita) di Kabupaten Sikka mengalami stunting. Data anak stunting ini diperoleh dari hasil penimbangan berat badan anak selama Februari hingga 31 Maret 2021.

Hal ini disampaikan Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Kesehatan Sikka, Helena Kidi Labot saat kegiatan selebrasi dan learning WVI di Lokaria Hotel, Senin (24/5).

Helena mengaku, selain data hasil penimbangan selama Februari-Maret, data anak stunting juga diperoleh dari setiap Puskesmas di Sikka. Dan kasus anak stunting terbanyak berasal dari Puskesmas Nita yang mencapai 408 anak, dan yang paling sedikit dari Puskesmas Nelle sebanyak 3 anak.

Berikut ini total anak stunting masing-masing Puskesmas di Sikka, antara lain:

1. Puskesmas Paga (141 anak stunting)
2. Puskesmas Lekebai (146 anak)
3. Puskesmas Feondari (107 anak)
4. Puskesmas Wolofeo (164 anak)
5. Puskesmas Nanga (121 anak)
6. Puskesmas Bola (130 anak)
7. Puskesmas Habibola (190 anak)
8. Puskesmas Mapitara (177 anak)
9. Puskesmas Watubaing (222 anak)
10. Puskesmas Boganatar (115 anak)
11. Puskesmas Waigete (213 anak)
12. Puskesmas Tanarawa (278 anak)
13. Puskesmas Kewapante (128 anak)
14. Puskesmas Hewokloang (127 anak)
15. Puskesmas Waipare (285 anak)
16. Puskesmas Palue (37 anak)
17. Puskesmas Tuanggelo (24 anak)
18. Puskesmas Koting (91 anak)
19. Puskesmas Nelle (3 anak)
20. Puskesmas Nita (408 anak)
21. Puskesmas Magepanda (278 anak)
22. Puskesmas Kopeta (344 anak)
23. Puskesmas Teluk Maumere (76 orang)
24. Puskesmas Wolomarang (161 anak)
25. Puskesmas Beru (304 anak)

“Angka stunting yang paling banyak berasal dari Puskesmas Nita sebanyak 408 anak, dan yang paling sedikit berasal dari Puskesmas Nelle,” ungkap Helena.

Sementara desa yang tidak mengalami stunting baru adalah Desa Duu, Kecamatan Lela. Desa ini ternyata sejak tahun 2019 hingga tahun 2021 mendapat dampingan langsung oleh WVI.

Atas capaian itu, Helena memberikan apresiasi dan terima kasihnya kepada WVI, karena atas kerja samanya sebagai mitra pemerintah dalam menekan angka stunting di Desa Duu. “Kami patut memberikan apresiasi dan terima kasih kepada WVI yang telah bekerjasama sebagai mitra pemerintah dalam upaya menekan angka stunting di Desa Duu,” ungkap Helena.

Menyinggung soal penanganan terhadap kasus stunting ini, menurut Helena, harus dilakukan secara bersama melibatkan semua elemen masyarakat dengan leading sektornya ada pada Bappeda Sikka. Namun dalam penanganannya harus dilakukan dengan sensitif dan spesifik.

Dikatakannya, Dinas Kesehatan melakukan penanganan spesifik yakni bagaimana melayani keluarga atau kader dalam pemberian makanan untuk bayi dan anak. Selain itu sosialisasi tetap dilakukan bagaimana pencegahan stunting, penanganannya mulai dari ibu hamil, bayi dan balita.

Helena menambahkan, bahwa secara umum faktor penyebabnya adanya riwayat bayi berat lahir rendah (BBLR). Ibu hamil yang kurang energi kronik dan pola asuh.

Dalam upaya melakukan pencegahan stunting, Helena mengimbau agar masyarakat melakukan “Asi Poi” dengan rutin melakukan pemeriksaan 90 tablet verum yang wajib diminum selama hamil, pemberian makanan sesuai umur, dan makanan lokal. (Kr5)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top