Ditkrimsus Polda NTT Ungkap Kasus Investasi Bodong Bernilai Rp 28 Miliar | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ditkrimsus Polda NTT Ungkap Kasus Investasi Bodong Bernilai Rp 28 Miliar


Dirkrimsus Polda NTT, Kombes Pol Johanes Bangun dan Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Rishian Krisna Budhiaswanto memperlihatkan uang tunai hasil sitaan dari tersangka saat konfirmasi pers di Mapolda NTT, Rabu (2/5). (FOTO: INTHO HERISON TIHU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Ditkrimsus Polda NTT Ungkap Kasus Investasi Bodong Bernilai Rp 28 Miliar


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Krimsus) Polda NTT berhasil mengungkap kasus dugaan money game atau investasi bodong tanpa izin Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penyelidikan dugaan tindak pidana pengumpulan dana itu dilakukan PT Asia Dinasti Sejahtera dengan Direktur Utama Muhammad Badrun alias Adun.

Dalam pengumpulan bahan keterangan, telah melakukan klarifikasi terhadap masyarakat yang mengikuti investasi atau membeli paket serta klarifikasi kepada pihak OJK dan ditemukan perbuatan melawan hukum serta alat bukti yang menunjukan telah terjadi pengumpulan dana masyarakat tanpa izin.

Dirkrimsus Polda NTT, Kombes Pol. Johanes Bangun saat menggelar konferensi pers, Rabu (2/6) menjelaskan, dari hasil penyelidikan dan didukung dengan alat bukti, pada 5 Februari 2021 dinaikan status dari lidik menjadi sidik dengan laporan polisi: SPKT-A/253/VI/2020/SPKT.

“Tersangka satu orang atas nama Muhammad Badrun alias Adun (36), alamat jalan Kelimutu RT 05/RW 02, Kelurahan, Ende Kecamatan Ende Tengah Kabupaten Ende,” kata Jo Bangun saat konferensi pers di Mapolda NTT, Rabu (2/5).

Terhadap tersangka dijerat dengan pasal 46 ayat (1) Jo Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia
nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Republik indonesia nomor 10 tahun 1998 barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun
dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp
10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).

Jo Bangun menjelaskan, modus operandi yang dilakukan tersangka Muhammad Badrun dengan mendirikan perusahaan PT. Asia Dinasti Sejahtera. Ia membentuk struktur organisasi yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, kemudian pada 10 Februari 2019 sampai dengan 23 Juli 2020, telah menghimpun dana dari masayarakat tanpa izin BI mapun OJK.

Badrun, demikian Jo Bangun, menawarkan kepada masyarkat paket digital berupa paket Silver, Gold, Platinium, Executive Deluxe dan Super Deluxe, yang mana akan mendapatkan profit dari simpanan dalam jangka waktu tertentu sesuai paket atau produk yang dibeli.

Sejak mulai beroperasi Februari 2019, jumlah orang yang telah menjadi nasabah membeli paket sebanyak 1.800 orang. Ribuan nasabah inise telah melakukan penyetoran uang ke PT. Dinasti Asia Sejahtera melalui rekening BNI Taplus Bisnis dengan nomor 094817**** milik PT. Asia Dinasti Sejahtera.

Total uang nasabah yang sudah berhasil dihimpun tersangka Muhammad senilai 28.078.500.000.

Dalam penyelidikan kasus ini, kata Jo Bangun, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa satu buku salinan akta pendirian perseroan terbatas PT. Asia Dinasti Sejahtera yang dikeluarkan oleh Notaris Nieke Febrina, satu lembar struktur orgsnisasi PT. Asia Dinasti Sejahtera, satu lembar Surat lzin Usaha Perdagangan (SIUP) PT. Asia Dinasti Sejahtera dengan nomor: DPMPTSP.570/31/PK/IVI2020.

Ada pula satu lembar Tanda Daftar Perusahaan perseroan terbatas PT. Asia Dinasti Sejahtera dengan nomor: DPMPTSP/570/187/IV/2020. Uang tunai sebesar Rp 1.139.000.000, aset tidak bergerak berupa tanah dan bangunan, dengan nilai taksiran kurang lebih Rp 17.500.000.000, serta 22 barang bukti lainnya sebagai pendukung dalam pembuktian kasus ini.

Berkas perkara oleh penyidik telah dilimpahkan ke JPU, dan pada 18 Mei 2021 sesuai Surat Kejati NTT Nomor B-1128/N.3.4/Eku.1/05/2021 perihal pemberitahuan hasil penyidikan sudah lengkap (P21).

“Dalam waktu dekat akan dilaksanakan
pengiriman tersangka dan barang bukti ke JPU oleh penyidik,” katanya.

Kapolda NTT Irjen Pol Lotharia Latif melalui Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Rishian Krisna Budhiaswanto mengharapkan kepada masyarakat agar tidak terpengaruh bujuk rayu orang dengan menjanjikan penghasilan atau pendapatan tinggi.

Jika ada oknum yang menawarkan investasi harus mempertanyakan terlebih dahulu administrasinya sehingga tidak terjadi kerugian atau masalah dikemudian hari.

“Bapak Kapolda minta seluruh masyarakat NTT agar tidak tergiur dengan investasi yang beri keuntungan tinggi karena itu penipuan,” tandasnya. (Mg29)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top