Kasek SMAN 1 Kupang: Zaman Boleh Berubah, Pancasila Tetap Harga Mati | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kasek SMAN 1 Kupang: Zaman Boleh Berubah, Pancasila Tetap Harga Mati


KEBERAGAMAN. Para siswa, guru/pegawai dan pimpinan SMAN 1 Kupang melaksanakan upacara peringatan hari lahir Pancasila di sekolah itu, Selasa (1/6). (FOTO: Humas SMAN 1 Kupang)

PENDIDIKAN

Kasek SMAN 1 Kupang: Zaman Boleh Berubah, Pancasila Tetap Harga Mati


Peringati Harlah Pancasila dalam Balutan Busana Daerah NTT dan Nusantara

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Keluarga besar SMA Negeri 1 Kupang, ikut memperingati Hari Lahir (Harlah) Pancasila yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Juni. Dan Selasa (1/6) kemarin, para guru/pegawai dan para siswa termasuk pimpinan sekolah itu menggelar upacara secara terbatas sebagai wujud mematuhi penerapan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 dengan memakai busana adat NTT dan nusantara. Untuk diketahui semua peserta upacara ini adalah mereka yang telah lolos surveilens sekolah bebas Covid-19 oleh Lab Biokesmas Provinsi NTT.

Para guru dan pegawai dan pimpinan sekolah tampil mengenakan busana adat, baik lokal NTT maupun busana daerah nusantara. Sementara para siswa tetap mengenakan seragam sekolah namun mengenakan selendang tenunan NTT.

Kepala SMA Negeri 1 Kupang, Marselina Tua dalam sambutannya mengatakan, peringatan hari lahir Pancasila ini sangat penting meski harus dilakukan secara terbatas. “Kami merasa hal ini sangat penting karena kita hidup di abad 21 dengan kemajuan teknologi. Kalau kita tidak ingat kembali apa makna dan peran Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, suatu saat nanti anak-anak kita tidak memahami apa arti dari Pancasila. Bisa saja sila pertama sampai kelima tidak diingat lagi oleh anak-anak kita, apalagi menjiwai dalam tindakan, karena itu peringatan hari lahir Pancasila ini sangat penting,” ungkap Marselina Tua dalam upacara terbatas di sekolah itu kemarin.

Menurutnya, nilai dari Pancasila wajib diamalkan dalam perilaku kehidupan anak bangsa setiap hari, baik sebagai siswa, sebagai ASN guru/pegawai atau masyarakat dari suatu bangsa Indonesia. “Akan menjadi luntur jika kita tidak memperingati dan mengingat kembali apa fungsi dan makna dari Pancasila. Kita ingat bahwa Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 dari seorang negarawan,, Presiden pertama RI melalui perenungan yang sangat dalam waktu itu ketika Soekarno di buang di Ende. Jadi Pancasila itu bukan diadopsi dari luar, tapi dari kondisi dan keadaan bangsa Indonesia sendiri. Itu disarikan kemudian lahirlah Pancasila,” katanya.

Marsenila menegaskan bahwa nilai-nilai dari Pancasila begitu luhur dan menjadi dasar negara Indonesia. “Oleh karena itu sebagai dasar sebuah negara, kita patut mempertahankan apapun keadaannya, sekalipun kita harus mempertaruhkan nyawa, jiwa, dan raga kita. Slogan saya itu dari dulu itu, Saya Pancasila, Saya Indonesia, NKRI harga mati,” tegas Marselina.

Marselina meminta agar jangan sampai dengan perkembangan teknologi informasi yang makin pesat, lalu melunturkan nilai-nilai Pancasila. “Jangan sampai kita asyik dengan berbagai kemajuan teknologi informasi yang dari luar itu lalu melunturkan rasa cinta kita terhadap Pancasila yang menjadi dasar negara kita. Jadikan Pancasila sebagai kompas atau penunjuk arah dari bangsa ini dalam melakukan pembangunan. Mari kita semua yang hadir hari ini kembali merenung, kembali mengingat, tidak cuma sebatas merenung, tapi tanamkan dalam jiwa, dalam dadamu, getar nadimu, dalam detak jantungmu sampai berhenti, bahwa Pancasila harus tetap harga mati. Marilah kita pertahankan dasar negara kita dengan tugas pokok kita masing-masing,” tandas Marselina.

Marselina menambahhkan, memahami dan memaknai nilai-nilai Pancasila dari sila pertama sampai kelima harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya terus meningkatkan kerukunan beragama walaupun saling berbeda.

“Kita harus hidup rukun, walaupun kita saling berbeda. Generasi muda harus berempati terhadap sesama, jangan individual. Kita berbeda-beda, tapi kita adalah satu. Kita dipersatukan oleh Pancasila. Perbedaan melahirkan keindahan. Jangan persoalkan perbedaan, tapi jadikan perbedaan itu sebagai suatu kesatuan yang indah. Menghargai pendapat orang lain. Saling hargai antara guru dan siswa, harus berkeadilan sosial, yakni adil dalam setiap langkah kehidupan kita. Tanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita hari-hari, bukan sebatas slogan saja,” pinta Marselina.

“SMA Negeri 1 Kupang sebagai salah satu sekolah penggerak di NTT, maka nilai-nilai Pancasila harus nyata dalam interaksi kehidupan, baik di sekolah dan kelas maupun dalam masyarakat. Ingat bahwa zaman boleh berubah, tapi Pancasila harus tetap harga mati,” pungkasnya.

Dalam upacara itu juga para peserta melakukan aubade lagu perjuangan dan parade puisi oleh siswa dan Kepala SMAN 1 Kupang. (aln)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top