11 Persen Lahan Padi Gagal Panen, Bulog Pastikan Stok Pangan Cukup | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

11 Persen Lahan Padi Gagal Panen, Bulog Pastikan Stok Pangan Cukup


Kepala Kantor Wilayah Perum Bulog NTT, Asmal. (FOTO: BORGIAS KOLLO/TIMEX)

BISNIS

11 Persen Lahan Padi Gagal Panen, Bulog Pastikan Stok Pangan Cukup


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Badan Urusan Logistif (Bulog) NTT memastikan bahwa stok pangan untuk masyarakat tetap aman untuk empat hingga enam bulan ke depan, meski ancaman gagal panen mengancang provinsi ini akibat dampak badai Siklon Tropis Seroja. Sesuai data, terdapat lebih kurang 11 persen lahan pertanian warga di wilayah NTT terdampak langsung Siklon Tropis Seroja sehingga tak bisa menghasilkan alias gagal panen.

“Saat ini stok pangan beras yang ada di 11 kantor cabang Bulog NTT tersedia sebanyak 18 ribu ton. Ini cukup untuk kebutuhan masyarakat NTT selama empat bulan bahkan enam bulan ke depan. Jadi kalau persentase lahan padi petani yang gagal panen sebesar 11 persen, maka tidak akan pengaruhi kebutuhan pangan masyarakat,” ungkap Kepala Kantor Wilayah Perum Bulog NTT, Asmal saat diwawancarai TIMEX di Kupang, Kamis (3/6).

Asmal menjelaskan, stok beras yang ada di Bulog NTT bersumber dari produksi lokal dan movnas, yakni perpindahan beras dari Bulog yang berada di wilayah provinsi surplus beras ke Bulog yang berada provinsi minus beras. Khusus Bulog NTT, jelas Asmal, beras dipasok dari Jawa Timur dan Mataram (NTB) juga Sulawesi Selatan. Walau demikian, lanjut Asmal, pihaknya tetap memberdayakan produksi pangan beras lokal.

“Kalau terjadi panen oleh petani NTT, kami tetap melakukan penawaran pembelian hanya saja masyarakat memilih untuk konsumsi sendiri. Karena, rata-rata harga beras yang ada di pasaran NTT jauh di atas harga pembelian pemerintah. Kami setuju petani silakan jual beras atau gabahnya ke pedagang dengan harga yang lebih mahal,” katanya.

BACA JUGA: Bulog NTT Pastikan Stok Pangan Aman Hingga Tahun Baru

Menurut Asmal, jika benar ada gagal panen akibat bencana badai Seroja dan kekeringan seperti yang terjadi saat ini, maka langkah Bulog adalah tetap memasok beras dari Movnas dari Bulog surplus ke Bulog NTT guna memenuhi kebutuhan masyarakat NTT yang tersebar di 11 kantor cabang Bulog.

“Jadi kami tidak kuatir akan terjadi kekurangan pangan beras bagi masyarakat NTT karena selain stok yang ada di Bulog, pedagang- pedagang atau distributor beras yang ada di NTT juga melakukan perdagangan antarpulau dari daerah surplus beras seperti Sulawesi Selatan, NTB, dan Jawa ke wilayah NTT,” kata Asmal.

Menurut Asmal, perdagangan antardaerah saat ini tidak bisa kita bendung lagi. Dengan demikian daerah-daerah yang kekurangan beras akan selalu terisi dengan baik. “Jadi kalau benar sebagian kecil petani padi gagal panen maka persediaan beras tidak akan terpengaruh, khususnya yang ada di Bulog karena kami sudah persiapkan dan menghitung secara cermat kebutuhan ril masyarakat NTT. Jadi Bulog sudah tahu kebutuhan riil masyarakat NTT itu berapa,” jelasnya.

Bulog NTT, demikian Asmal, selalu menjaga persediaan beras untuk empat sampai enam bulan ke depan. Jadi kalau misalnya stok beras sudah dibawah empat bulan, Bulog sudah mengantisipasi dengan meminta tambahan pasokan ke kantor pusat Bulog selaku pengatur distributor beras untuk seluruh wilayah Indonesia.

“Jadi sekali lagi, bagi saya kalau gagal panen 11 persen, Bulog tidak kuatir akan terjadi kekurangan pangan. Mungkin ada pengaruhnya untuk petani lokal yang tadinya tergantung kepada hasil produksi lahannya sendiri. Jadi kalau ada kekurangan maka akan dipenuhi oleh stok pangan yang ada di Bulog dan para pedagang,” pungkas Asmal. (ogi)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top