Terima Kunjungan Mendagri, Bupati Sumba Timur Ungkap Berhasil Tekan Angka Stunting | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Terima Kunjungan Mendagri, Bupati Sumba Timur Ungkap Berhasil Tekan Angka Stunting


Mendagri Tito Karnavian didampingi Ketua Umum TP PKK Pusat menyerahkan bantuan PMT dan diterima Bupati Sumba Timur, Khris Praing yang didampingi Ketua TP PKK Sumba Timur, Kamis (3/6). (FOTO: ISTIMEWA)

PEMERINTAHAN

Terima Kunjungan Mendagri, Bupati Sumba Timur Ungkap Berhasil Tekan Angka Stunting


WAINGAPU, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Republik Indonesia mencanangkan penurunan prevalensi stunting di Indonesia menjadi 14 persen pada tahun 2024. Untuk mewujudkan hal itu, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) meminta pemerintah di daerah, baik gubenur, bupati/wali kota untuk mengambil langkah-langkah konkrit, detail, dan terukur dengan berpedoman pada hasil pemetaan stunting di Indonesia.

Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan, angka stunting di Indonesia pada 2019 adalah sebesar 27,6% dan yang diperkirakan angka tersebut meningkat pada 2020 akibat merebaknya pandemi Covid-19. Pemerintah bertekad, untuk mencapai target 14% pada 2024, dimana setiap tahun harus tercapai penurunan angka stunting sebesar 2,7%. Pemerintah sangat memberi perhatian pada upaya penurunan stunting karena sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

Sedangkan untuk Provinsi NTT, berdasarkan data yang dikeluarkan Kelompok Kerja (Pokja) Pencegahan dan Penanganan Stunting NTT, tren persentasi balita stunting di NTT tahun 2018 – 2020 konsisten menurun.

Catatan penurunan angka stunting di wilayah NTT dari 35,4% tahun 2018 menjadi 30,3% pada 2019, dan konsisten ini terus menurun pada 2020 menjadi 28,2%. Tren persentasi balita stunting di NTT menurun dari tahun 2018 – 2020, karena ada intervensi berkelanjutan dari Pokja Stunting bersama pemerintah daerah di NTT yang bekerja keras menyusuri desa ke desa dan kelurahan di NTT, seiring komitmen gubernur dan wakil gubernur menurunkan angka stunting sejak 2018.

Sementara dalam kunjungan kerjanya ke Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Kamis (3/6), Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian kembali mengingatkan agar pemerintah daerah serius menurunkan angka Stunting.

Dalam sambutannya di Gedung Umbu Tipuk Marisi, Mendagri Tito menegaskan jika kunjungannya merupakan bagian dari menyelesaikan masalah mitigasi bencana yang belum selesai. Untuk itu, ia meminta semua pihak untuk tetap memberikan perhatian agar masyarakat yang menjadi korban bencana benar-benar kembali mandiri.

Dalam kunjungannya ini, juga diserahkan bantuan susu dan pemberian makanan tambahan (PMT) untuk masyarakat melalui Pemkab Sumba Timur yang diterima langsung Bupati Sumba Timur, Drs. Khristofel Praing, M.Si.

Mendagri Tito mengatakan, mengurus orang sehat jauh lebih murah dibandingkan dengan mengurus orang sakit, sehingga kesehatan harus menjadi fokus utama pemerintah daerah.

BACA JUGA: Kunjungi NTT, Mendagri Tito Beri Arahan Terkait Realisasi APBD

Mendagri dalam sambutannya juga menyoroti angka stunting di NTT yang dinilai masih tinggi, yakni di angka 24 persen. Untuk itu, Mendagri meminta pemerintah daerah memberi perhatian dengan memberi nutrisi tambahan, susu, kacang hijau, dan makanan bergizi lainnya.

“Angka yang masih tinggi ini diperlukan keterlibatan semua lembaga untuk mengambil bagian mengurus Stunting,” imbuhnya.

Pada saat yang sama, Ketua Umum Pusat TP PKK, Ny. Tri Tito Karnavian menyerahakan susu, makanan tambahan, dan masker bagi masyarakat Sumba Timur.

Ia menyampaikan terimakasihnya kepada Pemkab Sumba Timur yang sudah melahirkan solusi untuk penanganan stunting di daerah itu. Ia juga menyampaikan bahwa ke depan TP PKK akan melakukan pendataan kembali terhadap seluruh anak balita di daerah untuk penanganan stunting secara bersama-sama.
“Semoga bantuan kami ini bisa menjadi motivasi bagi pihak lain untuk ikut membantu,” harapnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing menyampaikan bahwa sejak 2018 hingga 2020, terjadi penurunan kasus stunting hingga 18 persen. Ia menyebut, penurunan prevalensi stunting pada 2018 ditemukan 39,3%, tahun 2019 turun lagi menjadi 27,1% dan pada 2020 turun menjadi 21,5% atau 4.061 anak.

Menurutnya, pada 2018, Kabupaten Sumba Timur ditetapkan sebagai lokus kabupaten stunting bersama 150 kabupaten lainnya di Indonesia. Untuk mengatasi persoalan tersebut, kata Kris Praing, Pemkab Sumba Timur sangat serius dan sistematis dalam melakukan intervensi guna pencegahan stunting melalui delapan aksi konvergensi pencegahan stunting. Mulai dari analisa situasi atau melakukan identifikasi sebaran stunting, menyusun rencana kegiatan, integrasi intervensi gizi, melakukan rembug stunting, memberikan kepastian hukum bagi desa, memastikan tersedia, dan berfungsinya kader pembangunan manusia serta meningkatkan sistem pengelolaan data. Selain itu, melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita serta melakukan review kinerja pelaksanaan program.

“Harapannya angka stunting ini akan terus turun ke depannya ditambah perhatian dan bantuan dari berbagai pihak dan terus melakukan aksi delapan aksi konvergensi dan intervensi gizi spesifik dan sensitif,” demikian Bupati Khris Praing dalam laporannya ke Mendagri.

Untuk diketahui, Mendagri Tito Karnavian bersama rombongan melakukan kunjungan kerja ke Sumba Timur, Kamis (3/06/21). Kunjungan ini dalam rangka melakukan mitigasi pasca bencana badai siklon Seroja yang melanda NTT awal April 2021 lalu. Mendagri disambut Bupati dan Wabup Sumba Timur, Ketua DPRD Sumba Timur bersama jajaran, dan unsur Forkompimda Sumba Timur. (Mg31/yl)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya PEMERINTAHAN

To Top