Merefleksikan Restorasi Lingkungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Merefleksikan Restorasi Lingkungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia


Vebronia Solo. (FOTO: DOK. PRIBADI)

OPINI

Merefleksikan Restorasi Lingkungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia


Oleh: Vebronia Solo *)

Sejak tahun 1972, tanggal 5 Juni diperingati sebagai hari lingkungan hidup sedunia. Di tahun 2021 ini, tema yang diusung adalah Restorasi Lingkungan. Tema itu semakin spesial dengan deklarasi Dekade Restorasi Ekosistem 2021–2030 oleh Perserikatan Bangsa–Bangsa (PBB). Deklarasi ini menekankan pentingnya aspek-aspek lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan. Karena itu, dalam semangat hari lingkungan hidup, mari kita merefleksikan esensi restorasi lingkungan dan pelaksanaannya di daerah kita.

Restorasi Lingkungan: Definisi dan Tujuan

Restorasi lingkungan adalah upaya memulihkan lingkungan yang telah terdegradasi, rusak, atau hancur ke kondisi normalnya. Hal ini berbeda dengan rehabilitasi lingkungan yang lebih menekankan pada mengubah lingkungan yang rusak ke kondisi yang lebih baik.

Konsep restorasi lingkungan telah berkembang dari waktu ke waktu. Pada periode tahun 1970-1990, konsep restorasi lingkungan begitu parsial; hanya terfokus pada pemulihan ekosistem semata dengan menekankan pemulihan struktur dan fungsi ekosistem. Konsep ini kemudian berkembang seiring meningkatnya kesadaran kita bahwa alam menyediakan daya dukung bagi kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di milenium ini, cakupan restorasi lingkungan menjadi semakin luas. Restorasi lingkungan kemudian memuat upaya-upaya pemulihan fungsi-fungsi ekosistem untuk mendukung keberlangsungan hidup manusia secara sosial dan ekonomi.

Restorasi Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan

Kegiatan-kegiatan pembangunan telah mengubah komposisi dan fungsi-fungsi ekosistem bagi kehidupan manusia. Hal ini mencakup fungsi penyediaan (misalnya air bersih), pendukung (misalnya lewat siklus nutrien), fungsi regulasi (misalnya pengatur iklim), dan fungsi jasa (misalnya lewat kegiatan rekreasi).

Hilangnya fungsi-fungsi ini telah menempatkan kita pada situasi-situasi tidak menguntungkan. Krisis air bersih bisa menurunkan kualitas hidup manusia, produksi pertanian dalam penyediaan pangan, dan meningkatkan potensi penyebaran penyakit-penyakit waterborne. Sementara itu, perubahan iklim telah meningkatkan magnitude dan konsekuensi bencana, seperti kebakaran hutan dan bencana-bencana hidrometeorologi. Siklon seroja mungkin bisa menjadi contoh untuk memahami dampak perubahan regulasi alam. Terkait hal ini, frekuensi siklon tropis dan magnitude badai pernah diprediksikan akan meningkat begitu suhu permukaan air laut semakin menghangat. Selanjutnya, bisa kita amati, setiap bencana menelan korban jiwa, menjedah kegiatan perekonomian, dan berdampak pada kesehatan manusia.

Kerusakan ekosistem tentu akan menghambat kesuksesan pembangunan berkelanjutan. Lingkungan yang rusak akibat pembangunan perlu diperbaiki demi keberlangsungan hidup manusia. Restorasi lingkungan kemudian memainkan peranan penting dalam kesejahteraan kita sebab ekosistem yang sehat menunjang ketersediaan air dan makanan yang kita konsumsi, kesehatan masyarakat, pelestarian budaya yang diwariskan leluhur, dan kenyaman hidup kita.

Karena itu, deklarasi Dekade Restorasi Lingkungan 2021-2030 menekankan bahwa hanya dengan ekosistem yang sehat kita bisa mengembalikan fungsi-fungsi penting ekosistem untuk kesejahteraan manusia. Rentang satu dekade restorasi lingkungan itu sejalan dengan periode pengimplementasian Sustainable Development Goals (SDGs) yang akan berakhir pada 2030. Periode SDGs sendiri menimbang pandangan para ilmuan yang meyakininya sebagai periode dimana kita punya kesempatan untuk mencegah dampak-dampak katastropik pemanasan global.

Program–Program Restorasi Lingkungan

Sejauh ini, negara kita telah berpartisipasi dalam inisiatif-inisiatif global terkait restorasi lingkungan. Pemerintah pusat, misalnya, telah memiliki program-program restorasi hutan, lahan gambut, dan ekosistem mangrove.

Pemerintah daerah biasanya menyesuaikan dengan program-program nasional. Institusi-Institusi teknis, terutama dinas-dinas lingkungan hidup kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur, sejauh ini telah bergiat dalam berbagai kegiatan pemulihan dan perbaikan kualitas lingkungan. Fokus tiap daerah bisa saja berbeda, menyesuaikan karakteristik lingkungan dan isu-isu lokal yang ada. Di Kota Kupang, misalnya, kita pernah punya program restorasi lingkungan seperti pemulihan wilayah pesisir akibat abrasi dengan penanaman mangrove dan pemulihan daerah erosi dengan penanaman pohon di bantaran sungai.

Restorasi lingkungan di wilayah perkotaan tentu tak terbatas pada dua program itu. Sebagai pusat kegiatan ekonomi, ekosistem kota telah mengalami perubahan yang drastis. Ahli fungsi lahan yang masif untuk pemukiman dan berbagai sarana pendukung aktivitas manusia membuat kita kehilangan vegetasi dan keanekaragaman hayati lainnya. Sanitasi yang buruk atau pembuangan limbah tanpa pengelolaan ke lingkungan ikut menurunkan kuantitas dan kualitas air. Selain itu, aktivitas transportasi dan industri bisa berpotensi pada pencemaran udara dan tingginya tingkat kebisingan.

Dampak-dampak tersebut bisa dijadikan dasar bagi desain program-program restorasi lingkungan. Tapi setiap program harus menimbang apa kebutuhan kita atau fungsi ekosistem apa yang mau kita pulihkan sehingga manfaatnya bisa kita nikmati bersama.

Tantangan

Pelaksanaan restorasi lingkungan membutuhkan kerjasama antara pemerintah, swasta, akademisi, dan seluruh komponen masyarakat. Hal ini penting dalam identifikasi akar masalah dan kebutuhan restorasi lingkungan untuk perlindungan lingkungan dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Terkait uraian tadi, beban paling besar mungkin ada pada pemerintah. Namun, dalam merancang program-program restorasi lingkungan, pemerintah bisa saja berhadapan dengan isu-isu seperti terbatasnya sumber daya manusia, dana, dan kerja-kerja lintas sektor yang terintegrasi. Hal ini biasanya berpengaruh pada minimnya penyediaan data bagi decision-making, kemampuan dalam menginterpretasikan data untuk memahami kondisi lingkungan, menetapkan prioritas dan tujuan restorasi lingkungan yang sesuai, dan merancang monitoring dan evaluasi untuk mengukur pencapaian target atau keberhasilan program restorasi lingkungan.

Kendala-kendala tadi menjadi krusial karena kita butuh pendekatan-pendekatan yang holistik dalam mengkaji masalah-masalah lingkungan, serta merumuskan upaya-upaya pemulihan yang adaptif terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan masyarakat dari waktu ke waktu.

Apa yang Bisa Kita Buat?

Menimbang pentingnya restorasi lingkungan, kita perlu melihat apakah ada kerusakan lingkungan di sekitar kita, kemudian mulai merumuskan upaya restorasi apa yang perlu dilakukan. Hal ini mempersyaratkan kemitraan erat antara pemerintah dan seluruh komponen masyarakat.

Lembaga-lembaga teknis di tubuh pemerintah perlu diperkuat lewat peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penyediaan sarana-prasarana untuk penyediaan data dan kajian-kajian yang komprehensif. Akademisi atau organisasi-organisasi kemasyarakatan juga perlu lebih aktif ambil bagian atau didorong peran-perannya dalam memperkuat evaluasi nilai ekologis dan sosial yang penting bagi daerah kita. Partisipasi masyarakat juga perlu diberi ruang karena bisa jadi ada pengetahuan-pengetahuan ekologi tradisional yang dijunjung dalam relasi manusia dan lingkungan. Pengetahuan itu mungkin bisa dimanfaatkan dalam restorasi lingkungan bagi kesejahteraan manusia.

Dengan kerjasama tadi, lingkungan yang sehat bisa kita upayakan lewat restorasi lingkungan untuk pengentasan kemiskinan, membangun kehidupan yang sehat dan sejahtera, menangani isu-isu ketidaksetaraan, memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak, mengendalikan dampak-dampak perubahan iklim, serta target-target lain dalam agenda SDGs. (*)

*) Analis Dampak Lingkungan, Alumni Master Lingkungan The University of Melbourne

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top