BI NTT Inisiasi Program Pelatihan UMKM, Begini Penjelasan Nyoman Ariawan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

BI NTT Inisiasi Program Pelatihan UMKM, Begini Penjelasan Nyoman Ariawan


BI YES. Kepala Perwakilan BI NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja (kedua kiri) bersama Dirut Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho (kedua kanan) serta para pejabat instansi terkait lainnya usai pembukaan program kegiatan BI YES di Sky Leet Aston Hotel Kupang, Rabu (10/6) petang. (FOTO: BORGIAS KOLLO/TIMEX)

BISNIS

BI NTT Inisiasi Program Pelatihan UMKM, Begini Penjelasan Nyoman Ariawan


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT terus memberi perhatian serius terhadap masalah pengembangan ekonomi masyarakat NTT utamanya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang saat ini jumlahnya sangat signifikan Wujud perhatian BI NTT berupa inisiasi program pelatihan UMKM dengan nama Bank Indonesia Young Entrepreneur School (BI YES). Kegiatan ini dibuka Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, di Sky Leet Aston Hotel Kupang, Rabu (10/6) petang.

Program berupa pelatihan bagi para pelaku UMKM NTT mulai dari sisi pengembangan mental, on boarding UMKM hingga akses keuangan melalui perbankan. Selain itu program BI Young Entrepreneur School (BI YES) yang saat ini memasuki angkatan kedua, membantu para pelaku UMKM NTT, mengembangkan kapasitas SDM, produk hingga pemasaran. Walau demikian, program BI YES membutuhkan sinergi berbagai pihak untuk berperan sebagai mentor dalam pembentukan peserta.

Kepala Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat membuka kegiatan BI YES menjelaskan hal mendasar yang mendorong BI NTT menginisiasi program pelatihan UMKM tersebut, yaitu untuk membangkitkan kembali semangat dan komitmen para pelaku UMKM NTT yang lesu akibat terdampak Covid-19.

“Statistik 2016 pengusaha atau UMKM di NTT kurang lebih 437 ribu lebih dan menyerap hampir 82 persen tenaga kerja di NTT. Jadi yang terdampak pandemi adalah UMKM. Dampaknya luar biasa, penurunan omzetnya, revenuenya, dan lain sebagainya termasuk tenaga kerja ini yang membuat kita perlu membangun kembali UMKM,” ujar I Nyoman Ariawan Atmaja pada kegiatan yang dihadiri para pejabat Pemprov NTT terkait dan para pemimpin bank serta para pemimpin organisasi non pemerintah.

Menurut Atmaja, jika berkaca dari pengalaman negara-negara maju, untuk memajukan ekonomi di NTT bahkan Indonesia, maka jumlah pengusaha NTT harus lebih banyak dari pegawai pemerintah. “Di negara-negara maju itu, jumlah NIP (Nomor Induk Pegawai) pengusah lebih banyak dari NIP Pemerintah. Mereka mendorong NIP perusahaan lebih banyak karena mereka berkeyakinan bahwa semakin banyak pengusaha, negerinya semakin makmur. Dan ternyata keyakinan mereka benar,” kata Nyoman Ariawan.

Dijelaskan, sesuai teori ekonomi, filosofi of money ada di pengusaha. Kalau pegawai pemerintah menurut Nyoman Ariawan, penghasilan hampir tidak berubah setiap bulan dibanding penghasilan seorang pengusaha yang terus bertambah seiring perkembangan kemajuan usahanya. “Kalau pegawai pemerintah, gajinya setiap bulan ya itu-itu saja, tapi kalau pengusaha gajinya dobel-dobel. Di Indonesia atau NTTpengusahanya kurang dari 2 persen. Hal ini yang membuat kita ingin membangun usaha lebih banyak lagi,” terang Nyoman Ariawan.

Nyoman Ariawan menyebutkan, program BI YES batch dua yang berlangsung beberapa waktu ke depan melatih dua kelas yaitu kelas basic dan kelas advanced. Jumlah peserta BI YES batch dua sebanyak 150 orang, masing-masing kelas terdiri dari 75 orang. Kedua kelas ini akan mengikuti pelatihan setiap Sabtu dalam Minggu selama tiga bulan.

Kelas basic, jelas Nyoman Ariawan, dikhususkan bagi pengusaha pemula. Kelas basic membutuhkan komitmen kuat untuk membangun usahanya. “Pepatah mengatakan, mantapkan langkahmu satu kali maka selanjutnya akan terbentuk langkah berikutnya. Makanya dalam proses rekrumen di sini, dia membuat rencana bisnis setelah dilanjutkan dengan wawancara komitmennya kayak apa harus punya komitmen yang kuat. Jadi butuh komitmen yang kuat untuk membangun usaha,” katanya.

Sementara kelas advanced, kata Nyoman Ariawan, untuk mereka yang sudah mempunyai usaha tapi perlu mengembangkan usahanya. “Apa bedanya? Kalau basic, dia mulai dari awal. Dia kerja bagaimana memulai bisnis, bagaimana memasarkan, bagaimana mencari pasar, dan lain sebagainya. Kalau kelas advan bagaimana merancang produksinya lebih bagus lagi, kualitas kayak apa, memasarkan kayak apa, bagaimana akses pembiayaan sehingga usahanya menjadi lebih besar,” urainya.

Kehadiran program BI YES batch dua, demikian Nyoman Ariawan, untuk mengaja pengusaha, baik kelas basic maupun advanced untuk memberi motivasi dan membangun semangat serta komitmen berusaha.
“Di sini lengkap dari pemerintah, perbankan, OJK, MUI, Kadin dan organisasi berkompeten lainnya. Jadi kalau masuk kelas ini sebenarnya di sini sangat lengkap. Apa saja syarat syarat administrasi yang harus dipenuhi dengan sertifikasi semuanya tersedia sehingga mereka bisa akses ke perbankan. Jadi kalau tamat dari program BI YES, artinya itu sudah layak dijual karena standar-standar sudah dipenuhi,” katanya.

Nyoman Ariawan mengatakan, pengalaman sebelumnya, 95 persen lulusan BI YES berhasil karena sudah dibekali dengan pengetahuan bagaimana membangun usaha, bagaimana proses produksinya, bagaimana akses perbankan jadi lancar. “Apalagi anak-anak muda yang punya komitmen berusaha,” katanya. (ogi)

Komentar Pembaca

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top